Pemkot Jaktim Serukan Pemilahan Sampah Dimulai dari Rumah, Tekan Beban Pengelolaan di TPA

Pemkot Jakarta Timur terus menggencarkan program pemilahan sampah dari rumah kepada masyarakat guna tekan beban pengelolaan di tempat Pembuangan Akhir (TPA).

oleh Nikmah Laily HawaDiterbitkan 12 Maret 2026, 18:05 WIB
Tempat sampah berbeda untuk dukung pemilahan sampah dari rumah. (dok. Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) terus mengintensifkan program pemilahan sampah berbasis rumah tangga sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengelolaan sampah dari sumbernya.

Melalui kegiatan sosialisasi, Wali Kota (Walkot) Jaktim menyebutkan pihaknya terus berupaya untuk terus mengedukasi masyarakat dari rumah ke rumah terkait pengelolaan sampah.

Pelaksanaan program tersebut, kata Munjirin, dilakukan sebagai tindak lanjut melalui implementasi atas Instruksi Presiden Prabowo Subianto serta arahan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengenai pengelolaan sampah berbasis rumah dan Rukun Warga (RW).

"Terkait pemilahan sampah berbasis rumah dan berbasis RW, saat ini kami sedang masif melakukan sosialisasi dari rumah ke rumah," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin, Kamis (12/3/2026), seperti dilansir Antara.

"Kami di Jakarta Timur menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh Menteri serta Instruksi Presiden dan Gubernur terkait pemilahan sampah berbasis rumah dan berbasis RW," tambahnya.

Pemkot Jaktim, kata dia, juga menggerakkan seluruh jajaran wilayah untuk mempercepat sosialisasi kepada masyarakat.

Selain sosialisasi dan edukasi, Pemkot Jaktim juga mendorong peran aktif para pengurus RT dan RW untuk mendampingi warga dalam memilah sampah.

Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya (rumah), sekaligus meminimalisasi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dengan demikian, pengelolaan sampah dapat berjalan efektif.

Program Masih Belum Optimal

Petugas menunjukkan suhu sampah organik di Unit Pengolahan Sampah (UPS) 2 Sukmajaya Depok, Selasa (5/3/2019). Sampah organik yang diolah menjadi pupuk kompos untuk tanaman itu sebagai alternatif permasalahan sampah. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Lebih lanjut, Munjirin mengakui pelaksanaan program pemilahan sampah berbasis rumah tangga belum menjangkau seluruh warga.

Oleh karena itu, Pemkot Jaktim mengintensifkan sosialisasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti aparat kecamatan, kelurahan, serta Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH).

"Walaupun memang belum semuanya tersasar, kami terus bersama aparat kecamatan, kelurahan, dan Suku Dinas Lingkungan Hidup melakukan sosialisasi secara masif tentang pemilahan sampah di sumbernya," kata Munjirin.

Ia pun mengimbau masyarakat untuk mendukung keberhasilan program tersebut dengan memilah sampah mulai dari rumah, antara sampah organik dan anorganik.

"Sehingga, dapat mengurangi beban sampah yang sulit terurai, khususnya plastik," ucap Munjirin.

Upaya ini didorong dengan komitmen dan semangat yang besar demi mewujudkan Indonesia yang Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) sebagaimana program Presiden Prabowo Subianto melalui partisipasi aktif masyarakat melalui pengelolaan sampah.

Tak Semua Sampah Berakhir di Tempat Pembuangan

Sebagai informasi, dalam kurun waktu empat bulan (akhir 2025 hingga awal 2026), tercatat total tiga kali kejadian longsor. Tampak foto udara menunjukkan tim penyelamat menggunakan alat berat untuk mencari korban longsor di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin 9 Maret 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memperketat sistem pemilahan sampah agar tidak seluruh sampah dari Jakarta dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat (Jabar).

"Jumlah sampah kita antara 7.400 sampai dengan 8.000 ton per hari. Hampir sebagian besar tidak dilakukan pemisahan, kemudian dikirim ke Bantargebang," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo.

Pramono mengatakan, kebijakan pemilahan sampah itu juga sejalan dengan arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Melalui pemilahan yang lebih baik, tidak semua sampah akan berakhir di tempat pembuangan akhir.

Sampah yang dipilah sendiri di rumah juga dapat menghasilkan inovasi baru dalam penggunaan kembali (reuse) material yang masih bernilai.

"Dan untuk itu, kami melakukan proses pemilahan di ujung, sekaligus untuk mengatur agar semuanya itu tidak dikirimkan ke Bantargebang. Karena Bantargebang memang harus mulai ada pembatasan, karena daya tampungnya sudah sangat terbatas," pungkas Pramono.

Infografis  Siklus Hidup Sampah Botol Plastik    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya