Ketergantungan Industri ke China Dinilai Ancam Kedaulatan Strategis Eropa

China saat ini menguasai sekitar 80 persen produksi panel surya dunia, 75 persen baterai, dan 70 persen kendaraan listrik.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 24 April 2026, 16:34 WIB
Pekerja memeriksa gulungan aluminium di sebuah pabrik di Zouping di provinsi Shandong bagian timur China (23/11/2019). Zouping adalah salah satu negara terkaya di negeri ini. Kemakmuran ekonominya bergantung pada pengembangan industri aluminium. (AFP Photo/STR)

Liputan6.com, Beijing - Ketergantungan Eropa terhadap industri dan teknologi China dinilai semakin dalam dan berpotensi mengancam kedaulatan strategis kawasan tersebut, di tengah ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Sejumlah analis menilai, sementara Washington masih terfokus pada dinamika geopolitik yang tidak stabil, Beijing justru menjalankan strategi jangka panjang dengan memperkuat dominasi di sektor industri masa depan.

Pendekatan ini dilakukan melalui investasi besar-besaran pada teknologi energi baru, manufaktur canggih, serta infrastruktur global.

Data industri menunjukkan bahwa China saat ini menguasai sekitar 80 persen produksi panel surya dunia, 75 persen baterai, dan 70 persen kendaraan listrik. Dominasi tersebut tidak hanya mencerminkan kekuatan pasar, tetapi juga kontrol signifikan terhadap rantai pasok energi dan mobilitas global generasi berikutnya.

Bagi Eropa, kondisi ini menimbulkan risiko strategis, terutama dalam konteks transisi energi hijau yang tengah didorong oleh Uni Eropa. Ketergantungan pada impor komponen utama dari China, seperti silikon dan litium, dinilai menggantikan ketergantungan sebelumnya terhadap energi fosil dari Rusia, dikutip dari laman Brussel Signal, Minggu (26/4/2026).

Selain sektor energi, ekspansi global China juga terlihat melalui investasi infrastruktur. Beijing tercatat terlibat dalam proyek pembangunan dan pengelolaan pelabuhan di lebih dari 90 negara. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat posisi dalam jalur perdagangan internasional serta memperluas pengaruh ekonomi.

 

 

Pengembangan Teknologi dan Kecerdasan Buatan

Ilustrasi AI. Credit: sdecoret/depositphotos.com

Di sisi lain, ambisi China untuk meningkatkan peran mata uang renminbi sebagai alternatif cadangan global turut menjadi perhatian. Jika upaya ini berhasil, sejumlah pihak memperkirakan akan terjadi pergeseran dalam sistem keuangan internasional yang selama ini didominasi dolar AS dan euro. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan negara-negara Eropa dalam mengelola pembiayaan publik, termasuk program kesejahteraan.

Pengamat juga menyoroti fokus China pada pengembangan teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan, robotika, dan manufaktur canggih. Investasi besar di sektor ini dinilai akan menentukan peta kekuatan ekonomi global dalam beberapa dekade ke depan.

Sebaliknya, Eropa dinilai masih menghadapi tantangan internal, termasuk regulasi industri yang ketat dan penurunan daya saing manufaktur. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kawasan tersebut dapat kehilangan posisi strategisnya dalam ekonomi global.

Sejumlah pihak memperingatkan bahwa tanpa langkah korektif, Eropa berisiko semakin bergantung pada pihak eksternal, baik dalam hal energi, teknologi, maupun infrastruktur. Hal ini dinilai dapat berdampak pada kemampuan kawasan tersebut dalam menentukan arah kebijakan dan masa depannya sendiri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya