Trump Ingin Rebut Pulau Kharg, Pakar: Berisiko bagi Pasukan AS dan Belum Tentu Akhiri Perang Iran

Seperti apa analisis pakar atas keinginan Trump merebut Pulau Kharg? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 01 April 2026, 07:00 WIB
Kapal-kapal berlayar melintasi Teluk Arab menuju Selat Hormuz saat matahari terbenam di Uni Emirat Arab, Senin (23/3/2026). (Dok. AP/File)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengerahkan pasukan darat untuk merebut infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg, sebuah langkah militer berisiko tinggi yang menurut para ahli dapat membahayakan nyawa tentara AS dan belum tentu mampu mengakhiri konflik.

Para pakar menilai, jika Trump ingin melemahkan industri minyak Iran sebagai alat tawar dalam negosiasi, opsi yang lebih efektif adalah melakukan blokade laut terhadap kapal-kapal yang mengangkut minyak dari terminal di Pulau Kharg.

Pulau Kharg, yang terletak di seberang Teluk Persia dari pangkalan militer AS di Kuwait dan Arab Saudi, merupakan pusat utama industri minyak Iran. Sekitar 90 persen ekspor minyak Iran melewati pulau ini karena sebagian besar garis pantai Iran terlalu dangkal untuk disandari kapal tanker besar.

"Menempatkan pasukan di darat mungkin terlihat sebagai cara paling kuat secara psikologis untuk memukul Iran," kata Michael Eisenstadt, mantan analis militer AS yang kini memimpin Program Studi Militer dan Keamanan di Washington Institute for Near East Policy seperti dikutip dari laporan Associated Press.

"Namun di sisi lain, Anda menempatkan pasukan sendiri dalam bahaya. Pulau itu sangat dekat dengan daratan utama Iran, sehingga mereka bisa menghujani serangan besar, bahkan jika harus merusak infrastruktur mereka sendiri."

Langkah merebut Pulau Kharg berpotensi memperluas konflik. Menurut Danny Citrinowicz, pakar Iran dari Institute for National Security Studies di Israel, Iran dan sekutunya—termasuk kelompok Houthi di Yaman—dapat meningkatkan serangan balasan.

Serangan bisa berupa pemasangan ranjau di Selat Hormuz atau serangan drone ke berbagai target di kawasan, mulai dari Teluk Persia hingga Laut Merah.

Para peneliti komoditas dan bank investasi memperingatkan bahwa eskalasi besar dapat berdampak jangka panjang terhadap harga energi dan perekonomian global.

"Pulau Kharg sulit direbut dan dipertahankan," tutur Citrinowicz. "Dan dampaknya terhadap ekonomi Iran mungkin tidak cukup untuk memaksa mereka menyerah."

Sinyal Berbeda dari Trump dan Menlu AS

Trump saat ini berada di bawah tekanan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sebulan dengan Iran, yang telah menyerang pangkalan AS dan sekutunya di kawasan.

Iran sebagian besar telah menutup Selat Hormuz, jalur sempit yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupan ini menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan gejolak ekonomi.

Dalam unggahan di media sosial, Trump mengklaim bahwa "kemajuan besar sedang dicapai" dalam pembicaraan dengan Iran. Namun ia memperingatkan, jika kesepakatan tidak segera tercapai dan selat tidak dibuka kembali, AS akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, bahkan fasilitas desalinasi.

Trump mengemukakan kemungkinan pengerahan pasukan untuk menguasai pulau tersebut.

"Mungkin kita ambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita punya banyak opsi," ujar Trump kepada Financial Times. "Itu juga berarti kita harus berada di sana untuk sementara waktu."

Saat ditanya tentang pertahanan Iran di pulau itu, Trump mengatakan, "Saya rasa mereka tidak punya pertahanan. Kita bisa mengambilnya dengan sangat mudah."

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan sebelumnya bahwa pasukan darat tidak diperlukan untuk mencapai tujuan pemerintah. Namun dalam pernyataan terbaru, ia mengatakan presiden memiliki berbagai opsi, meski diplomasi tetap menjadi pilihan utama.

Berdasarkan analisis satelit Institute for the Study of War dan American Enterprise Institute, AS sendiri telah menyerang sejumlah target di Pulau Kharg, termasuk sistem pertahanan udara, radar, bandara, dan pangkalan hovercraft.

Petras Katinas, peneliti energi dari Royal United Services Institute, menilai gangguan terhadap Pulau Kharg tidak akan sepenuhnya menghentikan ekspor minyak Iran karena negara itu masih memiliki pelabuhan kecil lainnya.

Namun, hal tersebut akan mengurangi pendapatan minyak pemerintah Iran dan memaksa mereka menggunakan jalur ekspor yang lebih kecil, mahal, dan tidak efisien.

Meski demikian, Iran dinilai tidak akan menyerah hanya karena kehilangan satu aset strategis.

"Ini bukan pukulan yang menentukan," tegas Citrinowicz.

Risiko Besar bagi Pasukan AS

Jika AS benar-benar mencoba merebut Pulau Kharg, pasukan mereka akan menghadapi risiko besar karena lokasi pulau yang hanya berjarak sekitar 33 kilometer dari daratan Iran.

Dari daratan tersebut, Iran dapat meluncurkan rudal, drone, dan artileri. Meski telah mengalami serangan dari AS dan Israel, Iran masih mampu menyerang target di kawasan, termasuk pangkalan udara di Arab Saudi yang menyebabkan puluhan tentara AS terluka pekan lalu.

Eisenstadt menjelaskan bahwa bahkan dengan dukungan kapal dan pesawat tempur AS, waktu untuk mencegat setiap serangan akan sangat terbatas.

"Wilayah pantai Iran bergunung-gunung, sehingga drone bisa masuk melalui celah-celah yang sulit terdeteksi radar," terangnya. "Kita tidak punya cukup waktu peringatan."

 

Clayton Seigle dari Center for Strategic and International Studies turut menentang rencana penghancuran infrastruktur minyak di Pulau Kharg.

"Kita seharusnya membantu rakyat yang menginginkan masa depan lebih baik," katanya. "Menghancurkan sumber pendapatan Iran dalam jangka panjang justru tidak akan mendukung tujuan itu."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya