Liputan6.com, Jakarta - Rasa iba sering kali muncul saat melihat orang lain mengalami kecelakaan atau serangan jantung mendadak. Namun, tanpa keahlian, niat baik saja tidak cukup. Hal inilah yang mendorong Juhadi Muhammad dan Siska Novilia, relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat), untuk melangkah lebih jauh dari sekadar rasa kasihan.
Selama tiga hari, mereka mengikuti pelatihan spesialisasi Pertolongan Pertama (PP) di Markas PMI Kabupaten Sukabumi.
Advertisement
Bagi Juhadi Muhammad, relawan dari Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, pelatihan ini adalah jawaban atas kegelisahannya selama ini. Dia mengaku sering merasa terpanggil untuk menolong saat terjadi keadaan darurat di lingkungannya, namun selalu ragu karena tidak tahu prosedur yang benar.
"Sungguh luar biasa. Awalnya saya tidak memahami, namun kini wawasan saya terbuka. Saya sangat terkesan saat praktik menggunakan alat bantu seperti bidai, collar neck, hingga AED (Automated External Defibrillator)," ungkap Juhadi, Kamis (9/4/2026).
Kini, Juhadi merasa lebih siap dan profesional. Dia tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan bagian dari solusi saat nyawa seseorang terancam.
Senada dengan Juhadi, Siska Novilia dari Sibat Desa Cisolok menceritakan antusiasnya menjadi penolong bagi banyak orang. Simulasi penanganan korban tidak sadar dan teknik CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) mengubah cara pandangnya. Baginya, ketenangan adalah kunci, dan ketenangan hanya datang dari ilmu yang mumpuni.
"Saya ingin memiliki kemampuan dasar untuk membantu orang lain. Sekarang saya jauh lebih percaya diri dan tidak panik saat menghadapi situasi darurat. Setidaknya saya tahu langkah awal yang benar sebelum tenaga medis datang," tutur Siska.
Memperpendek Waktu Tanggap di Desa
Instruktur pelatihan, Ivan Kusmayadi, menekankan bahwa kehadiran orang-orang seperti Juhadi dan Siska sangat krusial bagi masyarakat akar rumput.
Materi Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diajarkan bertujuan untuk menjaga peluang hidup korban sebelum dirujuk ke rumah sakit.
"Kami ajarkan apa yang harus dilakukan jika seseorang henti napas atau henti jantung. Ilmu ini minimal berguna untuk diri sendiri dan masyarakat di sekitarnya," jelas Ivan.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif School and Community Resilience (SCR) yang didukung oleh Palang Merah Jepang.
Dengan pelatihan ini, PMI Kabupaten Sukabumi berharap waktu tanggap (response time) darurat di pemukiman warga dapat dipangkas.
Kehadiran relawan desa yang terampil adalah jaminan bahwa bantuan pertama tidak perlu menunggu lama, karena 'malaikat penolong' itu kini ada di tetangga sebelah rumah mereka.