Hidup di Bawah Bayang-Bayang Ancaman Gunung Sampah Bantargebang

Bau menyengat dari timbunan sampah menusuk hidung. Garis polisi berwarna kuning membentang panjang.

oleh Rio Ferdinand Muhammad Eka PutraDiterbitkan 10 Maret 2026, 10:38 WIB
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Bau menyengat dari timbunan sampah menusuk hidung. Garis polisi berwarna kuning membentang panjang. Tak jauh dari gunungan sampah, warga berkerumun menyaksikan proses evakuasi.

Petugas bolak balik mengevakuasi korban longsor gunungan sampah setinggi 50 meter di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa memilukan itu terjadi Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.

Dari kejauhan, timbunan sampah yang tersisa masih menjulang tinggi, hampir setara gedung sekitar 15 lantai. Di tengah kerumunan warga yang menanti kabar pencarian korban, tersirat rasa cemas, takut, sekaligus harapan.

Wajah-wajah mereka tak lepas memandang ke arah alat berat yang terus membongkar lapisan demi lapisan sampah, seolah berharap ada kabar baik dari balik timbunan tersebut.

Di tengah hiruk pikuk aktivitas pencarian korban, warga sekitar tampak masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bagi sebagian dari mereka, longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang bukanlah peristiwa yang benar-benar baru.

Tragedi serupa pernah tercatat pada 2003, ketika longsoran sampah menimpa permukiman di sekitar kawasan TPST. Tiga tahun berselang, tepatnya pada 2006, runtuhnya Zona 3 kembali memakan korban. Dua pemulung dilaporkan meninggal dunia, sementara tiga lainnya mengalami luka-luka.

Rangkaian kejadian itu seakan terus berulang. Pada Januari 2026, landasan di area TPST sempat amblas hingga menyeret tiga truk sampah ke dasar sungai. Dua bulan kemudian, gunungan sampah kembali runtuh dan menelan korban jiwa.

 

Kesaksian Pemulung Nyaris Jadi Korban Longsor

Ayu merupakan salah satu warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sekitar kawasan Bantargebang. Perempuan itu menyaksikan sendiri bagaimana kawasan tersebut berubah sejak TPST Bantargebang mulai beroperasi hampir tiga dekade lalu. Bagi warga seperti dirinya, gunungan sampah di tempat itu bukan sekadar tumpukan limbah, tetapi juga sumber penghidupan.

Sehari-hari Ayu bekerja sebagai pemulung, mencari barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan dari tumpukan sampah. Aktivitas itu sudah menjadi rutinitasnya hampir setiap hari demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat longsor terjadi pada Minggu siang, Ayu sebenarnya sedang berada tidak jauh dari lokasi. Dia tengah bekerja memulung di area pembuangan lain yang letaknya bersebelahan dengan titik runtuhan. Menurutnya, aktivitas di lokasi saat itu masih berlangsung seperti biasa.

Menjelang siang, alat-alat berat masih terlihat naik ke atas gunungan sampah untuk membawa muatan. Beberapa pekerja bahkan sedang beristirahat. Namun tak lama kemudian, sekitar pukul 13.30 WIB, situasi tiba-tiba berubah.

Dari kejauhan, Ayu melihat gunungan sampah setinggi puluhan meter itu bergerak dan perlahan meluncur turun. Tumpukan sampah yang menjulang lebih dari 40 meter itu runtuh begitu saja, meluncur dari atas ke bawah.

“Ya langsung bruk gitu, turun aja ke bawah merosot dari atas, ada lebih 40-an meter tingginya,” kata Ayu sambil mengingat kembali detik-detik longsor tersebut saat berbincang dengan Liputan6.com, Senin (10/3/2026).

Ayu menduga kondisi sampah yang basah akibat hujan deras sejak malam sebelumnya membuat lapisan di bagian bawah menjadi tidak stabil. Ketika timbunan baru terus ditambahkan dari atas, beban yang semakin berat diduga memicu longsoran yang tak terhindarkan.

“Semalaman itu kan dihantam hujan, posisi sampah di bawahnya basah terus dihantam sampah baru, ya merosot,” ujarnya.

Pilu Kehilangan Korban

Ayu mengaku mengenal beberapa korban yang meninggal dalam peristiwa longsor tersebut. Kedekatan itu membuat kabar duka terasa begitu dekat bagi warga sekitar Bantargebang.

Menurutnya, dua korban yang meninggal merupakan perempuan pemilik warung yang sehari-hari berjualan di sekitar area TPST. Keduanya berasal dari Banten dan berusia sekitar 60 tahun dan 25 tahun.

Warung kecil milik korban berada tidak jauh dari lokasi longsor. Tempat sederhana itu selama ini menjadi titik singgah bagi para pekerja dan pemulung yang beraktivitas di kawasan pembuangan sampah.

Di sana, mereka biasa beristirahat sejenak, minum kopi, atau sekadar berbincang setelah bekerja di antara tumpukan sampah.

Bagi Ayu, warung tersebut bukan sekadar tempat membeli makanan atau minuman. Tempat itu juga menjadi ruang pertemuan bagi para pekerja yang saling mengenal satu sama lain. Karena itu, kehilangan orang yang selama ini akrab ditemui dalam keseharian membuatnya merasakan kesedihan yang mendalam.

“Ya gimana ya, rasanya kasihan,” ucapnya.

Tak lama setelah longsor terjadi, proses pencarian korban langsung dilakukan oleh petugas dengan bantuan alat berat. Warga sekitar, termasuk para pemulung, turut membantu sebisa mungkin dalam upaya evakuasi.

Beberapa korban relatif mudah dikenali karena berada di sekitar lokasi warung yang tertimpa longsoran sampah. Selain itu, sebuah truk yang berada di dekat lokasi juga ikut terseret material sampah.

Di tengah situasi duka tersebut, masih ada kabar yang sedikit melegakan. Sopir truk yang berada di lokasi dilaporkan selamat, meski mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan karena tidak dapat berjalan setelah kejadian.

“Alhamdulillah supir mobilnya masih selamat, hanya luka-luka nggak bisa jalan katanya,” kata Ayu.

Hidup di Tengah Ancaman Gunung Sampah

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Desa Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Rio Ferdinand Muhammad Eka Putra/Liputan6.com)

Bagi warga seperti Ayu, bekerja di sekitar TPST Bantargebang bukanlah pilihan yang mudah. Namun pekerjaan itu tetap dijalani setiap hari karena menjadi satu-satunya cara untuk menyambung hidup.

Di balik tumpukan sampah yang menjulang tinggi, mereka mencari barang-barang bekas yang masih bernilai demi memenuhi kebutuhan keluarga. Rasa takut sebenarnya selalu ada, terlebih setelah peristiwa longsor kembali terjadi.

Ayu mengaku kejadian serupa bukan pertama kali dialami warga di sekitar kawasan tersebut. Dalam ingatannya, longsor gunungan sampah sudah beberapa kali terjadi dan selalu meninggalkan kekhawatiran bagi para pemulung maupun pekerja di sana.

Meski demikian, mereka tetap datang setiap hari. Bagi sebagian warga, kawasan pembuangan sampah itu sudah lama menjadi sumber penghidupan yang sulit digantikan.

"Takut sih takut, cuman gimana usahanya tiap hari di sini buat keluarga, udah emang pencaharian kita,” ujarnya.

Ayu juga menilai kondisi gunungan sampah di Bantargebang saat ini sudah jauh melebihi kapasitas. Dari pengamatannya sehari-hari, tumpukan sampah yang terus bertambah membuat kawasan itu terlihat semakin penuh dan rentan.

Namun di tengah kekhawatiran itu, kehidupan tetap berjalan. Bagi Ayu dan banyak warga lainnya, Bantargebang bukan hanya tempat pembuangan sampah, tetapi juga tempat mereka menggantungkan harapan untuk bertahan hidup.

“Kalau dilihat dari kasat mata kan ini udah nggak pantas, nggak layak, iya udah overload,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya