Miris, Bangunan SDN Batununggul Sukabumi Ambruk, Terakhir Direhab 2 Dekade Silam

Bangunan SDN Batununggul, di Desa Karangmekar, Kecamatan Cimanggu, Sukabumi, ambruk membuat belasan siswa kehilangan tempat belajar.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 05 April 2026, 19:06 WIB
Penampakan bangunan SDN Batununggul, di Desa Karangmekar, Kecamatan Cimanggu, Sukabumi, yang ambruk dan membuat belasan siswa kehilangan tempat belajar. (Liputan6.com/ Fira Syahrin)

Liputan6.com, Sukabumi - Bangunan sekolah yang tak layak kembali kembali menjadi sorotan di Kabupaten Sukabumi. Satu unit ruang kelas di SDN Batununggul, Desa Karangmekar, Kecamatan Cimanggu, dilaporkan ambruk pada Jumat (3/4/2026).

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut karena aktivitas belajar mengajar sedang libur. Namun, robohnya bangunan berukuran 7 x 8 meter ini mengakibatkan 18 siswa kelas 3 kehilangan ruang belajar utama mereka.

Saksi mata di lokasi, Cep Mawandi (30), menceritakan detik-detik kejadian yang diawali dengan suara gemuruh keras dari arah sekolah.

"Suaranya keras sekali. Begitu dicek, ternyata atap ruang kelas sudah ambruk ke lantai," ujar Cep Mawandi, Minggu (5/4/2026).

Ia menilai, penyebab ambruknya bangunan sekolah yang berada di Kampung Batununggul RT 01/01 ini diduga kuat akibat kerusakan struktural.

Material atap dan penyangga kayu sudah dalam kondisi lapuk dimakan usia. Gedung tersebut tercatat terakhir kali mendapatkan rehabilitasi pada tahun 2007, atau hampir dua dekade silam.

Kapolsek Jampangkulon, AKP Muhlis, membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya bersama unsur Forkopimcam Cimanggu telah mengamankan lokasi untuk menghindari risiko runtuhan susulan.

"Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka karena saat kejadian kelas dalam kondisi kosong. Namun, kami menekankan agar faktor keselamatan siswa dan pengajar menjadi prioritas utama ke depannya," kata Muhlis.

 

Belajar di Perpustakaan

Penampakan bangunan SDN Batununggul, di Desa Karangmekar, Kecamatan Cimanggu, Sukabumi, yang ambruk dan membuat belasan siswa kehilangan tempat belajar. (Liputan6.com/ Fira Syahrin)

Untuk sementara, 18 siswa kelas 3 yang terdampak akan dialihkan proses belajarnya ke ruang perpustakaan sekolah agar kegiatan akademik tetap berjalan.

Sementara itu, Perangkat Desa Karangmekar, Asep Kuswandi (58), menambahkan bahwa penurunan kualitas bangunan memang sudah terlihat sejak lama. Ia berharap hal ini menjadi perhatian serius otoritas terkait.

“Kejadian ini diharapkan menjadi sinyal mendesak bagi otoritas pendidikan untuk segera melakukan audit kelayakan fisik bangunan sekolah-sekolah tua di wilayah pelosok,” kata Asep.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya