Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (17/3/2026) mengatakan AS telah diberi tahu oleh sebagian besar sekutu NATO bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam perang Iran. Trump menyebut sikap ini sebagai "kesalahan yang sangat bodoh".
Pernyataan itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di Oval Office dalam kunjungan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin pada peringatan Hari St. Patrick.
Advertisement
Trump tidak memberikan indikasi bahwa ia berencana menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara anggota NATO atas sikap tersebut. Ia menegaskan bahwa negara-negara NATO sebenarnya mendukung operasi militer bersama AS dan Israel, yang kini telah memasuki minggu ketiga, meskipun mereka tidak ingin terlibat secara langsung.
"Saya pikir NATO membuat kesalahan yang sangat bodoh," kata Trump seperti dikutip dari The Guardian. "Semua orang setuju dengan kami, tetapi mereka tidak ingin membantu. Dan kita, sebagai AS, harus mengingat hal itu karena kami menilai ini cukup mengejutkan."
Ketika ditanya apakah ia akan melakukan tindakan balasan terhadap sekutu NATO yang tidak memberikan dukungan, Trump mengatakan bahwa ia saat ini tidak memiliki rencana apa pun.
Sebelumnya, Trump pernah mengancam akan menarik AS dari NATO, namun ia tidak menyinggung hal tersebut dalam pernyataannya pada Selasa.
Dalam kesempatan yang sama, Trump menyerukan kepada negara-negara lain untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Seruan itu muncul setelah Iran merespons serangan AS-Israel dengan menggunakan drone, rudal, dan ranjau yang secara efektif menutup jalur tersebut bagi kapal tanker.
Namun, sejumlah sekutu AS pada Senin (16/3) menyatakan bahwa mereka belum memiliki rencana untuk mengirim kapal guna membantu membuka kembali selat tersebut, yang pada dasarnya menolak permintaan dukungan militer dari Trump.
Sebelumnya, pada Selasa, Trump menulis di platform Truth Social bahwa "karena kita telah meraih keberhasilan militer yang begitu besar, kita tidak lagi 'membutuhkan' atau menginginkan bantuan dari negara-negara NATO—kita memang tidak pernah membutuhkannya."
Ia secara khusus menyoroti Jepang, Australia, dan Korea Selatan.