PSIM Yogyakarta Jadi Rumah Kedua Bintang Tajikistan saat Ramadan Jauh dari Keluarga

Pemain asing PSIM Yogyakarta, Rahmatsho Rahmatzoda, mengaku mendapat dukungan besar selama Ramadan.

oleh Rindi AntikaDiterbitkan 11 Maret 2026, 14:00 WIB
Pemain asing PSIM Yogyakarta Rahmatsho Rahmatzoda.

Liputan6.com, Jakarta - Pemain asing PSIM Yogyakarta, Rahmatsho Rahmatzoda menghadapi tantangan emosional karena untuk pertama kalinya harus melewati Ramadan tanpa kehadiran keluarga.

Meski rasa rindu muncul terhadap suasana rumah dan keluarganya di Tajikistan, ia tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan profesinya sebagai pesepak bola sekaligus menjalankan kewajibanya sebagai seorang muslim.

Ia tetap menunjukkan performa terbaiknya bersama Laskar Mataram di BRI Super League yang sedang berjalan.

“Kesan saya sangat positif, saya sangat jatuh cinta dengan negara ini. Saya menyukai semuanya dan saya ingin tinggal di sini untuk waktu yang sangat lama. Menurut saya esensi bulan suci Ramadan di mana pun tetaplah sama,” ucapnya.

Adaptasi Budaya dan Kuliner Lokal

PSIM Yogyakarta berhasil meraih kemenangan 1-0 atas Semen Padang pada laga pekan ke-16 BRI Super League di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Minggu (4/1/2026) sore WIB. Gol tunggal kemenangan PSIM dicetak Ze Valente. (dok. PSIM Yogyakarta)

Selama menetap di Yogyakarta, Rahmatsho mulai terbiasa dengan atmosfer Ramadan di Indonesia yang dikenal sangat meriah.

Ia mencoba berbaur dengan budaya setempat, termasuk dalam hal mencicipi berbagai jenis takjil dan makanan khas Yogyakarta yang banyak dijajakan menjelang waktu berbuka puasa.

Proses adaptasi ini membantunya untuk lebih menikmati keseharian di tengah jadwal latihan yang padat, sekaligus memberinya perspektif baru mengenai bagaimana komunitas muslim di Indonesia merayakan bulan penuh berkah ini dengan penuh suka cita dan kebersamaan.

Profesionalisme di Tengah Kerinduan

Pemain asing PSIM Yogyakarta Rahmatsho Rahmatzoda.

Meskipun secara jujur ia mengakui adanya kesedihan karena tidak bisa melihat wajah keluarganya secara langsung saat santap sahur maupun berbuka, Rahmatsho tetap memegang teguh komitmen profesionalnya sebagai atlet.

“Tentu terasa sulit karena keluarga berada sangat jauh. Namun, sepak bola adalah bagian dari hidup saya, saya harus rela berkorban demi sepak bola.”

Ia memastikan bahwa ibadah puasa tidak menjadi penghalang untuk memberikan kontribusi maksimal dalam setiap pertandingan yang dilakoni PSIM.

Dukungan Lingkungan dari PSIM

PSIM Yogyakarta bermain imbang 2-2 kontra PSBS Biak pada laga tunda pekan ke-8 BRI Super League di Stadion Sultan Agung, Bantul, Senin (29/12/2025) sore WIB. Satu dari dua gol PSIM disarangkan Ze Valente lewat titik putih. (dok. PSIM Yogyakarta)

Faktor kunci yang membuat Rahmatsho mampu bertahan di tengah rasa sepi adalah dukungan moral yang besar dari rekan-rekan setim, manajemen, dan tim pelatih PSIM. Lingkungan internal klub yang hangat dan menjunjung tinggi nilai kekeluargaan membuat pemain asing ini merasa memiliki rumah kedua di perantauan.

Selain itu, sambutan positif dari para pendukung setia menjadi motivasi terbesarnya saat berjuang sendirian di negeri orang.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada para pendukung yang selalu mendukung kami terutama di bulan-bulan seperti ini. Semoga Allah terima semua ibadah puasa kita dan meridai kita semua,” ucapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya