Harga Plastik dan Kedelai Naik, Harga Tempe Siap-Siap Ikut Melonjak

Kenaikan harga plastik otomatis bakal membuat harga tempe di pasar ikut naik.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 07 April 2026, 18:40 WIB
Pengrajin tahu menyelesaikan pembuatan tahu di pabrik kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (7/12/2022). Kenaikan harga kedelai membuat biaya produksi pengrajin tahu tempe ikut membengkak, berkisar 30-40 persen. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, kenaikan harga plastik otomatis bakal membuat harga tempe di pasar ikut naik. Terlebih, harga kedelai impor sudah melambung terlebih dahulu.

Lonjakan harga tempe terjadi lantaran plastik merupakan salah satu bahan baku dalam proses produksi.

"Contoh, tempe itu sekarang lebih banyak menggunakan plastik dibanding daun, karena daun lebih mahal harganya. Sekarang kebalik, pasti justru (plastik) lebih mahal dibanding daun. Tempe ada kenaikan, itu pasti tuh," ujar Mansuri kepada Liputan6.com, Selasa (7/4/20269.

Kendati begitu, ia belum bisa menghitung secara pasti berapa besar harga tempe secara rata-rata bakal naik. "Kalau berapa persennya saya pastikan kembali, karena tempe itu ada akumulasi. Kedelai naik, harga plastik naik," imbuh dia.

Secara umum, Mansuri menyebut bahwa kenaikan harga plastik otomatis berdampak terhadap arus kas pedagang pasar yang masih mengandalkan kresek sebagai wadah.

"Soal lonjakan harga plastik yang berpengaruh terhadap pengeluaran itu berapa persen, untuk case plastik pada pedagang yang menggunakan plastik sebagai bahannya, kenaikannya hingga 20 persen pengeluarannya," terang dia.

 

Ganggu Arus Kas Pedagang

Warga menggunakan kantong plastik saat berbelanja di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Pemprov DKI telah menetapkan Pasar Tebet Barat dan Pasar Tebet Timur sebagai pasar percontohan gerakan pengurangan kantong kresek atau kantong plastik sekali pakai. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Meskipun harga jual barang dagangannya naik imbas plastik, pemasukan yang diterima pedagang tidak serta merta bertambah. Lantaran pihak pedagang harus menanggung tambahan ongkos untuk pengadaan plastik.

Kendati begitu, harga plastik naik juga bisa diakali agar harga barang jualan tidak ikut terangkat. Mansuri memberi contoh, pedagang bisa saja tidak menaikan harga produk jualannya, namun mengurangi kuantitas.

"Itu membuat kita bisa menaikan harga jualnya, atau kita menahan tetapi mengurangi barang yang ada. Contoh, pedagang es buah akan mengurangi buahnya untuk mengakumulasikan harga plastiknya. Ini contoh aja ya," ungkap dia.

 

Dorong Pedagang dan Pembeli Cari Substitusi

Abdullah menunjukkan plastik sekali pakai dan kantong ramah lingkungan yang dijual di Pasar Tebet Barat, Jakarta, Selasa (30/6/2020). Jelang pemberlakuan larangan plastik sekali pakai, Abdullah mengaku penjualan kantong kresek di tokonya menurun hingga 30 persen. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Menyikapi hal ini, Mansuri lantas mendorong pihak pedagang maupun konsumen untuk mencari substitusi plastik sebagai wadah belanjaan. Semisal untuk konsumen atau pembeli, dengan membawa tas belanjaan sendiri.

"Ini momentum sebenarnya yang penting untuk dilaksanakan, adalah momentum untuk mendorong agar ada substitusi, ada perubahan kebiasaan, ada momentum untuk mendorong agar masyarakat kembali menggunakan tas belanjaan, tas anyaman, atau menggunakan bahan-bahan yang memungkinkan untuk bisa digunakan berulang kali," bebernya.

Di sisi lain, ia melihat kenaikan harga plastik sebagai momentum untuk turut mengangkat produk UMKM. Dalam hal ini pemakaian tas anyaman sebagai pengganti plastik.

"Ini yang terus kami dorong, ada upaya IKAPPI untuk membuat momentum ini sebagai momentum gerakan ayo belanja menggunakan tas anyaman produk UMKM atau membawa dari rumah dan menggunakan itu sebagai tempat berbelanja," tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya