Liputan6.com, Jakarta - Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI mengusulkan konsep jalur pelayaran berbayar untuk mengoptimalkan potensi ekonomi di Selat Malaka, seperti Terusan Suez dan Terusan Panama. Kepala Bakamla Laksdya TNI Irvansyah mengaku usulan tersebut bahkan disambut baik Menteri keuangan Purbaya.
“Seperti di Suez dan Panama itu kan semua kapal bayar. Saya sudah punya konsep untuk mendukung ide itu. Ke depan kita butuh sumber pendapatan negara, termasuk dari perairan,” ujar Irvansyah saat peresmian Markas Komando (Mako) Bakamla di tiga wilayah, Batam, Kamis (24/4/2025).
Advertisement
Menurutnya, Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dapat diibaratkan sebagai jalan tol laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dia menilai Indonesia perlu mengambil peran lebih strategis dalam pengelolaannya.
“Kalau kita bayangkan Selat Malaka seperti jalan tol besar, masa kita di pinggirnya tidak bikin fasilitas seperti warung atau pom bensin? Ini peluang besar,” kata dia.
Seiring dengan gagasan tersebut, Bakamla juga memperkuat sistem pengamanan laut. Saat ini, Bakamla memiliki sekitar 10 kapal patroli yang dibagi ke dalam tiga zona operasi, termasuk wilayah barat yang mencakup Natuna hingga Aceh.
Patroli dilakukan secara lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi seperti drone, satelit, radar laut, serta pusat komando dan pengendalian (poskodal).
Selain itu, Bakamla juga melibatkan masyarakat melalui program relawan penjaga laut (RAPALA) yang telah dibentuk di berbagai daerah, termasuk Kepulauan Riau.
“Kita libatkan masyarakat sebagai mata dan telinga di laut. Ini penting untuk memperkuat pengawasan,” ujarnya.