Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan saham Senin, (16/3/2026). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik itu di tengah investor menilai harga minyak yang tinggi dan perkembangan terbaru dalam konflik Amerika Serikat (AS)-Iran yang meningkat.
Mengutip CNBC, Senin pekan ini, harga minyak mentah melampaui USD 100 per barel karena pemerintahan AS Donald Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap Pulau Kharg di Teheran, Iran, sebuah pusat strategis vital yang sering disebut sebagai “jalur kehidupan minyak” Iran.
Advertisement
Harga minyak mentah AS diperdagangkan stabil di kisaran USD 98,7 per barel pada pukul 20:10 ET. Harga minyak Brent naik 0,48% menjadi USD 103,7 per barel.
Presiden AS Donald Trump pada Jumat, 13 Maret 2026 memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg dan memperingatkan akan ada serangan lebih lanjut terhadap fasilitas minyak mentah yang terletak di sana. Duta Besar untuk PBB Mike Waltz mengulangi peringatan itu pada Minggu, 15 Maret 2026
Sementara itu, indeks ASX 200 di Australia melemah 0,31% pada awal sesi perdagangan. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 0,12% dan indeks Topix merosot 0,11%. Indeks Kospi di Korea Selatan naik 0,95%. Sedangkan indeks Kosdaq stabil.
Indeks Hang Seng di Hong Kong akan dibuka menguat dengan kontrak berjangka di 25.481, dibandingkan penutupan terakhir idneks saham di 25.465,6.
Di sisi lain, Goldman Sachs memperkirakan lonjakan harga energi akibat perang di Iran dapat mengurangi sekitar 0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) global selama tahun depan. Sementara itu mendorong inflasi utama lebih tinggi sekitar 0,5%-0,6%.
Harga gas alam yang lebih tinggi diperkirakan menambah tekanan inflasi dan hambatan pertumbuhan lebih lanjut, terutama di Eropa dan Asia, dengan risiko cenderung berdampak lebih besar jika Selat Hormuz tetap tertutup, tulis bank tersebut dalam sebuah catatan pada Minggu.
Wall Street
Kontrak berjangka saham naik sedikit karena Wall Street mencoba pulih dari minggu yang merugikan lainnya.
Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average menguat 153 poin, atau 0,3%. Kontrak berjangka S&P 500 bertambah 0,3% dan kontrak berjangka Nasdaq-100 naik 0,3%.
Pada Jumat lalu, tiga indeks utama AS turun. S&P 500 turun 0,61%, menempatkannya 5% di bawah level tertinggi baru-baru ini dan ditutup pada 6.632,19. Nasdaq Composite
turun 0,93% dan berakhir pada 22.105,36. Dow Jones Industrial Average turun 119,38 poin, atau 0,26%, dan ditutup pada 46.558,47.
Penutupan IHSG pada 13 Maret 2026
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan saham Jumat, (13/3/2026). Koreksi IHSG terjadi di tengah seluruh sektor saham memerah dan harga minyak menguat.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini merosot 3,05% ke posisi 7.137,21. Indeks saham LQ45 terpangkas 3,04% ke posisi 728,32. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG bergerak terkoreksi sepanjang Jumat pekan ini. "Di mana hal ini masih sesuai dengan apa yang kami sampaikan pada report teknikal pagi ini. Dari sisi sentimen, diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas minyak mentah yang kembali menguat setelah Selat Hormuz kembali memanas akibat adanya serangan thd kapal tanker,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.
Ia menambahkan, di sisi lain, investor akan menghadapi waktu perdagangan yang cukup singkat menjelang libur Nyepi dan Lebaran 2026.
Jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.350,28 dan level terendah 7.132,21. Sebanyak 629 saham melemah sehingga bebani IHSG. 104 saham menguat dan 86 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.606.804 kali dengan volume perdagangan saham 28,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.944.
Seluruh sektor saham kompak tertekan. Sektor saham basic dan transportasi turun 3,87%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 2,86%, sektor saham industri terpangkas 3,46%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 2,18%.
Lalu sektor saham siklikal merosot 3,55%, sektor saham kesehatan melemah 1,19%, sektor saham keuangan terpangkas 1,6%, sektor saham properti tergelincir 1,79%. Lalu sektor saham teknologi melemah 3,41% dan sektor saham infrastruktur merosot 3,64%