Pelaku Penembakan Saat Jamuan Makan Malam Gedung Putih Ditangkap, Trump Puji Respons Cepat Aparat

Acara tahunan White House Correspondents’ Dinner di Washington Hilton, Sabtu malam 25 April 2026 sempat diwarnai kepanikan setelah terdengar suara tembakan.

oleh Tim GlobalDiterbitkan 26 April 2026, 10:10 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada 1 April 2026. (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Jakarta - Acara tahunan White House Correspondents’ Dinner di Washington Hilton, Sabtu malam 25 April 2026 sempat diwarnai kepanikan setelah terdengar suara tembakan keras di dalam ruangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan istrinya, Melania Trump, langsung dievakuasi dari lokasi. Sejumlah jurnalis dan tamu yang hadir dilaporkan berlindung di bawah meja saat situasi menjadi tegang.

Trump melalui unggahan di Truth Social, memuji respons cepat Secret Service dan aparat penegak hukum. Ia juga menyatakan, pelaku penembakan telah berhasil diamankan. Namun, saat itu belum dipastikan apakah acara akan dilanjutkan atau tidak.

Sebelumnya, laporan awal menyebutkan agen Secret Service sempat mengeluarkan senjata, sementara sejumlah jurnalis yang tergabung dalam White House pool segera dikeluarkan dari ruangan. Beberapa agen juga terdengar menyebut adanya 'tembakan dilepaskan'.

Sejumlah jurnalis yang berada di lokasi awalnya mengaku sempat menerima informasi yang simpang siur terkait instruksi untuk tetap berada di dalam ruangan atau keluar.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jamie Raskin, yang turut hadir, mengaku tidak melihat langsung pelaku. Namun ia merasakan situasi yang sangat kacau.

"Saya pikir seorang agen Secret Service menjatuhkan saya ke lantai bersama beberapa orang lainnya, dan orang-orang berteriak," kata Jamie, dilansir dari The Guardian, Minggu (26/4/2026).

Helikopter Berputar-putar di Udara

(Kiri-Kanan) Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, Wakil Presiden AS, JD Vance, dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mendengarkan saat Presiden AS, Donald Trump, berbicara selama pertemuan dengan Duta Besar Lebanon untuk AS dan Duta Besar Israel untuk AS, di Gedung Putih di Washington, DC pada 23 April 2026. Presiden AS, Donald Trump, bertemu dengan utusan Lebanon dan Israel pada putaran baru pembicaraan perdamaian Kamis, dengan Beirut meminta perpanjangan satu bulan untuk gencatan senjata yang rapuh yang akan segera berakhir. (Brendan SMIALOWSKI/AFP)

Ia menambahkan, dirinya mendengar suara keras, tetapi tidak dapat memastikan apakah itu benar suara tembakan atau reaksi orang-orang di sekitar.

"Orang-orang sangat ketakutan, tapi sekarang tampaknya sudah mulai lega," jelas Jamie.

Di luar hotel, sejumlah helikopter terlihat berputar di udara saat aparat mengamankan situasi.

Sementara itu, upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu di tengah ketegangan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait Selat Hormuz dan program nuklir Teheran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pengiriman utusan khusus Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner, dinilai hanya akan membuang waktu. Ia menegaskan bahwa Iran tidak perlu perantara jika ingin berunding.

"Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon," kata Trump, seraya menambahkan bahwa Washington “memegang semua kartu” dalam situasi ini, dikutip dari BBC, Minggu (26/4/2026).

 

Trump Batal Kirim Utusan AS ke Pakistan untuk Negosiasi dengan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, pada 30 Januari 2026. (Dok. AP/Evan Vucci)

Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan dengan Pakistan sebagai mediator. Araghchi menyebut pertemuan itu 'produktif' dan telah menyampaikan posisi Iran terkait kerangka penyelesaian permanen konflik, namun meragukan keseriusan AS dalam menempuh jalur diplomasi.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tetap terbuka untuk dialog, tetapi menilai pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman menjadi hambatan utama bagi negosiasi yang tulus.

Upaya diplomasi ini berlangsung di tengah perpanjangan gencatan senjata oleh Trump, yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 22 April. Meski diperpanjang untuk memberi ruang bagi perundingan, belum ada kemajuan berarti.

Ketegangan kedua negara juga dipicu oleh konflik di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran diketahui membatasi lalu lintas di kawasan tersebut setelah serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu. Sebagai respons, Washington meningkatkan kehadiran militernya guna menghalangi ekspor minyak Iran.

Di sisi lain, rencana pertemuan langsung antara pejabat AS dan Iran yang sempat diharapkan terjadi, akhirnya batal. Gedung Putih sebelumnya menyebut Iran 'ingin berbicara', namun Teheran membantah adanya rencana pertemuan langsung.

Trump juga menyinggung adanya ketidakpastian dalam kepemimpinan Iran.

"Ada konflik internal yang besar dan kebingungan. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang memimpin," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya