China dan Pakistan Ajukan Lima Poin Ini untuk Hentikan Perang Iran

Salah satu poin yang diajukan China dan Pakistan adalah dimulainya perundingan damai secepat mungkin.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 01 April 2026, 11:15 WIB
Untuk diketahui, eskalasi serangan rudal ini merupakan aksi balasan Iran terhadap gempuran udara yang dilakukan Israel bersama Amerika Serikat ke Teheran pada Sabtu 28 Februari 2026. Tampak dalam foto, petugas tanggap darurat dan paramedis Israel memeriksa lokasi sekitar serangan rudal Iran di Tel Aviv, Israel, Sabtu 28 Maret 2026 pagi waktu setempat. (AP Photo/Maya Levin)

Liputan6.com, Beijing - China dan Pakistan pada Selasa (31/3/2026) menyerukan penghentian segera perang Iran. Seruan disampaikan setelah kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Pakistan Ishaq Dar ke Beijing.

Dalam pertemuan itu, kedua negara merumuskan sebuah inisiatif bersama untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

China dan Pakistan selama ini berupaya menjadi mediator guna mencegah konflik di Timur Tengah semakin meluas. Islamabad bahkan menyatakan kesiapannya untuk menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dalam pertemuan Menlu Ishaq Dar dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi, menurut pernyataan Beijing, keduanya sepakat untuk memperkuat komunikasi strategis dan koordinasi terkait situasi Iran serta melakukan upaya baru dalam mendorong perdamaian.

Wang Yi juga menyatakan dukungan terhadap upaya mediasi Pakistan, yang dinilainya sejalan dengan kepentingan bersama semua pihak.

"China mendukung dan menantikan Pakistan memainkan peran yang unik dan penting dalam meredakan situasi serta melanjutkan kembali perundingan damai," ujar Wang Yi seperti dikutip dari laporan CNA.

Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebutkan bahwa kedua negara telah menyepakati rencana lima poin, yang diawali dengan penghentian segera permusuhan dan dimulainya perundingan damai secepat mungkin.

Terkait perundingan—yang diklaim oleh AS sedang berlangsung namun dibantah oleh Iran—kedua pemerintah menegaskan bahwa dialog dan diplomasi merupakan satu-satunya pilihan yang layak untuk menyelesaikan konflik.

"China dan Pakistan mendukung pihak-pihak terkait untuk memulai perundingan, dengan komitmen semua pihak pada penyelesaian damai sengketa serta menahan diri dari penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan selama proses perundingan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Rencana tersebut juga menyerukan penghentian serangan terhadap warga sipil dan target non-militer, termasuk infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi.

Selain itu, kedua negara menekankan pentingnya pengamanan jalur pelayaran agar memungkinkan perlintasan yang cepat dan aman bagi kapal sipil dan komersial melalui Selat Hormuz yang strategis.

China dan Pakistan juga menyatakan bahwa perdamaian yang berkelanjutan harus didasarkan pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hukum internasional.

 

China Mitra Penting Iran

Kunjungan Menlu Ishaq Dar ke Beijing dilakukan setelah ia menjadi tuan rumah pertemuan dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Mesir, dan Turki pada Minggu (29/3), dalam upaya mencari solusi untuk mengakhiri perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Kekhawatiran terus meningkat terkait dampak konflik tersebut, termasuk terganggunya lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

China merupakan mitra penting Iran, namun hingga kini belum mengumumkan bantuan militer kepada Teheran. Sebaliknya, Beijing berulang kali menyerukan gencatan senjata.

Sementara itu, Teheran menolak mengakui perundingan resmi dengan Washington. Namun, menurut sumber anonim yang dikutip kantor berita Iran, Tasnim, Teheran telah menyampaikan tanggapan atas rencana 15 poin Presiden AS Donald Trump melalui Islamabad.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya