Proposal Damai China dan Pakistan Dinilai Tak Menyentuh Akar Konflik Iran-Barat

Seperti apa isi proposal damai yang usulkan China dan Pakistan?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 02 April 2026, 07:15 WIB
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Liputan6.com, Beijing - Rencana lima poin yang diusulkan China dan Pakistan untuk meredakan konflik dinilai belum mampu menjawab realitas di lapangan. Skema tersebut dianggap terlalu menekankan seruan pengekangan, sementara dinamika perang menunjukkan bahwa konflik baru akan berhenti ketika biaya melanjutkannya lebih besar dibandingkan kompromi.

Sejumlah analis menilai, ambang tersebut hingga kini belum tercapai. Selama kondisi itu belum terpenuhi, inisiatif perdamaian yang hanya berfokus pada gencatan senjata dan dialog diplomatik dinilai tidak akan efektif menghentikan eskalasi, dikutip dari laman timesofisrael, Jumat (3/4/2026).

Pendekatan yang lebih realistis, menurut sejumlah pengamat, justru harus dimulai dengan memahami batasan masing-masing pihak. Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, isu utama bukan sekadar stabilitas kawasan, melainkan kemampuan militer Iran, termasuk program nuklir, sistem rudal, serta jaringan proksi di kawasan. Elemen-elemen tersebut dianggap sebagai inti konflik, bukan sekadar faktor pendukung.

Di sisi lain, Iran memandang konflik ini sebagai persoalan eksistensial. Teheran diperkirakan tidak akan menerima kesepakatan yang menyerupai pelucutan senjata sepihak atau yang berpotensi melemahkan posisi strategisnya di masa depan. Tanpa jaminan keamanan yang kredibel, setiap kesepakatan berisiko runtuh sejak awal.

Dalam konteks tersebut, skema perdamaian komprehensif dinilai sulit dicapai dalam waktu dekat. Alternatif yang lebih mungkin adalah pendekatan bertahap melalui pengaturan berlapis. Tahap awal dapat berupa de-eskalasi terbatas yang disertai langkah-langkah yang dapat diverifikasi, seperti pembatasan serangan terhadap infrastruktur vital dan jalur pelayaran, termasuk di kawasan Selat Hormuz.

Tahap berikutnya dapat menyasar isu nuklir melalui mekanisme pembatasan dan transparansi, bukan pembongkaran langsung. Pendekatan ini dinilai memberi ruang bagi kedua pihak untuk mempertahankan posisi masing-masing, sekaligus menciptakan tingkat kepercayaan minimum.

Namun, dimensi regional tetap menjadi tantangan utama. Jaringan kelompok non-negara yang didukung Iran di berbagai kawasan, dari Levant hingga Teluk, merupakan bagian integral dari strategi Teheran. Tanpa menyentuh aspek ini, kesepakatan apa pun berpotensi tidak berkelanjutan.

 

Efektivitas Mediasi

Ilustrasi bendera Pakistan (pixabay)

Selain itu, efektivitas mediasi juga bergantung pada adanya penjamin yang memiliki kekuatan nyata. Tanpa mekanisme penegakan, kesepakatan hanya akan menjadi komitmen politik tanpa daya paksa. Dalam hal ini, kombinasi peran kekuatan besar seperti China, negara-negara Eropa, dan aktor regional dinilai dapat menjadi opsi untuk membangun kerangka yang lebih kredibel.

Pengamat juga menekankan pentingnya urutan dalam proses negosiasi. Upaya mendorong kesepakatan final sejak awal dinilai berisiko gagal karena minimnya kepercayaan antar pihak. Pendekatan bertahap dinilai lebih realistis dalam menghadapi kompleksitas konflik.

Di luar itu, terdapat satu faktor kunci yang kerap luput dari perhatian, yakni kelelahan semua pihak. Sejarah menunjukkan bahwa perdamaian sering kali tercapai bukan saat posisi moral paling kuat, melainkan ketika tekanan ekonomi, politik, dan sosial membuat konflik tidak lagi berkelanjutan.

Dengan demikian, prospek perdamaian dalam konflik Iran dan Barat tidak akan ditentukan oleh deklarasi diplomatik semata, melainkan oleh perubahan kalkulasi strategis masing-masing pihak. Tanpa itu, berbagai proposal yang ada saat ini berisiko hanya menjadi upaya meredam ketegangan tanpa benar-benar menyelesaikan akar konflik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya