Puncak Konsumsi Minyak dan Gas Diprediksi Terjadi di 2035

Konsumsi minyak dan gas bumi diprediksi mencapai puncaknya pada 2035.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 21 Maret 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi BBM (bahan bakar minyak). (Photo on www.freepik.com)

Liputan6.com, Jakarta - Riset Bain & Company melihat arah bisnis yang cenderung memperhatikan transisi energi. Sementara itu, konsumsi minyak dan gas bumi (migas) diprediksi juga mencapai puncaknya pada 2035.

Mengutip hasil survei yang dilakukan oleh Bain&Company pada Desember 2025 hingga Januari 2026, 800 eksekutif bisnis migas dan energi memberikan respons arah bisnis kedepannya. Mengamankan keunggulan kompetitif serta akses terhadap energi bersih yang terjangkau dan andal menjadi prioritas utama, selain pengurangan emisi karbon.

"Namun, jalur menuju bisnis berbasis transisi energi semakin berbeda-beda. Perusahaan yang sudah berinvestasi besar tetap berkomitmen, sementara yang investasinya kecil mulai menarik diri," seperti dikutip dari hasil riset Bain&Company, Sabtu (21/3/2026).

Melihat dari sisi regional, lebih dari setengah perusahaan di Eropa mengalokasikan lebih dari 20% modalnya untuk investasi transisi energi. Sebagai perbandingan, hanya sekitar seperempat di Amerika Utara dan wilayah lain yang mengarahkan investasinya ke sektor tersebut.

"Ini menunjukkan bahwa perusahaan di lingkungan kebijakan yang stabil cenderung mempertahankan investasinya," tulis Bain&Company.

Meski demikian, para eksekutif masih percaya bahwa ekonomi global akan sangat bergantung pada hidrokarbon selama setidaknya satu dekade ke depan. Banyak pemimpin minyak dan gas memperkirakan puncak permintaan minyak akan terjadi pada 2035 atau setelahnya, meskipun berbeda antar wilayah.

"Menariknya, kini ada konsensus yang lebih kuat bahwa dunia kemungkinan baru akan mencapai emisi nol bersih (net-zero) pada tahun 2070 atau lebih lambat. Ini menunjukkan kompleksitas transisi energi dan kurangnya dukungan kebijakan yang diharapkan," seperti dikutip.

 

Tren 2026

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Bain & Company melihat beberapa aspek yang diprediksi menjadi tren investasi pada 2026 ini. Mulai dari arah investasi pasca ketegangan geopolitik, restrukturisasi seperti merger dan akuisi, hingga dampak AI yang dinilai belum maksimal.

Berikut rincian empat tren utama di 2026:

1. Geopolitik membentuk ulang investasi secara real-time

Daya tarik investasi kini semakin bersifat lokal. Amerika Utara masih menarik, tetapi minat menurun, sementara Timur Tengah dan Asia mulai naik.

2. Restrukturisasi akan meningkat

Dua pertiga eksekutif memperkirakan lebih banyak divestasi, konsolidasi, dan penutupan bisnis dalam dua tahun ke depan karena tekanan biaya, volatilitas, dan persaingan.

 

Tren Berikutnya

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

3. Eksperimen AI meningkat, tapi hasilnya belum terasa

Sekitar dua pertiga perusahaan masih dalam tahap uji coba AI tanpa hasil signifikan. Kurang dari 10% yang benar-benar melakukan transformasi AI secara menyeluruh.Hambatan utama:• Tujuan AI tidak jelas• Kurangnya talenta teknis• Data yang tidak memadai

4. Kebutuhan listrik AI mendorong perubahan di sektor utilitas

Permintaan listrik dari data center dan AI meningkat tajam. Solusi utama yang diprioritaskan:• Penyimpanan energi• Perpanjangan umur aset• Investasi jaringan listrik• Gas alam dan energi terbarukan

Perusahaan utilitas kini lebih memilih bekerja sama (coinvest) dengan perusahaan teknologi untuk membiayai infrastruktur, daripada bergantung pada pemerintah.

"Intinya, industri ini sedang bergerak menuju pendekatan yang lebih realistis dan berbasis profit, bukan sekadar ambisi transisi energi atau hype teknologi," tutup hasil riset tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya