Pertarungan Narasi Digital Warnai Perang Iran

Iran membalikkan taktik media yang digunakan AS dengan memanfaatkan meme, kecerdasan buatan, dan konten viral untuk menyindir balik.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 07 April 2026, 07:05 WIB
Puing-puing terlihat di lokasi yang diklaim televisi pemerintah Iran sebagai tempat jatuhnya pesawat transportasi militer AS dan dua helikopter yang terlibat dalam operasi penyelamatan di Provinsi Isfahan, Iran, April 2026. (Dok. Sepahnews via AP)

Liputan6.com, Teheran - Iran dinilai berhasil menonjolkan kelemahan dan inkonsistensi Amerika Serikat (AS) dalam perang yang sedang berlangsung. Tokoh yang mencolok dalam upaya ini adalah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Melalui platform X, ia secara aktif menyampaikan kritik dalam bahasa Inggris terhadap narasi yang dibangun oleh pemerintah AS, termasuk terhadap Presiden Donald Trump.

Dalam salah satu unggahannya, Ghalibaf menyindir pesan perang Trump dengan menulis, "Selamat datang di 'perlawanan' yang kami mulai 47 tahun lalu—tidak ada raja. Inilah rakyat Iran, dan kami menyetujui pesan ini."

Ghalibaf mengejek klaim AS mengenai kerusakan pesawat akibat serangan drone Iran. Ia secara sarkastik mengulang pernyataan AS yang menyebut pesawat mereka "hanya mengalami kerusakan ringan", untuk menunjukkan bahwa Washington berusaha meremehkan kemampuan militer Iran. 

Kritik terhadap Hipokrisi dan Strategi AS

Ghalibaf tidak berhenti di situ. Dalam unggahan lainnya, ia mengejek tujuan perang Trump yang terus berubah-ubah dengan menulis, "Mereka bermain 6D chess lagi!"—sebuah sindiran bahwa strategi yang digunakan tampak rumit, tetapi sebenarnya membingungkan dan tidak konsisten.

Ia juga mengkritik upaya AS yang diduga mencoba memanipulasi pasar minyak demi kepentingan politik. Ghalibaf memperingatkan para pengikutnya dengan mengatakan, "Jika mereka menaikkan (produksi atau harga), ambil posisi jual. Jika mereka menurunkannya, ambil posisi beli."

Tidak ketinggalan ia menyoroti pula kerentanan militer AS dengan menulis, "Bagaimana mungkin AS, yang bahkan tidak mampu melindungi tentaranya sendiri di pangkalan-pangkalan di kawasan, dapat melindungi mereka di wilayah kami?"

Unggahan-unggahan tersebut menjangkau ratusan ribu orang dan melemahkan narasi Washington yang menggambarkan kekuatan dan kompetensinya.

 

Video AI dan Konten Viral Jadi Senjata Baru

Selain itu, konten yang dibagikan oleh tentara AS di TikTok semakin menunjukkan perbedaan dengan pesan resmi Gedung Putih terkait perang Iran. Konten-konten tersebut memperlihatkan adanya kecemasan, keraguan, dan frustrasi di kalangan prajurit yang berpotensi dikerahkan.

Ketika pemerintahan Trump menggambarkan perang ini sebagai operasi yang cepat dan menentukan, serta membingkainya melalui "Operation Epic Fury" dengan bahasa yang bernada kemenangan bahkan terkesan seperti permainan, unggahan yang beredar dengan tagar #MilitaryTok justru menampilkan gambaran yang sangat berbeda.

Banyak prajurit muda, terutama dari Generasi Z, mengungkapkan kegelisahan mereka terhadap perang melalui TikTok. Mereka membagikan reaksi yang bersifat pribadi dan emosional, sekaligus memadukan humor dengan rasa khawatir.

Sebagian rekrutan bahkan menyindir nasib mereka sendiri karena baru bergabung dengan militer tepat saat perang dimulai. Sementara itu, yang lain menggunakan audio viral dan meme untuk mengekspresikan penyesalan atau kecemasan.

Penggunaan lagu In the Navy oleh The Village People yang menjadi viral turut menjadi simbol keraguan di kalangan prajurit. Dalam berbagai video, anggota militer tampak secara bercanda mempertanyakan peran mereka dalam perang tersebut.

Dengan terbatas dan tidak jelasnya pembaruan dari sumber resmi, #MilitaryTok berkembang menjadi saluran informal bagi publik untuk menilai kondisi moral pasukan sekaligus berspekulasi mengenai pergerakan militer.

Para ahli menilai bahwa unggahan-unggahan ini menghadirkan "perspektif yang lebih personal yang dibalut ironi atau humor gelap", serta mencerminkan generasi yang terbentuk oleh keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di luar negeri.

Opini Publik AS Kian Kritis

Sentimen di media sosial ini sejalan dengan hasil survei terbaru. Sekitar enam dari sepuluh warga AS menyatakan tidak setuju dengan penanganan perang oleh Trump. Sebanyak 40 persen bahkan percaya bahwa konflik ini akan membuat AS kurang aman.

Dalam enam hari pertama perang saja, AS dilaporkan telah menghabiskan sekitar USD 12,7 miliar. Korban jiwa juga tidak sedikit, dengan lebih dari 3.500 orang tewas di Iran dan 13 personel militer AS.

Dukungan publik, terutama dari generasi muda, terus menurun. Hanya 9 persen dari Generasi Z yang sangat mendukung perang, sementara 34 persen menyatakan penolakan kuat. Kepercayaan terhadap militer pun dilaporkan menurun, mencerminkan kejenuhan terhadap konflik luar negeri yang berkepanjangan dan narasi propaganda yang dipertanyakan.

Para pengamat menyimpulkan bahwa platform seperti TikTok telah membuka celah dalam kontrol narasi pemerintah AS. Sementara militer berupaya mengendalikan informasi, para tentara justru secara terbuka mengungkap kondisi di lapangan, termasuk celah operasional dan menurunnya moral.

Dalam konteks ini, kampanye digital Iran dinilai berhasil memanfaatkan situasi tersebut, mengubah propaganda AS menjadi bahan sindiran yang justru memperkuat narasi tandingan mereka. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya