Transparansi dan Komunikasi Dinilai Penting Genjot Pasar Modal Indonesia

DPR menilai, komunikasi antara regulator, pelaku industri dan investor menjadi faktor penting membangun transparansi di pasar modal.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 12 Maret 2026, 12:33 WIB
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menanggapi mengenai upaya transformasi serta penguatan transparansi pasar modal. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia dinilai memiliki momentum untuk meningkatkan daya saing dan naik kelas di tingkat global. Upaya transformasi serta penguatan transparansi dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong perkembangan pasar modal nasional.

Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan komunikasi mengenai berbagai kebijakan dan rencana pengembangan pasar modal perlu terus disampaikan kepada publik.

"Karena saat ini menjadi momentum penting untuk menjadikan pasar modal kita naik kelas, dan itu perlu selalu kita komunikasikan,” kata Jeffrey dalam acara diskusi Road to Investor Relations Forum (IRF) 2026, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (10/3/2026)

Menurut dia, penyampaian informasi terkait langkah-langkah yang dilakukan bursa serta rencana ke depan penting agar investor, emiten, dan masyarakat memahami arah pengembangan pasar modal.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI Mukhamad Misbakhun menilai komunikasi antara regulator, pelaku industri, dan investor menjadi faktor penting dalam membangun transparansi di pasar modal.

Adapun, Founder & CEO Kitacomm, Henny Lestari, mengatakan selama lebih dari 25 tahun mendampingi perusahaan di pasar modal, pihaknya melihat investor relations memiliki peran strategis sebagai pintu gerbang perusahaan publik dalam membangun kepercayaan investor sekaligus menjaga nilai perusahaan di pasar. 

Ia menambahkan, seiring meningkatnya jumlah perusahaan tercatat di Indonesia, kebutuhan akan praktisi investor relations yang kompeten juga semakin besar. 

Melalui Indonesia Investor Relations Forum yang kini memasuki tahun kedua, pihaknya berharap forum tersebut dapat menjadi wadah untuk mendorong penguatan standar dan pengembangan profesi investor relations di Indonesia.

"Seiring dengan meningkatnya jumlah perusahaan tercatat di Indonesia, kebutuhan akan praktisi investor relations yang kompeten juga semakin besar. Melalui Indonesia Investor Relations Forum yang kini memasuki tahun kedua, kami berharap forum ini dapat menjadi wadah untuk mendorong penguatan standar dan pengembangan profesi investor relations di Indonesia,” pungkasnya.

 

KSEI: Pembaruan Data Investor Pasar Modal Capai 97 Persen

Karyawan melintasi layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan capaian signifikan dalam pembaruan data tipe investor di pasar modal. Hingga saat ini, proses pemutakhiran untuk kategori korporasi dan others telah mencapai 97 persen.

Angka ini menunjukkan hampir seluruh data investor institusional non-individu telah tervalidasi dan diperbarui sesuai standar terbaru.

"Untuk yang granularity tipe investor, saat ini dengan bekerja sama dengan seluruh pelaku serta partisipan, sudah kami berhasil melakukan update 97 persen dari total untuk tipe investor yang korporate dan others," kata Samsul dalam Konferensi Pers, di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Langkah ini merupakan bagian dari implementasi kebijakan transparansi pasar modal yang dicanangkan regulator. Dengan data yang semakin akurat, profil kepemilikan saham di berbagai emiten akan menjadi lebih jelas dan terstruktur. Hal ini sekaligus memperkuat fondasi keterbukaan informasi di industri pasar modal nasional.

KSEI menegaskan, pembaruan dilakukan melalui kerja sama intensif dengan para pelaku industri dan partisipan pasar.

Proses tersebut mencakup verifikasi ulang klasifikasi investor, penyesuaian kategori, serta sinkronisasi data lintas lembaga untuk memastikan validitas informasi.

 

Granularitas Investor Institusi Tembus 93 Persen

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Tak hanya kategori korporasi, pembaruan untuk total investor institusi secara keseluruhan juga telah mencapai 93 persen. Capaian ini dinilai sebagai kemajuan penting dalam meningkatkan granularitas data kepemilikan efek di Indonesia.

"Kemudian 93 persen untuk total investor keseluruhan institusi," ujarnya.

KSEI menargetkan penyediaan data yang telah diperbarui tersebut berdasarkan posisi akhir Maret 2026. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, data akan tersedia dan dapat diakses publik pada awal April 2026.

"Jadi, insya Allah, kami juga sudah akan bisa menyediakan data tersebut berdasarkan komitmen kita adalah data per akhir Maret 2026 dan mudah-mudahan kita bisa sediakan di awal April 2026," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya