Liputan6.com, Jakarta - Produsen mobil asal China, BAIC tengah mengembangkan baterai sodium-ion, yang diklaim mampu terisi penuh hanya dalam waktu sekitar 11 menit. Inovasi ini, diyakini berpotensi untuk mengubah peta persaingan teknologi baterai kendaraan listrik global saat ini.
Berdasarkan laporan ArenaEV, Kamis (26/3/2026), baterai ini mengusung teknologi pengisian cepat 4C. Artinya, proses pengisian daya dapat berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan baterai konvensional yang digunakan di mobil listrik saat ini.
Advertisement
Dengan kemampuan tersebut, BAIC menyebutkan bahwa baterainya bisa diisi dari kondisi rendah hingga penuh dalam waktu sekitar 11 menit.
Tidak hanya soal kecepatan pengisian, baterai sodium-ion ini juga menawarkan kepadatan energi yang cukup kompetitif. Prototipe yang dikembangkan disebut memiliki densitas energi sekitar 170 Wh/kg, angka yang mulai mendekati performa baterai lithium-ion di kelas tertentu.
Teknologi ini menggunakan sel berbentuk prismatik yang dikembangkan langsung oleh tim riset dan pengembangan BAIC. Pendekatan tersebut memungkinkan efisiensi ruang yang lebih baik sekaligus mendukung performa pengisian cepat tanpa mengorbankan stabilitas baterai.
Sodium-ion sendiri mulai dilirik sebagai alternatif baterai lithium-ion karena bahan bakunya lebih melimpah dan biaya produksinya berpotensi lebih rendah. Selain itu, teknologi ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak bergantung pada material langka seperti lithium atau kobalt.
Tantangan Baterai Sodium-Ion
Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satu kelemahan utama baterai sodium-ion selama ini adalah densitas energi yang lebih rendah dibandingkan lithium-ion.
Namun, dengan perkembangan terbaru dari BAIC, celah tersebut mulai dipersempit dan membuka peluang penggunaan lebih luas di kendaraan listrik.
Jika teknologi ini berhasil dikembangkan hingga tahap produksi massal, bukan tidak mungkin waktu pengisian mobil listrik ke depan bisa semakin mendekati durasi pengisian bahan bakar kendaraan konvensional.