Gejolak Timur Tengah Picu Risiko dan Peluang bagi Ekspor Indonesia

Konflik di Timur Tengah bisa memicu volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 22 Maret 2026, 21:00 WIB
Konflik di Timur Tengah bisa memicu volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan. Namun, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia dinilai terbatas karena porsi ekspor ke kawasan tersebut relatif kecil.

Data BPS yang diolah Indonesia Eximbank Institute menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total nasional, sementara impor mencapai 3,9% dan didominasi komoditas energi. Hal ini menandakan eksposur langsung Indonesia terhadap kawasan konflik tidak besar.

Sebagian besar ekspor Indonesia masih mengarah ke Asia Timur, Asia Tenggara, Amerika Utara, Asia Selatan, dan Eropa Barat, sehingga kondisi ekonomi di wilayah tersebut lebih menentukan kinerja ekspor nasional.

Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menegaskan pihaknya terus mencermati perkembangan konflik, khususnya terkait jalur energi global.

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (22/3/2026).

Kawasan Timur Tengah berkontribusi lebih dari 30% produksi minyak dunia, dengan sekitar 20–30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini dapat mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik.

Meski Indonesia tidak langsung mengimpor minyak dari kawasan tersebut, dampaknya tetap terasa melalui negara perantara seperti Singapura dan Malaysia yang memasok sekitar 75% impor minyak Indonesia.

 

Kenaikan Harga Energi

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Selain itu, kenaikan harga energi juga berpotensi menekan aktivitas industri di negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan, yang pada akhirnya memengaruhi permintaan ekspor Indonesia.

Jika ketegangan berlangsung lama, harga minyak global diperkirakan berada di kisaran USD 85–120 per barel sepanjang 2026, lebih tinggi dari rata-rata awal tahun sekitar USD 60 per barel.

Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi global, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar juga berpotensi menambah tekanan biaya impor.

 

Ekspor Indonesia

Ilustrasi Peti Kemas, Perdagangan, Ekonomi, Internasional, Ekspor, Impor. Photo by Taro Ohtani on Unsplash

Namun, kenaikan harga energi turut mendorong harga komoditas ekspor seperti batubara dan minyak kelapa sawit (CPO). Selain itu, penggunaan bahan baku lokal dan tren penurunan suku bunga sebelumnya membuka peluang peningkatan daya saing ekspor.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tambah Rini.

Dengan kondisi tersebut, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan tumbuh 4–5% dan berpotensi meningkat menjadi 5–6% pada 2027, dengan catatan permintaan global membaik dan tensi geopolitik mereda.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya