Jepang Peringatkan Peningkatan Risiko Megaquake Usai Gempa Magnitudo 7,7

Megaquake atau gempa raksasa adalah istilah untuk gempa dengan kekuatan yang sangat besar, biasanya merujuk pada gempa magnitudo 8,0 atau lebih.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 21 April 2026, 08:33 WIB
Ilustrasi Gempa (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Tokyo - Gempa magnitudo 7,7 terjadi di lepas pantai Sanriku, Jepang bagian utara, pada Senin (20/4/2026). Gempa semula dilaporkan magnitudo 7,5 sebelum diperbarui oleh Badan Meteorologi Jepang (JMA).

Peristiwa ini tidak hanya memicu tsunami kecil, namun juga mendorong pemerintah mengingatkan adanya peningkatan risiko gempa besar (megaquake) di wilayah pesisir. 

Kantor Kabinet Jepang dan JMA menyatakan bahwa peluang terjadinya megaquake dalam sekitar satu minggu ke depan adalah 1 persen. Angka ini meningkat dibandingkan kondisi normal yang biasanya sekitar 0,1 persen. Peningkatan ini berkaitan dengan pusat gempa yang berada di Samudra Pasifik pada kedalaman sekitar 20 km, lokasinya berdekatan dengan Palung Jepang dan Palung Chishima, yang merupakan zona tektonik di wilayah tersebut.

Namun, seperti dikutip dari laporan Asssociated Press, para pejabat menegaskan bahwa peringatan ini bukan merupakan prediksi gempa, melainkan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat karena adanya kenaikan risiko. Warga di 182 kota dan desa di sepanjang pesisir timur laut diminta tetap menjalani aktivitas sehari-hari, sambil meningkatkan kesiapsiagaan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan warga perlu mengetahui lokasi tempat evakuasi yang telah ditetapkan, memahami jalur evakuasi, serta memeriksa persediaan makanan darurat dan tas siaga. Hal ini penting agar mereka dapat segera menyelamatkan diri jika gempa besar terjadi.

"Pemerintah akan melakukan segala upaya dalam menghadapi keadaan darurat," ujarnya.

Peringatan ini merupakan yang kedua dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, peringatan serupa juga dikeluarkan setelah gempa magnitudo 7,5 pada bulan Desember, namun saat itu tidak terjadi megaquake.

 

Tsunami Kecil

Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana melaporkan dua orang mengalami luka-luka, masing-masing di Aomori dan Iwate, akibat terjatuh saat gempa yang terjadi pada Senin. 

Menurut badan meteorologi, gempa terjadi pada pukul 16.53 waktu setempat.

Rekaman dari NHK menunjukkan benda-benda bergoyang dan orang-orang berjongkok di sebuah pusat perbelanjaan di Aomori. Saat itu, warga diminta segera mencari tempat yang lebih tinggi dan menjauhi wilayah pesisir.

Layanan kereta cepat Shinkansen yang menghubungkan Tokyo dan wilayah utara Jepang sempat dihentikan sementara. Akibatnya, penumpang harus menunggu di dalam kereta maupun di peron hingga layanan kembali normal.

Gelombang tsunami setinggi sekitar 80 sentimeter terdeteksi di Pelabuhan Kuji di Prefektur Iwate dalam waktu satu jam setelah gempa. Selain itu, tsunami setinggi 40 sentimeter juga tercatat di pelabuhan lain di wilayah yang sama.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik yang berbasis di Amerika Serikat, Pacific Tsunami Warning Center, kemudian menyatakan bahwa ancaman tsunami telah berlalu. Beberapa jam kemudian, Jepang juga mencabut seluruh peringatan dan imbauan tsunami.

Otoritas Regulasi Nuklir memastikan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir dan fasilitas terkait di wilayah tersebut dalam kondisi aman dan tidak ditemukan adanya masalah.

Badan manajemen bencana menyatakan bahwa lebih dari 180.000 orang di lima prefektur di wilayah utara, dari Hokkaido hingga Fukushima, sempat diminta untuk berlindung di tempat aman.

Gempa pada Senin terjadi 15 tahun setelah gempa magnitudo 9,0 dan tsunami pada 11 Maret 2011, yang menghancurkan sebagian besar wilayah utara Jepang, menewaskan lebih dari 22.000 orang, serta memaksa hampir setengah juta orang meninggalkan rumah mereka, sebagian besar akibat tsunami.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya