Mungkinkah Trump Tumbangkan Rezim Iran Hanya dengan Serangan Udara Seperti di Libya?

Trump membeberkan sejumlah tujuan strategis yang menjadi dasar operasi militer di Iran.

oleh Raynaldo Ghiffari LubabahDiterbitkan 05 Maret 2026, 15:18 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari 2026. (Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan paling ambisius terhadap Iran dalam sepekan terakhir. Presiden AS Donald Trump melabeli gempurannya ke Iran itu sebagai Operation Epic Fury atau Operasi Kemarahan Epik.

Sejauh ini, baik AS dan Israel baru menggempur Teheran dengan serangan udara bertubi-tubi. Serangan ini menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei tewas. Meski hingga saat ini, Trump belum mengerahkan pasukan darat untuk mencapai tujuannya.

Di balik serangan besar-besaran Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, Trump membeberkan sejumlah tujuan strategis yang menjadi dasar operasi militer tersebut. Salah satunya untuk mengubah atau mendorong pergantian rezim di Iran.

Dilansir Al Jazeera, Kamis (5/3/2026), Trump tampaknya berharap dapat menggulingkan pemerintahan Iran tanpa mengerahkan pasukan darat AS ke negara tersebut. Namun, para analis mempertanyakan apakah tujuan sebesar itu bisa dicapai hanya melalui serangan udara dan tekanan militer dari luar.

Setelah serangan awal AS dan Israel terhadap Iran, Trump menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran agar mereka mengambil alih pemerintahan mereka sendiri. Ia mengatakan setelah operasi militer selesai, rakyat Iran harus “mengambil alih pemerintah mereka” dan memanfaatkan kesempatan tersebut.

Namun para pakar kebijakan luar negeri menilai perubahan rezim hampir mustahil dicapai hanya dengan kekuatan udara.

Matthew Duss dari Center for International Policy mengatakan bahwa serangan udara bisa merusak infrastruktur atau melemahkan pemerintah, tetapi tidak ada contoh jelas dalam sejarah di mana kekuatan udara saja berhasil menjatuhkan rezim.

"Sebagai perbandingan, kampanye udara NATO di Libya pada 2011 memang membantu menjatuhkan Muammar Gaddafi. Tetapi, keberhasilan tersebut terjadi karena ada pasukan pemberontak di darat yang memimpin pertempuran melawan rezim," ujar Matthew.

Saat ini, meskipun pemerintah AS menyerukan agar rakyat Iran bangkit melawan pemerintah mereka, belum terlihat adanya kekuatan oposisi di dalam negeri yang cukup kuat untuk menantang sistem Republik Islam Iran.

Apakah AS Kirim Pasukan Darat?

Pemerintah AS belum sepenuhnya menutup kemungkinan mengirim pasukan darat ke Iran. Namun langkah itu berisiko tinggi bagi militer AS dan berpotensi memperpanjang konflik, sesuatu yang sebelumnya ingin dihindari Trump.

Perang ini sendiri sudah tidak populer di dalam negeri AS bahkan tanpa pengerahan pasukan darat. Sebuah survei Reuters menunjukkan hanya sekitar seperempat warga Amerika yang mendukung perang tersebut.

Beberapa anggota Kongres juga khawatir bahwa konflik tersebut pada akhirnya akan memaksa Amerika Serikat untuk mengirim pasukan darat guna mencapai tujuan militernya.

Tujuan lain selain pergantian rezim

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat tinggi AS seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyampaikan tujuan yang lebih terbatas dibandingkan pergantian rezim.

Target yang lebih realistis disebut meliputi: menghancurkan program nuklir Iran, menghancurkan program drone dan misil, melemahkan kekuatan angkatan laut Iran.

Namun para analis mengatakan pesan pemerintah AS masih tidak konsisten mengenai tujuan sebenarnya dari perang tersebut. Beberapa politisi oposisi di AS juga menuduh pemerintah Trump tidak memiliki rencana jelas mengenai bagaimana konflik ini akan berakhir.

Serangan awal AS dan Israel terhadap Iran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Setelah itu konflik meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal terhadap aset militer AS dan Israel, serta menyerang target energi dan sipil di kawasan tersebut.

Kelompok sekutu Iran di Irak dan Lebanon juga dilaporkan ikut terlibat dalam konflik. Pemerintah AS menyatakan perang ini tidak akan menjadi “perang tanpa akhir”. Namun waktu penyelesaiannya masih belum jelas.

Trump mengatakan konflik bisa berlangsung empat hingga lima minggu, tetapi juga mengakui bahwa perang dapat berlangsung jauh lebih lama. Para analis menilai sulit menilai apakah operasi militer ini berhasil atau tidak karena tujuan strategisnya sendiri masih belum jelas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya