Iran Tolak Usulan Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Konflik Berpotensi Berlarut

Apa alasan Iran menolak proposal gencatan senjata ini?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 04 April 2026, 15:04 WIB
Tim pemadam kebakaran dan darurat Iran terus berjibaku memadamkan kobaran api akibat serangan tersebut. Tampak dalam foto, kepulan asap tebal membubung dari fasilitas penyimpanan minyak yang terkena serangan AS-Israel pada Sabtu 7 Maret 2026 malam di Teheran, Iran, Minggu 8 Maret 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Teheran - Iran menolak proposal gencatan senjata selama 48 jam yang diajukan Amerika Serikat, di tengah eskalasi konflik yang masih terus berlangsung di kawasan Timur Tengah. Penolakan tersebut dilaporkan Kantor Berita Fars pada Jumat, mengutip sumber resmi yang tidak disebutkan namanya.

Menurut laporan tersebut, proposal Washington disampaikan pada Rabu melalui negara ketiga. Namun hingga kini belum jelas apakah Israel juga akan dilibatkan dalam skema gencatan senjata tersebut.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran adalah pihak yang meminta gencatan senjata. Klaim itu langsung dibantah oleh Teheran, dikutip dari laman Middleeasteye, Sabtu (4/4/2026).

Upaya mediasi yang melibatkan Pakistan juga dilaporkan menemui jalan buntu. Iran disebut menolak bertemu pejabat AS di Islamabad karena menganggap tuntutan Washington tidak dapat diterima. Teheran, dalam posisinya, meminta penarikan penuh pasukan AS dari pangkalan di Timur Tengah serta kompensasi atas kerusakan fasilitas sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit.

Sejumlah negara seperti Turki, Mesir, dan Qatar turut berupaya menjadi mediator. Namun, laporan menyebut Qatar menolak tekanan untuk mengambil peran tersebut meskipun didorong oleh AS dan negara-negara regional lainnya.

Di tengah kebuntuan diplomasi, penilaian intelijen AS menunjukkan Iran masih memiliki kapasitas militer yang signifikan. Sekitar setengah dari peluncur rudal balistik dan drone kamikaze Iran dilaporkan masih aktif, bertentangan dengan klaim Washington dan sekutunya yang menyebut kemampuan militer Teheran telah lumpuh.

Perkembangan di lapangan juga memperlihatkan eskalasi serius. Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan menembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle di wilayah barat daya Iran. Iran awalnya mengklaim pesawat tersebut sebagai F-35, namun kemudian dikonfirmasi oleh sumber militer AS sebagai F-15E.

 

Insiden Jatuhnya Pesawat F-15E Milik AS

Three US F-15 fighter jets crashed in Kuwaiti territory due to fire from one of Kuwait's air defense systems while supporting Operation Epic Fury. (Phyllis Lilienthal/Unsplash)

Insiden itu memicu operasi pencarian besar-besaran oleh kedua pihak. Dari dua awak pesawat, satu telah berhasil diselamatkan oleh militer AS, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Lokasi jatuhnya pesawat diduga berada di provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, wilayah pegunungan di Iran.

Dalam insiden terpisah, laporan menyebut pesawat tempur A-10 Thunderbolt II juga ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz. Pilot pesawat tersebut dilaporkan berhasil menyelamatkan diri.

Rangkaian peristiwa ini memperkuat indikasi bahwa konflik berpotensi berlangsung lebih lama. Dengan jalur diplomasi yang buntu dan kemampuan militer kedua pihak yang masih signifikan, risiko eskalasi lebih lanjut dinilai tetap tinggi dalam waktu dekat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya