Tradisi Wiwitan Dalam Seni Ukiran Jepara

Sebelum mata pahat menyentuh permukaan kayu, ada sebuah tahapan awal yang disebut ritual Slametan Wiwitan.

oleh Arief PramonoDiterbitkan 16 Maret 2026, 13:18 WIB
Pengukir Jepara melakukan prosesi wiwitan sebelum mengukir pahatan karya untuk Pameran Tatah. (Liputan6.com/Arief Pramono)

Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Jepara sudah ratusan tahun tersohor dengan karya seni ukir kayu yang telah mendunia. Dari tangan-tangan pemahat kayu, maha karya beragam ukiran banyak tercipta.

Kini, di tengah hiruk-pikuk industri kayu dengan didukung mesin-mesin modern yang serba masif, ada sebuah tradisi sunyi yang masih dijaga dengan khidmat oleh para pengukir di Jepara.

Sebelum mata pahat menyentuh permukaan kayu, ada sebuah tahapan awal yang disebut ritual Slametan Wiwitan. Prosesi yang melekat dan sudah menjadi tradisi bagi para pemahat tradisional di kota ujung utara Pulau Jawa.

Bagi Roni, salah satu pengukir Jepara yang menjaga tradisi tersebut, Selametan Wiwitan bukan sekadar seremoni formalitas semata. Melainkan gerbang spiritual yang menentukan 'ruh' dari setiap guratan motif ukiran yang dihasilkan.

Secara harfiah, Wiwitan berarti 'awal' atau 'permulaan'. Dalam konteks penciptaan seni ukir, ritual ini merupakan bentuk penyucian niat.

Roni meyakini bahwa kayu adalah benda hidup yang memiliki energi. Dan untuk mengolahnya menjadi sebuah karya seni, seorang seniman harus terlebih dahulu 'meminta izin' kepada Sang Pencipta dan alam semesta.

“Intinya adalah berdoa dan berniat. Orang Jawa itu memulai sesuatu selalu dengan niat yang bersih,” ungkap Roni usai melakukan Wiwitan untuk pembuatan karya Pameran TATAH 2026, Minggu (15/3/2026).

Di bengkel kerjanya di Desa Sukodono, Kecamatan Tahunan Jepara, ritual ini dilakukan dengan kesederhanaan yang mendalam: Yakni mengawalinya dengan doa bersama dan selamatan kecil.

Proses ini bertujuan untuk melepaskan ego pribadi seniman, sehingga tangan yang bekerja nantinya bukan digerakkan oleh ambisi semata, melainkan oleh ketulusan batin.

Buah karya ukiran yang dikerjakan Roni ini, nantinya ditampilkan di Pameran Tatah 2026. Agenda ini rencananya diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada April 2026.

Dalam pemahaman tradisi Jawa, setiap proses penciptaan sering kali dimaknai sebagai sebuah perjalanan batin.

Wiwitan menjadi langkah pertama dalam perjalanan tersebut, sebuah laku yang menempatkan kerja sebagai bagian dari relasi manusia dengan Yang Ilahi.

Dari keteduhan batin itulah, lahir karya yang tidak sekadar menampilkan keterampilan teknis, tetapi juga memuat rasa.

Garis-garis ukiran yang meliuk, spiral dan organik dalam tradisi ukir Jepara, tidak semata menjadi pola yang mati. Ia tumbuh seperti sulur yang hidup, mengikuti irama tangan pengukir yang bekerja dengan kesabaran.

Dalam proses yang demikian, motif ukiran tidak hanya hadir sebagai ornamen saja. Namun juga sebagai bahasa rupa yang menyimpan pengalaman spiritual dan kedalaman tradisi.

Wiwitan Cara Memaknai Pekerjaan

Di tengah tuntutan produksi massal yang serba cepat, memilih untuk melakukan Wiwitan adalah sebuah keberanian.

Roni dan banyak pengukir lainnya di Bumi Kartini, tetap mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari cara mereka memaknai pekerjaan.

Bagi mereka, kualitas sebuah mahakarya tidak hanya diukur dari kehalusan teknik saja. Namun juga dari seberapa besar energi doa dan perenungan yang tertanam di dalamnya.

“Saya mencoba menerjemahkan tradisi ini ke masa kini. Esensinya tetap saya pegang,” ucap Roni saat ditemui Liputan6.com.

Roni menyebut, Wiwitan mengajarkan bahwa setiap keping kayu yang ditatah membawa tanggung jawab budaya dan sejarah panjang Jepara.

Sejarah yang mempertemukan berbagai pengaruh, Hindu, Buddha, Islam, serta beragam etnis yang kemudian membentuk harmoni visual dalam tradisi ukir pesisir Jawa.

Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, tradisi seperti Wiwitan mungkin tampak sederhana.

Tradisi Wiwitan yang dilakukan Roni memang tidak selalu terlihat dalam hasil akhir sebuah ukiran. Serta tidak pula menjadi bagian dari proses industri yang terukur.

Namun justru dalam kesunyian itulah, nilai-nilai yang membentuk identitas ukir Jepara terus dijaga oleh Roni dan pengukir tradisional lainnya.

Kesadaran inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan dalam pameran seni ukir berbasis riset dan sejarah Pameran Tatah 2026.

Melalui praktik-praktik seperti Wiwitan, pameran ini ingin menunjukkan bahwa ukir Jepara bukan sekadar komoditas furnitur saja. Melainkan perwujudan dari keahlian masyarakat Jepara yang berakar pada laku spiritual dan tradisi panjang.

Dengan mengawali proses secara benar melalui Wiwitan, karya-karya yang dipamerkan diharapkan menjadi sebuah 'jendela' bagi dunia untuk melihat sisi modernitas Jawa. Yakni tetap bersahaja dan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan.

Bagi Roni dan tim yang terlibat dalam Pameran Tatah 2026, menjaga kearifan lokal bukan berarti menolak zaman. Namun memastikan bahwa dalam setiap kemajuan, manusia tidak kehilangan pegangan pada akar yang paling dalam.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya