Tak Hanya Teknologi, Perempuan Dinilai jadi Penentu Ketahanan Iklim di Indonesia

Keterlibatan perempuan dalam menjaga kelestarian hutan dinilai terbukti menjadi faktor krusial dalam memperkuat ketahanan terhadap krisis iklim.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 10 April 2026, 20:35 WIB
Selain itu, lanjutnya, tren pemanasan global dan perubahan iklim, gelombang panas heatwave semakin berisiko berpeluang terjadi 30 kali lebih sering. Kemudian dominasi monsun Australia, Indonesia memasuki musim kemarau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Keterlibatan perempuan dalam menjaga kelestarian hutan terbukti menjadi faktor krusial dalam memperkuat ketahanan terhadap krisis iklim menjadi benang merah buku Echoes of Partnership yang diluncurkan KONEKSI (the Australia–Indonesia Knowledge Partnership Platform) di Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Buku ini merangkum hasil kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia yang menunjukkan bahwa solusi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada inklusivitas kelompok rentan, terutama perempuan.

"Perempuan seringkali menjadi women champions di garda terdepan dalam melindungi hutan dari praktik pembalakan liar (illegal logging)," ujar Peneliti BRIN Lilis Mulyani, melansir Antara, Jumat (10/4/2026).

Dia menjelaskan, dalam risetnya mengenai perhutanan sosial, menemukan perbedaan peran yang signifikan: perempuan cenderung lebih fokus pada penjagaan biodiversitas, sementara laki-laki lebih dominan pada aspek ekonomi.

"Meski regulasi telah memberikan ruang setara, praktiknya di lapangan masih perlu diperkuat. Kami mendorong adanya kebijakan afirmatif, seperti penetapan target keterlibatan perempuan sebesar 20 hingga 30 persen dalam pengelolaan perhutanan sosial," ucap Lilis.

 

Pemulihan Sungai Citarum

Kegiatan bedah buku Echoes of Partnership (Gema Kemitraan) yang diluncurkan KONEKSI (the Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform), Kamis (10/4/2026). (Antara)

Selain isu gender, buku ini juga memaparkan keberhasilan riset Indonesia-Australia Citarum Action Research Program (CARP).

Tanvi Maheswari dari Monash University menjelaskan, pemulihan Sungai Citarum dilakukan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang disesuaikan dengan karakteristik lokal, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga daur ulang berbasis komunitas.

"Namun, upaya adaptasi ini masih menghadapi tantangan besar," kata Tanvi.

Kemudian, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani mengakui, keterbatasan pendanaan dan koordinasi antarlembaga masih menjadi kendala utama dalam menjalankan kebijakan iklim secara efektif.

Peluncuran buku ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Summit yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 April 2026 mendatang. Melalui kolaborasi lintas negara ini, diharapkan solusi iklim yang dihasilkan dapat lebih berkelanjutan dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

INFOGRAFIS JOURNAL_ Berbagai Polusi Berdampak pada Perubahan Iklim (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya