Liputan6.com, Jakarta - Infografis terkait ikan sapu-sapu belakangan ini cukup menyita perhatian. Bagaimana tidak, populasi ikan sapu-sapu sempat 'menguasai' aliran sungai kawasan mal sekitar Bundaran HI Menteng, Jakarta Pusat.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Dinas KPKP) mengungkap mekanisme pemusnahan ikan sapu-sapu hasil penangkapan di sejumlah wilayah.
Advertisement
Proses tersebut dilakukan dengan memastikan ikan benar-benar mati sebelum dikuburkan. Hal itu seperti disampaikan Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok. Dia menyampaikan, langkah ini penting mengingat ikan sapu-sapu memiliki daya tahan hidup yang tinggi.
"Sebelumnya harus dipastikan sudah mati dulu baru dikubur. Karena ikan tersebut mempunyai kemampuan tinggi untuk bertahan hidup jadi dipastikan dulu mati baru dikubur," ujar Hasudungan kepada Liputan6.com, Senin (13/4/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga telah angkat bicara. Dia meminta operasi pembersihan ikan sapu-sapu diperluas ke seluruh wilayah ibu kota. Pramono ingin wilayah dengan populasi ikan sapu-sapu terbanyak dibersihkan tanpa terkecuali.
"Saya akan meminta tidak hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi," kata Pramono.
Ya, keberadaan ikan sapu-sapu memang kerap dianggap sebagai hama karena dinilai mengganggu ekosistem air dan berpotensi merugikan lingkungan. Apa alasannya?
Ikan sapu-sapu sendiri diketahui berasal dari Amerika Selatan, terutama kawasan Sungai Amazon. Spesies ini masuk ke berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui perdagangan ikan hias akuarium.
Salah satu alasan utama ikan sapu-sapu merusak ekosistem adalah laju reproduksinya yang sangat tinggi. Seekor betina dapat menghasilkan ribuan telur dalam satu musim bertelur.
Selain itu, sebagai ikan pemakan dasar (bottom feeder), ikan sapu-sapu terus-menerus terpapar polutan yang mengendap di dasar sungai. Hal ini membuat tubuh mereka bertindak sebagai akumulator atau penyerap logam berat dari air dan sedimen.
Sejumlah penelitian di sungai yang tercemar menemukan bahwa daging ikan sapu-sapu mengandung logam berat berbahaya seperti timbal dan merkuri, sehingga dilarang untuk dikonsumsi.
Lantas, kenapa ikan sapu-sapu dikategorikan invansif? Simak selengkapnya dalam rangkaian Infografis berikut ini: