Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kemungkinan akan mengunjungi Islamabad, Pakistan, jika kesepakatan antara AS dan Iran berhasil dicapai melalui mediasi negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan pada Kamis (16/4/2026), saat ditanya mengenai peluang kunjungan ke Pakistan yang saat ini berperan sebagai mediator dalam perundingan Washington D.C-Teheran.
Advertisement
“Saya akan pergi ke Pakistan. Pakistan sangat hebat. Mereka sangat baik. Jika kesepakatan ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi,” ujarnya.
Saat ini, Amerika Serikat masih memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran. Kebijakan tersebut berlangsung di tengah gencatan senjata sementara antara kedua negara yang dijadwalkan berakhir pekan depan, dikutip dari laman The Hill, Jumat (17/4).
Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik sebelumnya sempat menemui jalan buntu dalam perundingan di Islamabad pekan lalu. Meski demikian, komunikasi antara AS, Iran, dan Pakistan tetap berlangsung untuk mempersiapkan putaran pembicaraan berikutnya.
Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Kamis (16/4) mengonfirmasi bahwa kedua pihak masih berhubungan melalui Islamabad. Namun, jadwal perundingan lanjutan belum ditentukan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, menyatakan bahwa detail pembicaraan akan ditentukan oleh pihak-pihak yang terlibat. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga kerahasiaan proses negosiasi.
“Sebagai mediator, penting bagi kami untuk menjaga kerahasiaan pembicaraan. Kami memiliki detail dan informasi yang dipercayakan oleh pihak-pihak yang bernegosiasi,” ujarnya.
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon setelah pertemuan di Washington, D.C. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi sinyal positif bagi upaya diplomasi yang lebih luas, termasuk perundingan dengan Iran.
Sejak awal konflik AS-Israel dengan Iran, Israel diketahui melancarkan serangan terhadap wilayah Lebanon dengan menargetkan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran. Iran dan Pakistan memandang Lebanon sebagai bagian dari cakupan gencatan senjata awal, sementara AS dan Israel memiliki pandangan berbeda.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa proses diplomasi masih berlangsung dinamis, dengan peran Pakistan sebagai mediator kunci dalam upaya meredakan ketegangan antara Washington D.C dan Teheran.