Pasar Surat Utang Indonesia Dinilai Masih Punya PR Besar

OJK melihat meski perkembangan pasar surat utang Indonesia positif tetapi masih ada pekerjaan rumah (PR).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 13 April 2026, 18:00 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut perkembangan pasar surat utang Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut perkembangan pasar surat utang Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, kedalaman pasar domestik dinilai masih tertinggal dibandingkan negara lain, sehingga memerlukan upaya penguatan yang berkelanjutan.

Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Eddy Manindo Harahap, kepemilikan SBN yang dapat diperdagangkan sekarang tumbuh sekitar 8,67% year-on-year. 

Kemudian rata-rata nilai transaksi harian SBN, sekarang ini sudah cukup besar sekitar Rp 60 triliun pada 2025. Termasuk juga porsi repo SBN terhadap total transaksi itu saat ini 35%, dan juga repo antarbank ini juga menyumbang hingga lebih dari 70% dari aktivitas repo.

“Data tersebut menunjukkan bahwa kedalaman pasar terus meningkat, proses price recovery semakin baik, dan mekanisme repo semakin berkembang secara market-driven,” kata Eddy dalam SPPA Awards 2025, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Eddy mengungkapkan, rasio kapitalisasi pasar SBN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini berada di kisaran 35%. Sementara itu, obligasi korporasi masih relatif kecil, yakni sekitar 2% terhadap PDB.

“Saat ini rasio market cap SBN to GDP berada di kisaran 35%, sementara obligasi korporasi masih sekitar 2% terhadap PDB,” ujarnya.

Di sisi lain, peran obligasi korporasi sebagai sumber pendanaan juga terus meningkat. Sepanjang 2025, nilai penghimpunan dana melalui penawaran umum mencapai sekitar Rp 274,8 triliun, dengan kontribusi obligasi korporasi mendominasi hingga 77%.

“Sementara itu dari sisi korporasi, peran surat utang sebagai sumber pendanaan juga terus menguat. Pada tahun 2025, nilai penghimpunan dana melalui penawaran umum mencapai sekitar Rp 274,8 triliun, dengan kontribusi obligasi korporasi sekitar 77%,” ujarnya.

 

 

Pasar Sekunder Jadi Kunci Penguatan

Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Eddy Manindo Harahap saat SPPA Awards 2025, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (13/4/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Namun demikian, jika dibandingkan negara lain, kedalaman pasar surat utang Indonesia masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikembangkan.

Meski pasar perdana menunjukkan pertumbuhan yang kuat, Eddy menekankan pentingnya peningkatan likuiditas di pasar sekunder agar perkembangan pasar menjadi lebih seimbang. Menurutnya, aktivitas perdagangan di pasar sekunder yang aktif akan menciptakan mekanisme harga yang lebih efisien dan mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

“Dalam konteks tersebut OJK bersama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan terus memperkuat sinergi untuk membangun pasar surat utang Indonesia sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing. Di pasar sekundar SBN, OJK telah meletakkan fondasi bagi terbentuknya ekosistem pasar yang lebih komprehensif, baik melalui penguatan regulasi maupun pengembangan infrastruktur,” pungkasnya.

 

Transaksi Harian SBN Tembus Rp 60 Triliun, Pasar Surat Utang Kian Bergairah

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah sebesar 12,76 poin. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perkembangan pasar surat utang Indonesia terus menunjukkan tren yang semakin positif. Hal ini tercermin dari meningkatnya aktivitas perdagangan serta bertambahnya partisipasi investor, khususnya pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang semakin likuid di pasar.

Deputi Komisioner Perizinan dan Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Eddy Manindo Harahap, mengungkapkan nilai rata-rata transaksi harian SBN pada tahun 2025 telah mencapai sekitar Rp 60 triliun. Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas perdagangan sekaligus meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap instrumen surat utang negara.

“Perkembangan surat utang, baik itu SBN maupun obligasi korporasi, sejauh ini menunjukkan tren positif. Kemudian rata-rata nilai transaksi harian SBN, sekarang ini sudah cukup besar sekitar Rp 60 triliun pada tahun 2025,” kata Eddy dalam SPPA Award, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Selain itu, kepemilikan SBN yang dapat diperdagangkan juga mengalami pertumbuhan sekitar 8,67% secara tahunan (year-on-year). Kenaikan ini menunjukkan minat investor yang terus menguat, baik dari domestik maupun asing.

Menurut dia, peningkatan ini menjadi sinyal bahwa pasar surat utang Indonesia semakin dalam dan efisien.

“Beberapa indikator mencerminkan perkembangan yang signifikan, seperti misalnya pemilikan SBN yang dapat diperdagangkan sekarang tumbuh sekitar 8,67% year-on-year,” ujarnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya