Liputan6.com, Jakarta - Dalam khazanah Islam, ada dua hari raya, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Setelah merayakan Idul Fitri pada Maret 2026 lalu, sebentar lagi umat Islam akan menyambut Idul Adha 1447 H, yang diperkirakan jatuh pada akhir Mei 2026. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, berapa rakaat sholat Idul Adha?
Sebelum membahas jumlah rakaatnya, ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu hukum sholat Idul Adha. Dalam ebook Bekal-Bekal di Dalam Menyambut Idul Adha, Ustadz Abū Salmâ al-Atsarî menjelaskan, para ulama dari kalangan Syafi'iyyah, Hanabilah, dan mayoritas ulama lainnya sepakat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan).
Advertisement
Imam An-Nawawi dalam kitab Raudhah ath-Thalibin menegaskan, hukum shalat Ied adalah sunnah, yang anjuran mengerjakannya terdapat dalam nash. Sementara itu, Imam Mardawi dalam Al-Inshaf fi Ma'rifati Ar-Rajih min Al-Khilaf, kitab rujukan dalam mazhab Hanbal, menyatakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat hukum shalat Id adalah sunnah muakkadah.
Berikut ini adalah ulasan lengkap mengenai berapa rakaat sholat Idul Adha, lengkap dengan dalil dan pandangan para ulama.
Jumlah Rakaat Sholat Idul Adha
Sholat Idul Adha adalah sholat sunnah muakkadah yang terdiri dari dua rakaat, dengan ketentuan khusus pada jumlah takbir: 7 takbir pada rakaat pertama (di luar takbiratul ihram) dan 5 takbir pada rakaat kedua (di luar takbir intiqal)
Dalam jurnal Wawasan As-Sunnah tentang Qurban dan Idul Adha, Sulidar menjelaskan, para ulama dari seluruh mazhab sepakat bahwa sholat Idul Adha terdiri dari dua rakaat. Jumlah ini sama dengan sholat Idul Fitri, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih mengenai hal ini.
Kesepakatan ini didasarkan pada berbagai dalil yang kuat, baik dari Al-Qur'an maupun hadis. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu bersabda:
صَلاَةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلاَةُ الأَضْحَى رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قَصْرٍ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ
Artinya: "Shalat Idul Fitri dua rakaat dan shalat Idul Adha dua rakaat, sempurna bukan qashar, berdasarkan lisan Nabi kalian." (HR. An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, dishahihkan Al-Albani).
Hadis ini menegaskan bahwa shalat Idul Adha adalah shalat yang sempurna dengan dua rakaat, tidak ada pengurangan (qashar) sebagaimana shalat safar.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Fatawa Arkanil Islam menjelaskan bahwa hadis ini merupakan dalil utama yang menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat Id adalah dua rakaat, dan tidak ada tambahan atau pengurangan dari ketentuan tersebut.
Rukun Sholat Idul Adha
Rukun sholat Idul Adha pada dasarnya sama dengan rukun sholat pada umumnya, dengan tambahan beberapa rukun khusus yang membedakannya. Rukun sholat Idul Adha terdiri dari:
- Niat di dalam hati untuk melaksanakan sholat sunnah Idul Adha, baik sebagai imam maupun makmum.
- Takbiratul Ihram sebagai pembuka shalat.
- Takbir Zawaid (takbir tambahan) sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, serta lima kali pada rakaat kedua setelah takbir berdiri dari sujud (takbir intiqal).
- Membaca Surat Al-Fatihah setelah rangkaian takbir selesai, baik pada rakaat pertama maupun rakaat kedua.
- Membaca surat pendek setelah Al-Fatihah. Pada rakaat pertama disunnahkan membaca surat Al-A'la atau Qaf, dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Ghasyiyah atau Al-Qamar (atau "Iqtarabat").
- Rukuk dengan tumakninah.
- I'tidal (bangkit dari rukuk) dengan tumakninah.
- Sujud dua kali dengan tumakninah.
- Duduk di antara dua sujud dengan tumakninah.
- Tasyahud akhir pada akhir rakaat kedua.
- Salam (ke kanan dan ke kiri).
Ketentuan ini didasarkan pada hadis Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil, yang artinya: "Takbir pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha, pada rakaat pertama tujuh takbir dan pada rakaat kedua lima takbir, di luar takbir rukuk."
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya menjelaskan bahwa pelaksanaan takbir tambahan ini dilakukan dengan mengangkat kedua tangan setiap kali takbir, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Tata Cara Lengkap Sholat Idul Adha, Termasuk Sunnahnya
Berikut adalah tata cara pelaksanaan sholat Idul Adha secara berurutan:
Sebelum Sholat
Sebelum melaksanakan sholat, terdapat beberapa amalan sunnah yang dianjurkan:
Mandi dan bersuci, memakai pakaian terbaik yang dimiliki, serta memakai wewangian bagi laki-laki.
Tidak makan terlebih dahulu hingga setelah sholat Idul Adha, karena Rasulullah SAW biasa menunda makan hingga setelah sholat dan kemudian menyantap daging kurbannya.
Bertakbir sejak malam hari raya hingga pelaksanaan sholat.
Berjalan kaki menuju tempat sholat (mushalla) dan mengambil jalan yang berbeda antara berangkat dan pulang.
Pelaksanaan Sholat
1. Niat dalam hati
Bacaan niat bagi imam:
أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
"Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta'ala."
Bacaan niat bagi makmum:
أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
"Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta'ala."
2. Takbiratul Ihram (Allahu Akbar) sambil mengangkat kedua tangan.
3. Membaca doa Iftitah dengan suara pelan (sirr).
4. Melakukan takbir tambahan sebanyak 7 kali (di luar takbiratul ihram), sambil mengangkat kedua tangan setiap kali takbir.
Di antara setiap takbir, disunnahkan membaca dzikir:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
"Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar." (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar).
5. Setelah takbir ke-7, membaca Surat Al-Fatihah.
6. Setelah Al-Fatihah, membaca surat pendek. Disunnahkan membaca surat Al-A'la atau Qaf dengan suara keras (jahr).
7. Melanjutkan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua seperti sholat biasa.
8. Berdiri untuk rakaat kedua.
Rakaat Kedua:
9. Takbir sebanyak 5 kali (di luar takbir saat berdiri dari sujud / takbir intiqal), sambil mengangkat kedua tangan setiap kali takbir.
10. Di antara setiap takbir, kembali membaca dzikir yang sama seperti pada rakaat pertama.
11. Setelah takbir ke-5, membaca Surat Al-Fatihah.
12. Setelah Al-Fatihah, membaca surat pendek. Disunnahkan membaca surat Al-Ghasyiyah atau Asy-Syams (atau Al-Qamar / "Iqtarabat") dengan suara keras.
13. Melanjutkan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
14. Duduk tasyahud akhir.
15. Salam (ke kanan dan ke kiri).
Setelah Sholat
Setelah salam, khatib menyampaikan khutbah (dua khutbah dengan satu duduk di antara keduanya). Berbeda dengan sholat Jumat, khutbah Idul Adha disampaikan setelah sholat, bukan sebelumnya. Hal ini berdasarkan praktik Rasulullah SAW yang selalu memulai dengan sholat terlebih dahulu, baru kemudian khutbah.
Jika sholat dilaksanakan secara sendirian (munfarid) di rumah karena uzur tertentu, maka tidak perlu khutbah. Sholat Idul Adha sendirian tetap sah dan tata caranya sama, dengan bacaan yang dilafalkan secara pelan (sirr).
Amalan Sunnah Sebelum, Saat, dan Sesudah Sholat Idul Adha
Amalan Sunnah Sebelum Sholat Idul Adha
- Menghidupkan malam Idul Adha dengan ibadah, seperti memperbanyak takbir, dzikir, membaca Al-Qur'an, dan shalat malam. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah: "Barangsiapa menghidupkan malam dua hari raya karena mengharap pahala Allah, maka hatinya tidak akan mati di hari semua hati mati."
- Mandi, memakai pakaian terbaik, dan wewangian. Hal ini merupakan sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada setiap hari raya.
- Tidak makan sebelum sholat. Berdasarkan hadis dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW tidak makan pada pagi hari Idul Adha hingga kembali dari sholat dan menyantap daging kurbannya.
- Berjalan kaki menuju mushalla (tanah lapang) jika memungkinkan, dan mengambil jalan yang berbeda antara berangkat dan pulang. Hal ini berdasarkan praktik Rasulullah SAW yang keluar menuju mushalla dengan berjalan kaki, dan tidak kembali melalui jalan yang sama.
- Memperbanyak takbir dalam perjalanan sebagai bentuk syiar Islam dan pengagungan kepada Allah.
Amalan Sunnah Saat Sholat Idul Adha
- Mengeraskan suara takbir bagi laki-laki sebagai bentuk syiar.
- Membaca doa iftitah sebelum melakukan takbir tambahan pada rakaat pertama.
- Membaca dzikir "Subhanallah wal hamdulillah..." di antara setiap takbir tambahan.
- Membaca surat Al-A'la pada rakaat pertama dan surat Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua, sesuai dengan kebiasaan Rasulullah SAW.
- Tidak ada azan dan iqamah dalam sholat Idul Adha. Cukup dengan seruan "ash-shalaata jaami'ah" (الصلاة جامعة) untuk mengumpulkan jamaah.
Amalan Sunnah Sesudah Sholat Idul Adha
- Mendengarkan khutbah dengan saksama. Khutbah Idul Adha merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian ibadah hari raya, meskipun tidak wajib.
- Menyegerakan penyembelihan hewan kurban setelah sholat Idul Adha, karena waktu penyembelihan kurban dimulai setelah sholat Id.
- Makan dari daging kurban setelah penyembelihan, sebagai bentuk syukur dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
- Mempererat silaturahmi dengan saling mengunjungi keluarga, kerabat, dan tetangga.
- Memperbanyak takbir hingga hari tasyrik (13 Dzulhijjah), baik takbir mursal (tidak terikat waktu) maupun takbir muqayyad (setelah sholat fardhu).
Hikmah Idul Adha
Ketaatan Total kepada Allah: Idul Adha mengajarkan kita untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putra tercintanya, Ismail AS, demi menjalankan perintah Allah. Ini adalah bentuk ketaatan tanpa tawar-menawar.
- Mendekatkan Diri kepada Allah (Taqarrub): Ibadah kurban adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Allah berfirman: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37).
- Kepedulian Sosial dan Pemerataan Rezeki: Dengan berkurban dan membagikan daging kepada fakir miskin, Idul Adha menjadi sarana pemerataan rezeki dan kepedulian terhadap sesama yang kurang mampu.
- Melatih Jiwa untuk Berkorban (Itsar): Ibadah kurban melatih umat Islam untuk rela berkorban, baik harta, waktu, maupun tenaga, demi kebaikan bersama dan untuk mendapatkan ridha Allah SWT.
- Memperkuat Kohesi Sosial dan Ukhuwah Islamiyah: Proses penyembelihan bersama dan pembagian daging kurban menjadi momentum berkumpulnya warga, mempererat ikatan persaudaraan, dan memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat.
- Wujud Syukur atas Nikmat Allah: Disyariatkannya kurban sebagai wujud syukur terhadap nikmat tak terhitung yang telah diberikan oleh Allah Ta'ala.