Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengakui adanya keterlibatan aparat negara dalam insiden penerbangan drone ke wilayah Korea Utara awal tahun ini. Ia juga menyampaikan penyesalan atas meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.
Pernyataan tersebut disampaikan Lee dalam rapat kabinet, setelah sebelumnya pemerintah di Seoul membantah adanya keterlibatan resmi dalam pelanggaran wilayah udara yang terjadi pada Januari. Saat itu, otoritas Korea Selatan menyebut aktivitas drone kemungkinan dilakukan oleh pihak sipil.
Advertisement
Namun hasil penyelidikan terbaru menunjukkan sebaliknya. “Telah dikonfirmasi bahwa seorang pejabat Badan Intelijen Nasional dan seorang tentara aktif terlibat,” ujar Lee, dikutip dari laman Firstpost, Senin (6/4/2026).
Ia menilai aksi tersebut sebagai tindakan tidak bertanggung jawab yang memperburuk situasi keamanan di kawasan.
“Kami menyampaikan penyesalan kepada Korea Utara atas ketegangan militer yang tidak perlu akibat tindakan sembrono sejumlah individu,” kata Lee.
Insiden ini sebelumnya memicu reaksi keras dari Korea Utara. Pemerintah di Pyongyang pada Februari lalu memperingatkan akan memberikan “tanggapan yang mengerikan” jika pelanggaran serupa kembali terjadi.
Pihak Korea Utara juga mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone pada awal Januari. Media pemerintah setempat bahkan merilis gambar puing-puing perangkat tersebut, yang disebut dilengkapi kamera dan peralatan pengawasan.
Pengakuan ini muncul di tengah upaya Lee untuk memperbaiki hubungan antar-Korea sejak menjabat tahun lalu. Ia juga sebelumnya mengkritik kebijakan pemerintahan sebelumnya yang diduga menggunakan drone untuk menyebarkan propaganda ke wilayah Pyongyang.
Langkah klarifikasi dan permintaan maaf ini dinilai sebagai bagian dari strategi Seoul untuk meredakan ketegangan, meski respons lanjutan dari Korea Utara masih belum dapat dipastikan.