Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) berencana meningkatkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam militernya setelah Pentagon menyepakati kontrak baru dan yang diperluas dengan sejumlah perusahaan teknologi terbesar.
Dalam delapan perjanjian dengan Google, OpenAI, Amazon, Microsoft, SpaceX, Oracle, Nvidia, dan perusahaan rintisan Reflection, Pentagon menyatakan bahwa teknologi AI kini akan digunakan untuk semua penggunaan operasional yang sesuai hukum.
Advertisement
"Perjanjian ini mempercepat transformasi militer AS menjadi kekuatan tempur yang mengutamakan AI," kata Pentagon seperti dikutip dari laporan BBC.
Yang mencolok dari daftar tersebut adalah tidak adanya Anthropic, di mana perusahaan itu menyatakan kekhawatiran tentang bagaimana Pentagon dapat menggunakan teknologinya dalam peperangan maupun di dalam negeri.
Anthropic kini menggugat pemerintah atas dugaan adanya tindakan balasan yang diterimanya setelah menolak menyetujui klausul kontrak yang memperbolehkan penggunaan teknologinya untuk segala penggunaan yang sah.
Pada Jumat (1/5), Pentagon menyatakan bahwa bekerja sama dengan banyak perusahaan AI akan membantu menghindari "vendor lock" atau ketergantungan berlebihan pada satu perusahaan teknologi.
"Akses terhadap beragam kemampuan AI dari seluruh ekosistem teknologi AS yang tangguh akan memberi para prajurit alat yang mereka butuhkan untuk bertindak dengan percaya diri dan melindungi negara dari ancaman apa pun," kata Pentagon.
Ekspansi AI dan Konflik dengan Anthropic
Pentagon mencatat bahwa lebih dari satu juta orang di seluruh Kementerian Pertahanan AS telah menggunakan platform AI militer, yaitu sistem terpadu yang menyediakan dan menggabungkan berbagai alat kecerdasan buatan untuk kebutuhan pekerjaan militer, sejak diluncurkan tahun lalu, membantu mereka memangkas waktu pengerjaan banyak tugas dari berbulan-bulan menjadi hitungan hari.
Akses terhadap teknologi canggih menjadi komponen kunci keberhasilan dalam peperangan dan Pentagon telah berupaya membangun kemampuan AI-nya selama beberapa tahun.
Teknologi milik Anthropic, termasuk versi chatbot Claude, masih digunakan di banyak lembaga pemerintah dan pertahanan AS karena perusahaan tersebut merupakan yang pertama menerapkan AI untuk pekerjaan bersifat rahasia.
Namun, awal tahun ini hubungan tersebut memburuk ketika CEO Anthropic Dario Amodei, secara terbuka menyampaikan kekhawatiran bahwa alat AI yang kuat dapat digunakan oleh lembaga pertahanan untuk melakukan pengawasan massal di dalam negeri dan mengerahkan senjata otonom sepenuhnya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam beberapa hari kemudian menetapkan Anthropic sebagai "risiko rantai pasok", yang berarti dianggap terlalu berbahaya untuk digunakan dalam lingkungan pemerintahan.
Gugatan hukum Anthropic terhadap keputusan tersebut diperkirakan akan disidangkan pada bulan September.
Sementara itu, perselisihan ini tampaknya membuka peluang bagi perusahaan AI lain untuk bekerja lebih erat dengan pemerintah dan militer.
Raksasa Teknologi Lain Mengisi Celah
OpenAI menjadi perusahaan pertama yang menandatangani kesepakatan baru dengan Pentagon setelah konflik dengan Anthropic.
Pembuat ChatGPT itu menandatangani kontrak pada akhir Februari. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan bahwa pengumuman Pentagon pada Jumat hanya merupakan formalisasi dari kesepakatan tersebut.
"Seperti yang kami sampaikan saat pertama kali mengumumkan perjanjian ini beberapa bulan lalu, kami percaya bahwa orang-orang yang membela AS harus memiliki alat terbaik di dunia," kata juru bicara OpenAI.
Sementara itu, Gemini milik Google sebelumnya sudah digunakan oleh beberapa bagian pemerintahan, namun ini akan menjadi pertama kalinya chatbot tersebut digunakan untuk menangani pekerjaan pemerintah pada tingkat rahasia.
Awal pekan ini, ratusan karyawan Google, termasuk banyak dari DeepMind—bagian perusahaan yang mengembangkan model dan alat AI—mendesak perusahaan agar tidak memperdalam kerja sama dengan pemerintah dalam sebuah surat yang dikirim kepada CEO Sundar Pichai dan dilihat oleh BBC.
Seorang juru bicara Google tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Adapun SpaceX, kini menjadi perusahaan induk dari xAI, startup AI yang didirikan Elon Musk setelah ia mengakuisisi Twitter. Perusahaan tersebut mengoperasikan chatbot kontroversial Grok, namun secara luas dianggap memiliki kemampuan AI yang kurang maju dibandingkan Anthropic, OpenAI, dan Google.
Perwakilan SpaceX tidak menanggapi permintaan komentar.
Nvidia dan perusahaan rintisan Reflection akan menyediakan model AI open-source mereka, masing-masing Nemotron dan Reflection 70B, untuk digunakan oleh pemerintah. Nvidia tidak menyediakan perangkat keras sebagai bagian dari kesepakatan ini. Nvidia menolak berkomentar dan Reflection tidak merespons permintaan komentar.
Microsoft, AWS milik Amazon, dan Oracle telah lama menyediakan layanan komputasi awan yang dirancang khusus untuk mendukung pekerjaan pemerintah secara daring. Microsoft dan AWS tidak menanggapi permintaan komentar, sementara Oracle menyatakan bahwa kerja samanya di bidang pertahanan memungkinkan Pentagon untuk membangun, menjalankan, dan memperluas penggunaan berbagai model AI sesuai kebutuhan tanpa harus bergantung pada satu penyedia teknologi saja.