Liputan6.com, Jakarta - Pada 1990, Jerry Sternin dari Save the Children mendapat tugas berat. Ia diminta mengatasi gizi buruk di Vietnam dalam enam bulan. Para ahli sebelumnya sudah menyimpulkan akar masalahnya sangat kompleks di antaranya kemiskinan meluas, sanitasi buruk, air bersih langka. Bagi Sternin, analisis itu benar tapi tidak berguna karena dia butuh solusi paling cepat.
Dalam pandangan Sternin, anak-anak gizi buruk tidak bisa menunggu negara berbenah. Ia memilih jalan berbeda. Bersama para emak-emak di desa, ia mencari satu pertanyaan sederhana: adakah keluarga sangat miskin yang anaknya justru sehat?
Advertisement
Tanpa disangka jawabannya ada. Di tengah kemiskinan yang sama, beberapa anak tumbuh lebih baik dari tetangganya. Sternin mengajak para ibu mengunjungi keluarga-keluarga itu. Mereka menemukan kebiasaan kecil yang selama ini diabaikan, memberi makan anak lebih sering dalam porsi kecil, dan menambahkan udang kecil, kepiting sawah, serta daun ubi jalar ke dalam masakan. Bahan-bahan murah yang ada di sekitar mereka, tapi selama ini dianggap tidak layak untuk anak kecil.
Solusi bukan datang dari pakar luar. Ia sudah ada di dalam komunitas itu sendiri. Sternin lalu membentuk kelompok memasak harian. Para ibu membawa bahan dari sawah, memasak bersama, memberi makan anak-anak bersama. Mereka tidak sekadar mendengar nasihat. Mereka mempraktikkannya langsung.
Dalam enam bulan, dua pertiga anak kurang gizi di setiap desa membaik. Metode ini kemudian menjangkau 2,2 juta orang di Vietnam, lalu diadopsi di lebih dari 40 negara.
Kisah Sternin ini ditulis dengan memikat dalam buku "Switch" oleh Chip Heath dan Dan Heath. Pendekatan Sternin dikenal sebagai positive deviance. Istilah lainnya adalah brightspot approach. Poinnya, mulai yang kecil, dari yang sudah terbukti dari dalam. Pendekatan ini menarik karena ia memulai bukan dari desain kebijakan besar, tetapi dari praktik yang berhasil di lapangan.
Start Small, Scale Later
Cara berpikir ini mirip dengan pendekatan ilmiah yang kemudian menjadi sangat berpengaruh dalam ekonomi pembangunan modern, yaitu Randomized Controlled Trials (RCT). Metode ini dipopulerkan Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer, hingga membawa mereka dianugerahi Nobel Ekonomi 2019. Dalam buku "Poor Economics", Banerjee dan Duflo yang merupakan suami istri menjelaskan bahwa banyak kebijakan pembangunan gagal karena langsung diluncurkan dalam skala besar tanpa bukti keberhasilan cukup. RCT mencoba mengubah cara kerja itu.
Dalam RCT, sebuah kebijakan diuji terlebih dahulu dalam skala kecil melalui eksperimen lapangan. Sebagian kelompok menerima program, sebagian lainnya tidak, sehingga dampaknya bisa diukur secara objektif. Jika hasilnya positif, program kemudian diperluas. Jika tidak, desainnya diperbaiki atau bahkan dihentikan.
Di sini tampak ada kesamaan antara positive deviance dan RCT. Keduanya sama-sama menolak pendekatan "langsung besar" dalam kebijakan. Keduanya berangkat dari sesuatu yang kecil, dari bukti nyata di lapangan, lalu memperluasnya secara bertahap.
Namun ada juga perbedaan penting. Positive deviance berangkat dari praktik yang sudah berhasil secara alami di dalam komunitas. Ia menemukan solusi yang sudah ada, lalu menyebarkannya. Sementara RCT adalah metode ilmiah untuk menguji apakah sebuah intervensi benar-benar efektif. Namun, keduanya bertemu pada satu prinsip yang sama: mulai dari kecil, belajar dari bukti, lalu memperbesar skala. Prinsip inilah yang sering dirangkum dengan kalimat sederhana, start small, scale later.
Dalam kebijakan publik, pendekatan ini memiliki keuntungan besar. Pertama, ia memungkinkan belajar dari pengalaman nyata sebelum memperluas program. Kedua, mengurangi risiko kesalahan besar yang sering muncul ketika kebijakan diluncurkan dalam skala raksasa tanpa proses pembelajaran.
Menghindari Pemburu Rente
Tidak sulit menemukan beberapa contoh start small, scale later. TransJakarta misalnya, tidak dimulai sebagai jaringan transportasi besar seperti sekarang. Ketika diluncurkan pada 2004, sistem ini hanya memiliki satu koridor dari Blok M ke Kota. Perdebatan mewarnai momen sebelum kemunculan koridor pertama. Saat itu menjadi polemik apakah bus dengan jalur khusus bisa menarik warga Jakarta meninggalkan kendaraan pribadi. Setelah terbukti berhasil di koridor pertama, barulah jaringan diperluas sedikit demi sedikit hingga menjadi sistem BRT terbesar di dunia pada 2026.
Hal mirip terjadi pada Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada 2025, KUR berhasil mengucurkan kredit hampir Rp 300 triliun kepada UMKM dengan lebih dari 40 lembaga keuangan sebagai penyalur resmi. Pada awalnya KUR adalah kebijakan yang melibatkan hanya enam bank pelaksana awal untuk menguji apakah usaha kecil bisa memperoleh kredit dengan risiko terkendali. Realisasi kredit pada 2008 pun baru mencapai Rp 11,8 triliun. Ketika terbukti berhasil, program itu diperluas bertahap.
Contoh lain muncul dari salah satu program sosial terbesar di dunia, Bolsa Familia di Brasil. Pada 1990-an, program ini diawali dengan bantuan tunai bersyarat dalam skala lokal di beberapa pemerintah kota di Brasil. Saat ini program tersebut berhasil menjangkau puluhan juta keluarga miskin dan menelan anggaran puluhan miliar dolar setiap tahun.
Program yang dimulai dari skala kecil biasanya lebih mudah diawasi, lebih transparan, dan lebih berbasis bukti. Sebaliknya, proyek yang langsung dimulai dalam skala besar dengan anggaran raksasa sering kali menciptakan ruang luas bagi perebutan rente oleh berbagai kepentingan yang ingin mengakses dana proyek tersebut.
Ketika anggaran sangat besar disalurkan sekaligus, insentif politik dan ekonomi untuk memperebutkannya juga menjadi besar. Proyek bisa berubah dari solusi publik menjadi ladang kepentingan. Dalam konteks ini, pendekatan seperti positive deviance dan RCT bukan hanya metode pembelajaran kebijakan, tetapi juga mekanisme pengendalian risiko tata kelola.
Memang, perubahan besar jarang lahir dari satu langkah raksasa. Ia biasanya dimulai dari titik terang kecil yang berhasil, dari eksperimen yang terbukti bekerja, lalu diperluas secara bertahap.
Bahkan dalam kasus Sternin, dampak positif masih terasa meskipun program sudah dihentikan. Inilah, pada akhirnya, definisi paling jujur dari sustainabilty, seberapa dalam berakar sehingga bisa hidup tanpa kehadiran yang memulai.
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Liputan6.com
Baca Kolom Penulis Lainnya:
Dulu Lebih Miskin dari Kita, Kini Mengajari Dunia Lewat Pendidikan
Manusia Makhluk Antroposen di Kue Donat