Penambang Bitcoin Tinggalkan Kripto, Lebih Untung Garap AI

Hashrate Bitcoin turun tajam karena miner beralih ke bisnis AI yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan aktivitas penambangan kripto.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 23 Maret 2026, 19:00 WIB
Rig pertambangan dari komputer super (kiri) dan filter udara yang berada dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Liputan6.com, Jakarta - Hashrate atau kekuatan komputasi jaringan Bitcoin turun tajam karena banyak penambang beralih ke bisnis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan aktivitas mining kripto.

Selama ini, pergerakan hashrate Bitcoin biasanya sejalan dengan harga aset tersebut. Ketika harga naik, para pelaku industri akan meningkatkan kapasitas penambangan untuk memaksimalkan keuntungan.

Dikutip dari U.Today, Senin (23/3/2026), pada awal 2026, hashrate bahkan sempat melonjak hingga mendekati 1.200 exahash per detik (EH/s). Namun, tren tersebut berbalik arah ketika harga Bitcoin mulai mengalami tekanan.

Penurunan tajam ini mencerminkan perubahan strategi di kalangan miner, yang kini mulai mengalihkan sumber daya mereka ke sektor lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi.

Peralihan ke sektor AI dipicu oleh perbedaan margin keuntungan yang signifikan. Industri kecerdasan buatan membutuhkan daya listrik besar dan sistem pendingin canggih—dua hal yang sudah dimiliki perusahaan penambang Bitcoin.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Bisnis AI Lebih Menggiurkan Dibanding Mining Kripto

Rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). Pabrik yang berada di lokasi rahasia di Islandia ini merupakan salah satu pabrik bitcoin terbesar di dunia. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Sejumlah perusahaan seperti Core Scientific, Bit Digital, dan Iris Energy mulai memodifikasi pusat data mereka untuk mendukung komputasi AI dengan GPU berperforma tinggi.

Dari sisi pendapatan, penambangan Bitcoin hanya menghasilkan sekitar USD 57 hingga USD 129 per megawatt. Sementara pusat data AI mampu menghasilkan USD 200 hingga USD 500 per megawatt dengan kapasitas listrik yang sama.

Perbedaan ini membuat bisnis AI jauh lebih menarik bagi pelaku industri.

Transformasi ini juga terlihat dari berbagai kerja sama besar antara perusahaan penambang dan raksasa teknologi global.

Perusahaan Iris Energy (IREN) menandatangani kontrak layanan cloud AI senilai USD 9,7 miliar dengan Microsoft.

Sementara itu, Hut 8 menjalin kesepakatan infrastruktur AI senilai USD 7 miliar dengan Google.

 

Jadi Sektor Baru

Seorang teknisi melakukan perawatan pada rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin 'Genesis Farming' di dekat Reykjavik, Islandia (16/3). (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Menurut laporan Quantum Foundry dan Disruption Banking, perusahaan penambang kini tidak lagi dipandang sekadar pelaku industri kripto.

Di mata pasar, khususnya Wall Street, mereka mulai dikategorikan sebagai “aset infrastruktur energi penting” yang mendukung pertumbuhan industri AI global.

Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam industri, di mana AI menjadi sektor baru yang menyerap sumber daya dari ekosistem kripto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya