Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memaparkan serangkaian langkah untuk memperkuat arus modal sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Upaya ini ditempuh melalui koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut Perry, Bank Indonesia mendorong peningkatan aliran modal masuk (inflow) lewat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini diharapkan bisa menutup tekanan aliran keluar (outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham.
Advertisement
Di saat yang sama, BI juga aktif membeli SBN di pasar sekunder. Sepanjang tahun berjalan (year to date), nilainya sudah mencapai Rp123,1 triliun.
“Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date adalah Rp123,1 triliun. Kami akan melakukan koordinasi termasuk nanti Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback dan segala macam. Koordinasi sangat erat antara fiskal dan moneter,” ujar Perry dalam keterangan, Rabu (6/5/2026).
Selain itu, BI memastikan likuiditas perbankan tetap longgar agar sektor keuangan mampu menopang aktivitas ekonomi. Di sisi lain, otoritas juga memperketat pembelian valas di dalam negeri.
Batas pembelian USD oleh individu kini diturunkan dari USD100.000 menjadi USD50.000 per orang per bulan. Kebijakan ini diambil untuk meredam tekanan di pasar valas domestik dan telah dikoordinasikan bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Langkah berikutnya adalah memperkuat intervensi di pasar offshore serta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perbankan dan korporasi, terutama yang memiliki kebutuhan valas besar.
Perry menegaskan, pengawasan dilakukan secara intensif dengan melibatkan OJK. Fokusnya, antara lain, pada bank dan korporasi yang memiliki frekuensi tinggi dalam pembelian USD.
“Kami kirim pengawas ke bank-bank yang aktivitas pembelian USD-nya tinggi, berkoordinasi dengan OJK untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga,” kata Perry.
Penerbitan Obligasi Panda bonds
Terkait hal itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah berkomitmen menjaga momentum tersebut melalui koordinasi erat dengan bank sentral, khususnya dalam menjaga likuiditas. Selain itu, stimulus tambahan tengah disiapkan untuk mendorong aktivitas ekonomi pada kuartal II dan ditargetkan mulai berjalan pada 1 Juni.
Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Salah satunya melalui diversifikasi pembiayaan dengan rencana penerbitan obligasi Panda bonds di Tiongkok, yang menawarkan bunga lebih kompetitif sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap USD.
“Diversifikasi pembiayaan ini penting agar struktur pembiayaan kita lebih sehat dan tidak terlalu bergantung pada USD,” ujar Purbaya dalam kesempatan serupa.
Sejalan, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi juga menyoroti arus modal keluar (outflow) yang masih terjadi di pasar keuangan domestik. Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi faktor global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat.
Menurut Friderica, tekanan tersebut bersifat sementara selama fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga.
“Outflow ini lebih dipicu faktor global, terutama kebijakan suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama. Namun jika fundamental kita kuat, arus ini berpotensi berbalik,” ujarnya.
Transparansi Pasar Modal
OJK juga terus memperkuat kepercayaan investor dengan meningkatkan transparansi pasar modal. Data kepemilikan saham kini dibuka hingga level 1%, sementara klasifikasi data investor diperluas dari 9 menjadi 39 kategori untuk meningkatkan granularitas informasi.
Selain itu, regulator telah mengungkap data ultimate beneficial owner serta memperketat ketentuan free float guna meningkatkan likuiditas saham. Langkah-langkah ini dinilai penting untuk memperkuat fondasi pasar modal nasional.
Friderica menambahkan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini mulai lebih mencerminkan fundamental emiten. Meski potensi penyesuaian masih mungkin terjadi, terutama terkait evaluasi indeks global seperti MSCI, dampaknya dinilai hanya sementara.
Di tengah volatilitas global, OJK juga mendorong pendalaman pasar domestik. Dalam satu tahun terakhir, jumlah investor pasar modal meningkat sekitar 5 juta Single Investor Identification (SID). Kenaikan ini menjadi bantalan penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional saat terjadi gejolak eksternal.