Cerita Warga Yahudi di Iran: Ada Rasa Takut dan Kesal dengan Serangan AS-Israel

Yosef adalah salah satu dari warga Yahudi di Iran yang menyampaikan rasa takut tersebut.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 10 Maret 2026, 21:30 WIB
Beberapa laporan menyebut, adanya kebakaran besar di fasilitas kilang di ibu kota Iran, Teheran, setelah dihantam serangan udara pada Sabtu 7 Maret 2026 malam. Tampak dalam foto, dua wanita dari Palang Merah Iran berdiri saat kepulan asap tebal dari serangan AS-Israel terhadap fasilitas penyimpanan minyak Sabtu 7 Maret 2026 malam membubung ke langit di Teheran, Minggu, 8 Maret 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Teheran - Perang antara Iran dan Israel menempatkan komunitas Yahudi kecil di Iran dalam posisi yang rumit. Di satu sisi mereka memiliki identitas agama yang sama dengan negara Israel, namun di sisi lain mereka adalah warga negara Iran yang kini hidup di tengah serangan udara dan ketegangan militer.

Yosef, seorang mahasiswa sejarah Yahudi Iran, mengatakan konflik ini memperlihatkan perbedaan mendasar antara Yudaisme sebagai agama dan Zionisme sebagai ideologi politik.

Berbicara kepada Middle East Eye, Yosef menilai Zionisme telah merusak citra Israel di dunia internasional, dikutip dari laman Middleeasteye, Selasa (10/3/2026).

"Zionisme-lah yang merusak reputasi Israel secara global. Saat ini hampir tidak ada gerakan sayap kiri yang berpengaruh di Israel. Persaingan politik justru terjadi antara politisi sayap kanan garis keras dan yang lebih radikal," katanya.

Ia juga mengkritik keras operasi militer Israel di Gaza Strip yang menurutnya akan tercatat dalam sejarah sebagai tragedi besar.

"Apa yang terjadi di Gaza akan tetap diingat. Rasa malu itu akan melekat pada Zionisme dan mereka yang mendukungnya," ujarnya.

Serangan Israel terhadap fasilitas minyak di Iran bahkan membuat langit di atas Tehran gelap oleh asap. Yosef mengaku kecewa melihat sebagian warga Iran justru mendukung langkah Israel.

"Ketika saya melihat beberapa warga Iran mempercayai pidato Benjamin Netanyahu, itu membuat saya sedih. Mereka seharusnya mendengar bagaimana ia berbicara kepada rakyat Suriah, Lebanon, dan Palestina," katanya.

 

 

Tuduhan Penyuapan hingga Penipuan

Bendera Israel berkibar di dekat Gerbang Jaffa di Kota Tua Yerusalem (20/3). Gerbang Jaffa adalah sebuah portal yang dibuat dari batu yang berada dalam deret tembok bersejarah Kota Lama Yerusalem. (AFP Photo/Thomas Coex)

Pandangan serupa disampaikan Sara, seorang pengusaha Yahudi berusia 46 tahun dari Shiraz. Ia secara terbuka menyalahkan Netanyahu atas meningkatnya konflik di kawasan.

"Bahkan di Israel sendiri banyak orang membenci penipu ini," katanya, merujuk pada berbagai kasus hukum yang menjerat Netanyahu.

Pemimpin Israel itu menghadapi tuduhan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan sejak 2019, meski proses persidangannya kerap tertunda karena perang.

"Ya, saya Yahudi. Tetapi saya tidak bisa melihat negara tempat saya lahir dan dibesarkan sebagai musuh saya," kata Sara.

Ia menambahkan bahwa dirinya merasa mampu menilai konflik tersebut secara objektif karena identitasnya sebagai Yahudi sekaligus warga Iran.

"Saya Yahudi dan Iran. Karena itu saya melihat situasi ini tanpa kebencian. Banyak kekacauan di kawasan ini berkaitan dengan kebijakan Netanyahu," ujarnya.

Komunitas Yahudi yang terus menyusutKomunitas Yahudi di Iran telah menyusut drastis sejak Revolusi Iran 1979.

Sebelum revolusi, diperkirakan terdapat antara 70.000 hingga 100.000 orang Yahudi yang tinggal di Iran. Namun setelah hubungan diplomatik antara Teheran dan Israel terputus, banyak yang memilih emigrasi.

Sensus nasional Iran tahun 2016 mencatat jumlah Yahudi sekitar 9.000 orang dari total populasi lebih dari 90 juta penduduk, meskipun sebagian anggota komunitas meyakini angka sebenarnya sedikit lebih tinggi.

Rasa Dilema

Daniel, 52 tahun, seorang pengrajin perhiasan di Tehran, menggambarkan dilema emosional yang ia rasakan.

"Ketika saya melihat rudal menghantam kota-kota Israel, saya sedih. Tetapi ketika saya melihat jet tempur Israel dan Amerika terbang di atas kota saya, saya juga sedih," katanya.

Daniel mengatakan ledakan yang terjadi hampir setiap malam membuat warga sulit tidur.

Ia juga menghindari memberikan komentar politik yang terlalu jelas, sesuatu yang dapat dimengerti mengingat risiko berbicara terbuka tentang konflik di Iran, terutama di tengah perang.

Kemarahan terhadap pemerintah IranDi sisi lain, tidak semua anggota komunitas Yahudi Iran memiliki pandangan yang sama terhadap Israel.

Arash, pemilik restoran berusia 71 tahun di Tehran, mengatakan pembicaraan tentang perang sering kali terasa tidak nyaman.

"Ini perang antara dua negara yang Anda rasa memiliki hubungan dengan Anda," katanya.

Namun ia juga menilai kebijakan Republik Islam Iran turut berperan dalam meningkatnya konflik.

"Pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang pertama kali berjanji menghancurkan pihak lain?" ujarnya.

Meski demikian, Arash menilai sikap masyarakat Iran terhadap komunitas Yahudi justru membaik dalam beberapa tahun terakhir.

"Tingkat kemarahan terhadap Republik Islam sangat tinggi sehingga banyak orang Iran sekarang melihat orang Yahudi sebagai teman," katanya.

Namun ia menegaskan bahwa identitasnya tetap sebagai warga Iran.

"Jangan lupa saya juga orang Iran. Saya sedih karena kebijakan pemerintah telah membawa negara ini ke situasi seperti ini."

Ketakutan akan masa depan

Seiring perang Iran–Israel memasuki minggu kedua, ketidakpastian tentang masa depan semakin meningkat.

Yosef mengatakan kekhawatiran terbesarnya adalah kemungkinan serangan terhadap infrastruktur vital Iran yang bertujuan memaksa pemerintah menyerah.

"Kita harus realistis. Kekuatan militer Israel dan Amerika Serikat berkali-kali lebih besar daripada Iran," katanya.

Meski demikian, ia mengaku hal yang paling ia takutkan bukan hanya suara rudal dan ledakan setiap malam.

"Yang paling saya takutkan adalah jika perang ini berakhir dengan kehancuran negara yang saya cintai," ujarnya.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya