Khawatir THR Langsung Habis Usai Lebaran? Ini Trik Mencegahnya

Mengelola THR bukan soal berhemat atau menahan diri dalam mengantur keuangan.

oleh Septian DenyDiterbitkan 21 Maret 2026, 06:00 WIB
Mengelola THR sebenarnya bukan soal berhemat atau menahan diri. (via: istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Setiap menjelang Lebaran, suasana rasanya berbeda. Ada semangat baru, rumah mulai dibersihkan, daftar belanja disusun, grup keluarga makin ramai, dan tentu saja notifikasi Tunjangan Hari Raya (THR) yang ditunggu-tunggu.

THR sering terasa seperti hadiah kecil setelah setahun bekerja keras. Wajar kalau rasanya ingin langsung merayakan dengan belanja berbagai keperluan. Tapi di tengah perayaan itu, ada satu hal yang sering terlupakan, di mana setelah Lebaran usai, hidup tetap berjalan seperti biasa.

Mengelola THR sebenarnya bukan soal berhemat atau menahan diri. Ini lebih tentang menjaga keseimbangan. Lebaran memang momen spesial, jadi tidak ada yang salah dengan membeli baju baru, menyiapkan hidangan favorit keluarga, atau pulang kampung dengan nyaman.

Mengalokasikan sebagian THR untuk belanja Lebaran itu penting, karena momen ini datang hanya setahun sekali. Namun, ketika semuanya terasa perlu untuk dibelanjakan, kita perlu jeda sejenak dan bertanya, apakah ini kebutuhan atau sekadar keinginan sesaat?

Gaya hidup modern sering membuat kita mudah terpengaruh. Media sosial penuh dengan inspirasi hampers cantik, pakaian seragam keluarga, dekorasi rumah estetik, hingga rekomendasi mudik nyaman. Tanpa sadar, standar perayaan jadi terasa lebih tinggi.

Padahal esensi Lebaran bukan pada seberapa mewah tampilannya, melainkan pada kehangatan kebersamaan. Mengatur porsi belanja dengan sadar membantu kita tetap menikmati tren tanpa harus membayar dengan stres finansial setelahnya.

“THR sebaiknya kita maknai sebagai rezeki yang dititipkan, sehingga perlu dikelola dengan tujuan yang jelas. Setidaknya ada empat hal yang bisa menjadi prioritas: ibadah seperti zakat dan berbagi, kebutuhan Lebaran, kebutuhan masa depan melalui tabungan atau investasi, serta proteksi keluarga. Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengumpulkan uang, tetapi juga melindungi apa yang sudah kita kumpulkan," kata Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama, Kamis (10/3/2026).

"Jika pencari nafkah tiba-tiba tidak dapat bekerja, tabungan bisa cepat terkuras. Karena itu, mengalokasikan sebagian THR untuk perlindungan keluarga adalah bentuk tanggung jawab dan ikhtiar kita untuk menjaga dari risiko. Lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang memastikan keluarga tetap aman dan tenang setelah perayaan berlalu," lanjut dia.

Kestabilan Keuangan

Ilustrasi THR. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Vivin mengingatkan, bahwa kestabilan keuangan adalah bagian dari rasa aman yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat terasa dampaknya. Menurutnya, ada strategi sederhana yang bisa diterapkan untuk mengatur keuangan menjelang Lebaran, yaitu dengan formula 50–30–20 (50% dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran termasuk zakat, 30% untuk masa depan dan tabungan, 20% untuk perlindungan finansial seperti dana darurat maupun asuransi).

Pengaturan ini bersifat fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, namun prinsip utamanya tetap sama, yakni menikmati momen saat ini tanpa melupakan pentingnya mengamankan masa depan.

THR dapat menjadi momen untuk evaluasi kondisi finansial. Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas pengeluaran, Lebaran adalah waktu yang tepat untuk memperkuat tabungan atau dana darurat. Ada rasa aman ketika kita tahu bahwa keluarga punya cadangan jika terjadi hal tak terduga, sebagai bentuk cinta nyata kita. Ketenangan seperti ini sering kali lebih berharga daripada barang baru yang hanya memberi kepuasan sementara.

Bagi yang sudah mulai melek finansial, menyisihkan sebagian THR untuk investasi juga bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih tenang. Bukan berarti harus langsung besar, namun konsisten. THR bisa menjadi modal awal atau tambahan untuk aset jangka panjang. Rasanya berbeda ketika kita sadar bahwa sebagian dari uang tersebut sedang bekerja untuk masa depan, entah itu untuk pendidikan anak, rencana liburan impian berikutnya, atau kebebasan finansial untuk memperluas produktivitas.

 

 

Sisihkan Sebagian THR

Tentu saja, Lebaran juga tentang berbagi. Menyisihkan sebagian THR untuk zakat dan sedekah memberi makna lebih dalam pada perayaan. Ada kepuasan batin yang tidak bisa dibeli ketika kita tahu rezeki yang kita terima juga membawa manfaat bagi orang lain. Ini bukan hanya tentang kewajiban, tetapi tentang nilai yang ingin kita tanamkan dalam keluarga, bahwa rezeki terbaik adalah yang juga dibagikan.

Pada akhirnya, mengelola THR adalah bagaimana cara untuk mengoptimalkan dana tersebut untuk beragam kebutuhan tanpa mengorbankan kestabilan setelahnya. Masyarakat tetap bisa tampil rapi, rumah tetap nyaman, dan meja makan tetap terisi, tanpa harus merasa cemas saat melihat saldo rekening di awal bulan berikutnya. Karena Lebaran yang sesungguhnya bukan tentang seberapa banyak yang dikeluarkan, namun seberapa lapang hati saat menjalaninya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya