Pengakuan Ahmad Zaki, Guru PJOK di Bojonegoro yang Viral Lari ke Sekolah

Ahmad Zaki mengaku ide untuk berlari ke sekolah muncul secara spontan setelah adanya imbauan pemerintah terkait efisiensi energi.

oleh Ahmad AdirinDiterbitkan 09 April 2026, 19:00 WIB
Ahmad Zaki Febiansyah guru bojonegoro yang viral karena berangkat mengajar dengan berlari. (istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Aksi seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMPN 1 Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menjadi sorotan publik setelah videonya berlari menuju sekolah viral di media sosial.

Nama guru tersebut adalah Ahmad Zaki Febiansyah. Dia berlari menempuh jarak sekitar 4 kilometer dari rumah ke sekolahnya tempatnya mengajar. Aksi itu kemudian ramai diperbincangkan khalayak luas.

Awalnya, aksi tersebut dipersepsikan sebagai bentuk pengorbanan untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM). Namun, dari hasil wawancara singkat, terungkap bahwa terdapat latar belakang lain di balik keputusan tersebut.

Ahmad Zaki mengaku ide untuk berlari ke sekolah muncul secara spontan setelah adanya imbauan pemerintah terkait efisiensi energi.

“Karena ada imbauan dari pemerintah untuk efisiensi, jadi seketika itu malamnya spontan untuk melakukan lari di pagi hari (ke sekolah),” ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (9/4/2026).

Gagasan itu disebutnya dengan konsep run to work atau berangkat kerja dengan berlari.

Meski terkesan tidak biasa, Ahmad Zaki menegaskan aksi tersebut bukanlah rutinitas yang telah lama dilakukan.

“Baru kemarin dan pertama seumur hidup,” jelasnya.

Jarak yang ditempuh oleh Ahmad Zaki tidaklah pendek. Dia berlari sejauh 4 kilometer saat berangkat dan kembali menempuh jarak yang sama saat pulang, sehingga total mencapai 8 kilometer dalam satu hari.

Namun demikian, Ahmad Zaki mengakui bahwa dari sisi penghematan BBM, dampaknya tidak terlalu signifikan.

“Hanya sedikit kalau saya, karena jaraknya hanya 8 kilometer,” katanya.

Bukan untuk Konten Media Sosial

Dia menjelaskan, aksinya tidak semata-mata dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Lebih dari itu, terdapat dorongan personal yang berkaitan dengan gaya hidup sehat.

Ahmad Zaki menyebut dirinya telah memiliki kebiasaan berlari sejak remaja, tepatnya sejak duduk di bangku SMP.

“Saya sudah suka lari sejak SMP kelas 3 tepatnya tahun 2006. Jadi sekalian untuk latihan, dan tentunya mengikuti anjuran pemerintah sama menyebarkan virus lari untuk kesehatan diri sendiri,” ungkapnya.

Dia membantah anggapan bahwa aksinya hanya dibuat untuk kebutuhan konten media sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa aksi sederhana dapat memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya soal efisiensi energi, tetapi juga sebagai bentuk kampanye gaya hidup sehat yang dapat menginspirasi masyarakat.

Di tengah kondisi ekonomi dan berbagai kebijakan efisiensi, aksi tersebut turut memicu diskusi publik. Mulai dari penghematan BBM, kebiasaan hidup sehat, hingga perubahan kecil dalam aktivitas sehari-hari yang berdampak positif.

Meski baru dilakukan sekali, langkah Ahmad Zaki telah menjadi perhatian luas dan membuka perspektif bahwa perubahan tidak selalu harus besar. Bahkan, langkah sederhana seperti berlari ke tempat kerja pun dapat menjadi simbol perubahan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya