Harga Minyak Hampir Sentuh USD 120, Trump: Harga Kecil untuk Kalahkan Iran

Harga minyak dunia melonjak di atas USD 110 per barel setelah Selat Hormuz ditutup akibat perang Iran dan produsen Timur Tengah memangkas produksi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 09 Maret 2026, 11:00 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah dunia melonjak tajam dan mendekati level USD 120 per barel pada Minggu setelah sejumlah produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi. Langkah tersebut diambil karena jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih ditutup akibat perang Iran.

Lonjakan harga ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Mengutip CNBC, Senin (9/3/2026), Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 26,5 persen atau naik USD 24 menjadi USD 114,9 per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi acuan global naik 23 persen atau bertambah USD 21,56 menjadi USD 114,25 per barel.

Secara mingguan, harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) bahkan melonjak sekitar 35 persen. Kenaikan ini tercatat sebagai lonjakan terbesar dalam sejarah perdagangan kontrak berjangka sejak 1983.

Sebelumnya, harga minyak terakhir kali menembus USD 100 per barel terjadi pada 2022 setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Lonjakan terbaru ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi energi global. Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur ekspor minyak terpenting di dunia saat ini tidak dapat dilalui kapal tanker.

 

Trump Sebut Lonjakan Harga Minyak sebagai “Harga Kecil”

Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon)

Tak lama setelah harga minyak menembus USD 100 per barel pada pembukaan perdagangan Minggu malam, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan komentarnya melalui media sosial Truth Social.

Ia menilai kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi yang harus diterima demi menghentikan ancaman nuklir Iran.

“Kenaikan harga minyak dalam jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran,” tulis Trump.

“Hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya!” tambahnya.

Di sisi lain, beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah mulai memangkas produksi.

Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengumumkan pemotongan produksi sebagai langkah pencegahan.

Kuwait Petroleum Corporation menyebut keputusan tersebut diambil karena adanya ancaman Iran terhadap keamanan kapal yang melintas di Selat Hormuz, meskipun tidak merinci besaran pemotongan produksi yang dilakukan.

 

Gangguan Pasokan Minyak Global Semakin Parah

Penutupan lalu lintas pelayaran yang melalui Selat Hormuz oleh Iran, pasca serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu, berdampak langsung dan signifikan terhadap lonjakan harga minyak dunia. Tampak foto yang menunjukkan tampilan bercahaya harga BBM di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Gangguan pasokan minyak juga terjadi di Irak yang merupakan produsen terbesar kedua di OPEC.

Produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatan negara tersebut dilaporkan anjlok sekitar 70 persen menjadi hanya 1,3 juta barel per hari. Sebelum perang Iran pecah, ketiga ladang tersebut mampu memproduksi sekitar 4,3 juta barel per hari.

Sementara itu, Uni Emirat Arab yang merupakan produsen terbesar ketiga di OPEC juga menyatakan sedang mengatur tingkat produksi minyak lepas pantai untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan.

Menurut perusahaan energi Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), operasi produksi minyak di daratan masih berjalan normal.

Negara-negara Teluk Arab mulai mengurangi produksi karena kapasitas penyimpanan minyak semakin terbatas. Penutupan Selat Hormuz membuat banyak kapal tanker enggan melintasi jalur tersebut karena khawatir diserang Iran.

Padahal sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia dikirim melalui jalur tersebut.

 

Bakal Kembali Normal

Foto menunjukkan tampilan bercahaya yang menampilkan harga BBM di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz diperkirakan akan kembali normal setelah Amerika Serikat berhasil menghilangkan ancaman Iran terhadap kapal tanker.

“Kami tidak terlalu lama lagi sebelum Anda melihat lalu lintas kapal kembali normal melalui Selat Hormuz,” ujar Wright dalam wawancara dengan CNN.

“Saat ini lalu lintas kapal memang belum normal. Itu akan memerlukan waktu, tetapi dalam skenario terburuk hanya beberapa minggu, bukan berbulan-bulan.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya