Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menuntut “penyerahan tanpa syarat” setelah satu minggu konflik yang melibatkan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui media sosial pada Jumat (6/3/2026) dan menandai eskalasi tajam dalam perang yang memicu kekhawatiran global.
Advertisement
Trump menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali negara tersebut menyerah sepenuhnya, demikian dikutip dari laman Japan Today, Sabtu (7/3).
“Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN TANPA SYARAT!” tulisnya. Ia juga menyebut setelah itu Iran dapat dipimpin oleh pemimpin baru yang “hebat dan dapat diterima”, dengan dukungan Amerika Serikat dan sekutunya untuk membangun kembali negara tersebut secara ekonomi.
Pernyataan keras itu muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkap adanya upaya mediasi oleh sejumlah negara yang tidak disebutkan namanya untuk menghentikan konflik. Namun, di saat yang sama, serangan militer di kawasan terus berlangsung.
Militer Israel melancarkan serangan baru terhadap target di Iran dan Lebanon. Di Beirut, serangan udara dilakukan setelah perintah evakuasi besar-besaran di pinggiran selatan kota. Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan pusat komando yang digunakan unit angkatan laut Garda Revolusi Iran serta posisi milisi Hezbollah.
Sementara itu, Iran meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi.
Eskalasi konflik juga berdampak pada situasi kemanusiaan di Lebanon. Menurut Norwegian Refugee Council, sekitar 300.000 orang telah mengungsi dalam empat hari terakhir akibat intensitas serangan yang meningkat.
Klaim Israel
Di tengah konflik tersebut, militer Israel mengklaim telah menghancurkan sekitar 80 persen sistem pertahanan udara Iran dan melumpuhkan lebih dari 60 persen peluncur rudalnya pada pekan pertama operasi militer.
Sementara itu, laporan The Washington Post menyebut Rusia diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran mengenai lokasi kapal perang dan pesawat militer AS di Timur Tengah, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Moskow.
Ketegangan geopolitik yang meningkat langsung mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham di Eropa dan Amerika Serikat tercatat melemah setelah pernyataan Trump memicu kekhawatiran bahwa konflik akan berlangsung lebih lama dan berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
Trump sebelumnya juga menyatakan keinginannya agar Washington memiliki peran dalam menentukan pemimpin tertinggi Iran berikutnya setelah kematian Ali Khamenei pada awal konflik. Pernyataan itu mempertegas ambisi Washington untuk memengaruhi arah politik Iran pascaperang.