Menteri Hanif Sebut Pembangunan PSEL di Makassar Harus Melalui Perjalanan Panjang

Meski digadang-gadang mampu mengolah 1.300 ton sampah per hari di tingkat regional, PSEL Makassar menyimpan ironi. Teknologi ini butuh pasokan sampah stabil.

oleh Ahmad YusranDiterbitkan 04 April 2026, 16:23 WIB
​Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq. (Liputan6.com/Ahmad Yusran)

Liputan6.com, Jakarta - ​Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menilai pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) harus melalui perjalanan panjang. Menurutnya, untuk saat ini proyek PSEL yang sudah berjalan baru di Benowo, Surabaya.

"Di Indonesia hanya di Benowo lokasi proyek PSEL yang betul-betul berkelanjutan. Dan Kota Makassar memang harus melalui perjalanan panjang dan lebar terkait PSEL, bahkan bapak Presiden berkali-kali mengingatkan bahwa solusi dari darurat sampah harus rampung pada 2029 sesuai mandat Perpres," kata Hanif di Makassar, Sabtu (4/4/2026).

Hal itu dia sampaikan dalam seremoni perjanjian kerja sama pembangunan PSEL di rumah jabatan Gubernur Sulsel.

Meski digadang-gadang mampu mengolah 1.300 ton sampah per hari di tingkat regional, PSEL Makassar menyimpan ironi. Teknologi ini butuh pasokan sampah yang stabil dan besar agar mesin tetap beroperasi. Di Makassar sendiri, target pasokan mencapai 1.300 ton per hari.

​Pengamat kebijakan publik, Dedi Manorai, mencemaskan adanya benturan kebijakan. Jika program pengurangan sampah di hulu (rumah tangga) sukses, pabrik raksasa ini justru terancam 'kelaparan'.

"Kita jangan sampai terjebak. Di satu sisi ingin sampah berkurang, di sisi lain ada kontrak pasokan yang harus dipenuhi untuk listrik," tuturnya.

Proyek ini memang tidak main-main. Skala urgensinya membuat Presiden Prabowo Subianto sampai harus turun tangan mengambil alih langsung. Hanif tak menampik adanya tantangan finansial, termasuk disparitas tarif listrik sebesar 20 sen. Namun, ia menjamin hal itu akan diimbangi dengan konstruksi kilat.

​"Ini momen luar biasa. Konstruksi ditargetkan paling cepat tiga tahun. Tapi, kuncinya tetap pada pengawasan ketat," tambah Hanif.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya