Liputan6.com, Jakarta - Gunung Slamet mengalami peningkatan suhu hingga menembus angka sekitar 464 derajat pada awal April 2026. Hal itu dibenarkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya. Saat dihubungi tim Regional Liputan6.com, Kamis (9/4/2026), Hadi mengatakan, peningkatan aktivitas Gunung Slamet sebenarnya sudah terjadi sejak periode September–Oktober 2023.
Advertisement
"Terjadi peningkatan aktivitas kegempaan yang diikuti oleh kenaikan amplitudo tremor. Peningkatan tremor yang berkelanjutan serta kemunculan tremor harmonik berdurasi panjang menandai peningkatan kembali aktivitas vulkanik Gunungapi Slamet, yang berkaitan dengan pemanasan fluida dan aktivitas hembusan di kedalaman dangkal. Sehubungan dengan kondisi tersebut, terhitung sejak tanggal 19 Oktober 2023 status aktivitas Gunungapi Slamet ditetapkan pada Level II (Waspada)," jelasnya.
Kemudian, kata Hadi, pada sekitar Mei 2024, terekam peningkatan gempa vulkanik dalam yang mengindikasikan suplai magma ke arah permukaan, diikuti oleh peningkatan gempa dangkal dan tremor menerus hingga akhir 2024.
"Hingga akhir Maret 2026, aktivitas seismik Gunung Slamet masih bersifat fluktuatif, didominasi oleh gempa frekuensi rendah dan tremor menerus, tanpa disertai erupsi maupun perubahan visual yang signifikan," katanya.
Lalu pada 3 April 2026 mulai teramati adanya perubahan visual di kawah Gunungapi Slamet, berupa kolom asap berwarna putih dengan tinggi maksimum sekitar 300 meter di atas bibir kawah.
"Asap teramati keluar secara terus menerus, yang mengindikasikan adanya aktivitas degassing, yaitu pelepasan gas-gas magmatik dari magma ke permukaan melalui kawah," katanya.
Berdasarkan hasil analisis citra termal kawah Gunung Slamet, teramati adanya peningkatan suhu maksimum dari sekitar 247,4 °C pada 13 September 2024 menjadi 411,2 °C pada 2 April 2026. Kenaikan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah. Sebaran anomali panas pada 2024 masih terlokalisir di bagian pusat kawah, sedangkan pada 2026, berkembang menjadi lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah.
Perubahan pola sebaran suhu mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan. Perluasan area anomali termal ini menunjukkan peningkatan intensitas proses degassing di kawasan kawah. Data kegempaan periode tanggal 16 Maret - 3 April 2026, yaitu terekam 866 kali Gempa Hembusan, 620 kali Gempa Low Frequency, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam, 11 kali Gempa Tektonik Jauh, Tremor Menerus dengan amplitudo 1 mm, dominan 0.5 mm.
Kemudian kejadian gempa frekuensi rendah di Gunung Slamet terekam secara fluktuatif. Sejak 22 Maret 2026, aktivitas ini menunjukkan peningkatan, yang kemudian rekaman menjadi semakin tegas dan menerus sejak tanggal 27 Maret 2026 hingga awal April 2026. Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik.
"Hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunung Slamet, yang memicu munculnya gempa-gempa dangkal, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi," ungkapnya.
Kondisi yang Tidak Normal
Sementara itu, Kepala Tim MGA PVG Tyas membenarkan adanya kenaikan suhu Gunung Slamet yang dianggapnya tidak normal. "Tentu saja ini tidak normal, makanya kami naikan radius bahaya menjadi 3 km," katanya, saat dihubungi Liputan6.com.
Tak hanya menaikan radius bahaya Gunung Slamet menjadi 3 kilometer, aktivitas pendakian Gunung Slamet juga ditutup sementara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Terkait kenaikan suhu gunun yang tidak normal itu, Pengamat Gunung Api Surono menyebut hal itu terjadi karena curah hujan yang besar di kawasan tersebut.
"Curah hujan tahun ini besar, masuk kawah terus masuk ke dalam tubuh Gunung Slamet. Air panas jadi uap, keluar menjadi asap panas," katanya.
Gunung Slamet sendiri merupakan gunung api strato berbentuk kerucut dengan ketinggian puncak sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, Gunung Slamet berada di wilayah Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Gunungapi Slamet terletak pada koordinat 7°14,30' Lintang Selatan dan 109°12,30' Bujur Timur.