Polisi Amankan Sopir Taksi Green SM Diduga Pemicu Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

Saat ini, sopir taksi Green SM itu sudah berada di Polres Metro Bekasi Kota. Pemeriksaan pun dilakukan guna mendalami rangkaian kecelakaan yang terjadi.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 28 April 2026, 16:43 WIB
Taksi Green SM ikut tertabrak KRL di Bekasi Timur. (Liputan6.com/Rifqy)

Liputan6.com, Jakarta - Sopir taksi Green SM yang diduga menjadi pemicu kecelakaan kereta antara KRL dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur dikabarkan selamat. Polisi langsung mengamankan sopir tersebut untuk diperiksa. 

“Benar sekali (sudah diamankan)," kata Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe saat dihubungi, Selasa (28/4/2026). 

Saat ini, sopir taksi Green SM itu sudah berada di Polres Metro Bekasi Kota. Pemeriksaan pun dilakukan guna mendalami rangkaian kecelakaan yang terjadi.  

"Diamankan Polres Metro Bekasi Kota," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Komisaris Utama atau Komut PT Kereta Api Indonesia (KAI) Said Aqil Siradj menyatakan kecelakaan kereta api (KA) jarak jauh dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter di Bekasi, pada Senin 27 April 2026 malam, terjadi akibat kelalaian pengendara taksi di perlintasan sebidang.

Hal ini disampaikan Said Aqil usai menjenguk korban kecelakaan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi, Jawa Barat pada Selasa (28/4/2026). Dia menyebut, kejadian ini sebagai pelajaran bagi semua sopir kendaraan bermotor.

"Semuanya menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua, baik bagi sopir-sopir mobil, pengendara mobil, maupun masinis, semuanya harus mengambil pelajaran yang sangat berharga ini. Karena tidak akan terjadi kalau kita hati-hati atau betul-betul waspada," ujar Said Aqil, Selasa (28/4/2026).

Dia menyampaikan, kendaraan seharusnya tidak melintasi jalur rel ketika kereta sudah dalam jarak dekat.

"Kalau sudah jelas kereta dekat, mobil itu melintas pasti mati mesinnya. Apalagi mobil listrik, mobil apa pun mesinnya mati, pasti. Karena ada getaran dari mesin lokomotif," kata dia.

Said Aqil juga menyebut kecelakaan dipicu oleh sebuah taksi yang menerobos perlintasan.

"Yang salah taksi yang menyeberang," ucap dia.

Menurut Said Aqil, kejadian tersebut turut berdampak pada sistem di lintasan. Ia menjelaskan, keberadaan kendaraan di rel menyebabkan gangguan pada sensor.

"Karena ada taksi itu, kemudian KRL berhenti, maka sensor pun rusak, error. Error," terang dia.

Lebih lanjut, terkait penanganan korban, ia memastikan seluruh biaya pengobatan akan ditanggung oleh KAI.

"Semua ditanggung KAI ini pengobatannya. Ditanggung KAI semua pengobatannya insyaallah," kata Said.

Ia juga sempat menjenguk korban di rumah sakit dan menyebut sebagian mengalami luka, namun dalam kondisi berangsur membaik.

"Yang saya lihat sih ada yang ya sedikit patah sebelah kanan, ada kaki kanan, ada yang perutnya kena, semuanya insyaallah menjadi baik," ucapnya.

Sementara itu, sopir taksi yang diduga menjadi pemicu kejadian dilaporkan dalam keadaan selamat.

"Selamat, selamat. Kan sebelum sampai ketabrak kan paling senggol dikit lah," jelas Said Aqil.

Penyebab Kecelakaan Kereta versi Polisi

Polisi mengungkap penyebab awal kecelakaan yang melibatkan sejumlah kereta api di wilayah Bekasi. Peristiwa itu bermula dari gangguan yang dialami taksi listrik Green SM, yang mogok di perlintasan rel.

Subdirektorat Penegakan Hukum (Subditlaka) Korlantas Polri, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan kendaraan tersebut mengalami masalah kelistrikan saat melintas di perlintasan Ampera.

"Kecelakaan ini diakibatkan dari korsleting atau permasalahan elektrik dari kendaraan taksi roda empat elektrik, ya. Di mana tepat permasalahan itu terjadi di perlintasan Ampera, perlintasan rel kereta api di Ampera," kata Sandhi di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Kendaraan yang berhenti di atas rel itu kemudian tertabrak kereta api. Insiden awal ini sebenarnya hanya menimbulkan kerugian material. Namun, dampaknya meluas karena mengganggu perjalanan kereta lain di jalur tersebut.

Dalam situasi tersebut, sejumlah perjalanan kereta, termasuk KRL, sempat tertahan untuk proses evakuasi insiden awal.

Saat itulah, polisi menduga ada kendala dalam penyampaian informasi di lapangan. Sehingga kondisi di jalur tidak sepenuhnya terkomunikasikan dengan baik ke seluruh rangkaian kereta.

Akibatnya, kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melintas dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam tidak mendapatkan informasi utuh mengenai kondisi di depan. Tabrakan antara KRL yang tengah berhenti dan KA Argo Bromo tak terhindarkan di sekitar Stasiun Bekasi Timur dan menyebabkan korban jiwa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya