Liputan6.com, Beirut - Gelombang kecaman dari para pemimpin dunia mengemuka setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel di Lebanon menewaskan ratusan orang, hanya beberapa jam setelah diumumkannya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut otoritas Pertahanan Sipil Lebanon, sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 lainnya terluka akibat serangan yang menghantam sejumlah wilayah, termasuk Beirut, Lembah Bekaa, Sidon, serta kawasan selatan Lebanon.
Advertisement
Militer Israel menyebut operasi tersebut sebagai serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulainya operasi militer terbaru pada awal Maret, dengan sasaran lebih dari 100 titik yang diklaim sebagai pusat komando dan fasilitas militer Hezbollah.
Di tengah situasi darurat, Ketua Serikat Dokter Lebanon Elias Chlela menyerukan seluruh tenaga medis untuk segera membantu di rumah sakit, sementara fasilitas kesehatan di Beirut dilaporkan kekurangan pasokan darah, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (9/4/2026).
Perbedaan Sikap soal Gencatan Senjata
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pernyataan itu sejalan dengan Presiden AS Donald Trump yang menyebut konflik di Lebanon sebagai “pertempuran terpisah”.
Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan pandangan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, yang menjadi mediator utama dalam perundingan, dan menyatakan bahwa kesepakatan seharusnya mencakup Lebanon.
Dari Teheran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan akan memberikan respons keras jika serangan terhadap Lebanon tidak dihentikan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan bahwa syarat gencatan senjata sudah jelas, dan mendesak Washington untuk memilih antara menjaga kesepakatan atau melanjutkan konflik melalui Israel.
Kecaman dari Negara-Negara Arab
Qatar mengutuk serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon serta hukum humaniter internasional, termasuk United Nations Security Council Resolution 1701.
Sementara itu, Mesir menilai serangan tersebut sebagai upaya yang disengaja untuk menggagalkan upaya deeskalasi dan menyeret kawasan ke dalam kekacauan yang lebih luas.
Eropa Desak Akuntabilitas
Dari Eropa, Turki mengecam keras serangan tersebut dan memperingatkan dampaknya terhadap kondisi kemanusiaan di Lebanon.
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ia juga mendesak agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata serta menyerukan langkah tegas dari Uni Eropa, termasuk peninjauan hubungan dengan Israel.
Senada, Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menyatakan solidaritas terhadap Lebanon dan mengecam serangan terhadap warga sipil. Ia memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut berisiko memperluas konflik dan mengancam stabilitas kawasan, termasuk keberlangsungan gencatan senjata Iran dan keamanan jalur strategis seperti Selat Hormuz.