MPPA Alihkan 99,9% Saham SER ke Anak Usaha

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) melepas 99,99% saham PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) kepada Fortuna Optima Distribusi. Ini alasannya.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 April 2026, 14:30 WIB
PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) resmi mengalihkan kepemilikan saham PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) kepada entitas anak usahanya (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) resmi mengalihkan kepemilikan saham PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) kepada entitas anak usaha-nya, PT Fortuna Optima Distribusi (FOD), pada 8 April 2026.

"Pada tanggal 8 April 2026, Perseroan telah menandatangani Akta Jual Beli Saham dengan PT Fortuna Optima Distribusi (FOD) untuk melepas 99,9% kepemilikan saham Perseroan pada PT SER, sebagai bagian dari langkah strategis Perseroan dalam melakukan penataan struktur usaha dan optimalisasi portofolio bisnis," tulis Corporate Secretary MPPA, Mirtha Sukanto.

Ia menjelaskan, transaksi dilakukan melalui penandatanganan Akta Pengoperan Hak-Hak Atas Saham SER No. 30 tanggal 8 April 2026 di hadapan notaris Sriwi Bawana Nawaksari di Kabupaten Tangerang.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (9/4/2026) dalam transaksi tersebut, MPPA melepas sebanyak 99,9% sahamnya di PT SER kepada FOD dengan nilai sebesar Rp 61.649.000.000. FOD sendiri merupakan entitas anak usaha yang dimiliki langsung oleh MPPA sebesar 99,99%.

"PT Fortuna Optima Distribusi (FOD) merupakan entitas anak usaha Perseroan yang dimiliki secara langsung sebesar 99,99%," tulis Mirtha.

Struktur kepemilikan ini menegaskan bahwa transaksi dilakukan dalam lingkup internal grup usaha. Oleh karena itu, transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi, tetapi dikecualikan dari kewajiban tertentu sesuai ketentuan dalam POJK No. 42/2020.

Manajemen menegaskan, transaksi ini tidak mengandung benturan kepentingan. Tidak terdapat perbedaan kepentingan ekonomis antara perseroan dengan direksi, komisaris, maupun pemegang saham utama yang berpotensi merugikan perusahaan.

"Transaksi ini bukan merupakan suatu transaksi benturan kepentingan karena tidak terdapat perbedaan kepentingan ekonomis Perseroan dan kepentingan ekonomis pribadi anggota direksi, anggota dewan komisaris atau pemegang saham utama yang dapat merugikan Perseroan karena tidak terdapat dampak yang merugikan terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha Perseroan sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/2020," jelasnya.

Bagian dari Penataan Struktur Usaha

Pekerja bercengkerama di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). IHSG ditutup naik 3,34 poin atau 0,05 persen ke 5.841,46. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pengalihan saham ini merupakan langkah strategis MPPA dalam melakukan penataan struktur usaha dan optimalisasi portofolio bisnis. Dengan memindahkan kepemilikan SER ke FOD, perseroan berharap dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis dalam grup.

Selain itu, MPPA memastikan, aksi korporasi ini tidak memberikan dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan.

"Tidak ada dampak kejadian, informasi atau fakta material tersebut terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan atau kelangsungan usaha Emiten atau Perusahaan Publik," tulis MPPA.

Kinerja 2025

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Sebelumnya, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mencatat pertumbuhan penjualan dan perbaikan margin sepanjang 2025 di tengah proses transformasi bisnis yang masih berjalan. Namun, rugi perseroan meningkat pada 2025.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan yang dirilis Selasa (17/2/2026), MPPA membukukan penjualan bersih sebesar Rp 7,25 triliun pada 2025, naik 1,9% dibandingkan Rp 7,12 triliun pada 2024.

Dari sisi profitabilitas, laba bruto meningkat 2,8% menjadi Rp 1,27 triliun dari sebelumnya Rp 1,23 triliun. Kenaikan ini didorong oleh perbaikan bauran penjualan serta peningkatan relevansi produk sesuai kebutuhan pelanggan.

Meski demikian, laba operasional tercatat sebesar Rp 26,08 miliar, turun 23,1% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 33,92 miliar. Perseroan juga membukukan rugi bersih periode berjalan sebesar Rp 152,19 miliar, naik 28,87% dibandingkan rugi Rp 118,11 miliar pada 2024. Kerugian tersebut terutama dipengaruhi beban non-operasional, sementara kinerja operasional inti ritel dinilai tetap menunjukkan ketahanan.

CEO MPPA, Adrian Suherman, mengatakan capaian 2025 mencerminkan kemajuan dalam memperkuat fundamental perusahaan.

"2025 mencerminkan kemajuan berkelanjutan kami dalam memperkuat fundamental MPPA. Kami mencatat pertumbuhan penjualan yang moderat dan peningkatan margin melalui pengelolaan biaya yang disiplin serta perbaikan strategi merchandising,” ujar Adrian dalam keterangan resmi, Selasa (17/2/2026).

Ia menambahkan, pihaknya terus berinvestasi pada inisiatif yang mendukung transformasi jangka panjang.

"Respons positif terhadap inisiatif rebranding semakin memperkuat keyakinan kami bahwa upaya ini akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan,” tutur dia.

 

Strategi MPPA

Ilustrasi laporan keuangan (Foto: Isaac Smith/Unsplash)

Sepanjang tahun lalu, MPPA juga meluncurkan inisiatif rebranding pada 28 Agustus 2025 yang disebut turut meningkatkan keterlibatan pelanggan dan memperkuat relevansi merek sebagai fondasi pertumbuhan berikutnya.

Ke depan, MPPA menyatakan akan mempercepat strategi yang berorientasi pada pelanggan, termasuk memastikan ketersediaan produk segar dan kebutuhan keluarga dengan harga terjangkau. Perseroan juga berfokus pada peningkatan produktivitas gerai, penyempurnaan assortments, serta penguatan eksekusi operasional melalui pendekatan ritel terintegrasi.

Selain itu, penguatan rantai pasok, peningkatan keterlibatan digital, dan ekspansi selektif ke wilayah yang belum terlayani optimal menjadi bagian dari strategi untuk menangkap peluang pertumbuhan baru. Perseroan menegaskan tetap memprioritaskan disiplin operasional, efisiensi, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya