Ciri-Ciri Takjil Mengandung Formalin dan Boraks, Jangan Tertipu

Mi yang tidak mudah putus dan berbau khas kimia merupakan ciri takjil yang mengandung formalin.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 09 Maret 2026, 19:35 WIB
Takjil. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Takjil yang mengandung bahan berbahaya masih ditemukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di sejumlah wilayah di Indonesia.

Pada pemeriksaan 2 ribuan sampel makanan, BPOM menemukan masih ada 48 persen yang mengandung boraks atau formalin atau rhodamin B.

“Melalui metode rapid test kit, petugas menguji 2.888 sampel makanan dan menemukan 48 sampel (1,66%) yang positif mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil rodamin B,” kata Kepala BPOM Taruna Ikrar saat berada di Makassar pada Kamis, 5 Maret 2026.

Formalin ditemukan pada mi kuning basah dan tahu di Tangerang dan Surabaya. Boraks ditemukan pada mi kuning dan lontong di Jakarta, Padang, Denpasar dan Ambon. Lalu, rhodamin B atau pewarna berbahaya ditemukan pada sirup, es cendol dan kerupuk di Jakarta hingga Ambon.

Maka dari itu, Taruna mengingatkan kepada masyarakat untuk jeli dan pintar dalam mengenali ciri-ciri takjil mengandung bahan berbahaya.

“Saya mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan mengenali ciri-ciri pangan berbahaya,” ujar Taruna.

Ciri makanan mengandung formalin kata Taruna, biasanya ditandai pada mi yang tidak mudah putus dan berbau khas kimia.

Ciri makanan mengandung boraks biasanya pada bakso yang amat kenyal.

Ciri makanan mengandung rhodamin B pada makanan seperti kerupuk dengan warna merah mencolok yang berpendar.

Bahaya Formalin, Boraks dan Rhodamin B

Boraks

Mengutip laman BPOM, boraks sebenarnya digunakan untuk mematri logam; pembuatan gelas dan enamel; anti jamur kayu; pembasmi kecoa; antiseptik; obat untuk kulit dalam bentuk salep; campuran pembersih.

Bila menggunakan boraks pada makanan kemudian dikonsumsi itu beracun terhadap semua sel.

"Bila tertelan senyawa ini dapat menyebabkan efek negatif pada susunan syaraf pusat, ginjal dan hati. Ginjal merupakan organ yang paling mengalami kerusakan dibandingkan dengan organ lain," tulis BPOM.

Dosis fatal untuk dewasa berkisar antara 15-20 g dan untuk anak-anak 3-6 g. Bila tertelan, dapat menimbulkan gejala-gejala yang tertunda meliputi badan terasa tidak nyaman (malaise), mual, nyeri hebat pada perut bagian atas (epigastrik), pendarahan gastroenteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan rasa sakit kepala.

Formalin

Formalin digunakan untuk pembunuh kuman sehingga banyak dimanfaatkan sebagai pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian; pembasmi lalat dan berbagai serangga lain,

Namun, pada pedagang nakal yang menambahkan formalin itu bisa mengakibatkan luka korosif terhadap selaput lendir saluran pencernaan disertai mual, muntah, rasa perih yang hebat dan perforasi lambung.

Efek sistemik dapat berupa depresi susunan syaraf pusat, koma, kejang, albuminaria, terdapatnya sel darah merah di urine (hematuria) dan asidosis metabolik. 

 

Rhodamin B

Rhodamin B digunakan sebagai zat warna untuk kertas, tekstil (sutra, wool, kapas), sabun, kayu dan kulit; sebagai reagensia di laboratorium untuk pengujian antimon, kobal, niobium, emas, mangan, air raksa, tantalum, talium dan tungsten; untuk pewarna biologik.

Bila mengonsumsi makanan mengandung rhodamin B, itu bisa menumpuk di lemak sehingga lama-kelamaan jumlahnya akan terus bertambah.

Rhodamin B diserap lebih banyak pada saluran pencernaan dan menunjukkan ikatan protein yang kuat. Paparan rhodamin B dalam waktu yang lama dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan kanker hati.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya