Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi I DPR Farah Puteri Nahlia mendorong langkah sigap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI beserta Perwakilan RI di Timur Tengah dalam meyikapi eskalasi konflik yang terjadi pasca AS-Irael menyerang Iran.
Menurut dia, respons cepat pemerintah dalam merilis imbauan keamanan, menyiangakan hotline 24 jam, memantau intensif WNI terdampak, hingga mengeluarkan himbauan perjalanan ke kawasan tersebut dinilai sebagai langkah krusial dalam bentuk perlindungan nyata bagi warga negara Indonesia di luar negeri.
Advertisement
"Menyadari besarnya dampak stabilitas dan ancaman krisis kemanusiaan dari konflik tersebut, negara harus selalu hadir di garis terdepan untuk warganya," ujar Farah seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (3/3/2026).
"Tentu kita semua sangat prihatin atas terjadinya konflik ini. Namun yang paling utama dan mutlak saat ini adalah keselamatan warga negara kita. Perlindungan WNI dan rekan-rekan pekerja migran di kawasan terdampak adalah prioritas tertinggi negara," sambung dia.
Selain respons cepat, Farah juga mendorong kesiapan pemerintah dalam merancang skenario perlindungan WNI, mulai dari kematangan rencana evakuasi, peningkatan status kewaspadaan, hingga imbauan penundaan perjalanan ke wilayah konflik mendapat acungan jempol dari parlemen.
"Kita melihat pemerintah sudah menyiapkan skenario kontingensi dan rencana evakuasi yang berlapis. Jadi, jika sewaktu-waktu terjadi eskalasi yang mendadak, kita sudah siap. Saudara-saudara kita di sana pun bisa lebih tenang karena merasa tidak ditinggalkan sendirian," harap dia.
Langkah Pendekatan
Tak hanya soal kesiapan teknis, Legislator dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga mencatat langkah pendekatan yang diterapkan oleh para Duta Besar di negara terkait.
"Langkah mengedukasi masyarakat terkait mitigasi krisis seperti panduan menyusun tas siaga darurat dilakukan dengan cara yang sangat empatik dan memperhatikan kondisi psikologis WNI di perantauan," ucap dia.
"Kami mendengar laporan bahwa ada Dubes kita yang memberikan imbauan kepada warga pada momen menjelang buka puasa. Menurut kami, ini adalah pendekatan yang sangat humanis. Pesannya dapat tersampaikan tanpa membuat warga panik, karena mereka merasa dirangkul secara kekeluargaan," imbuhnya.
Farah yakin, pendekatan tepat dapat menjadi bentuk perlindungan negara. Tidak hanya keselamatan fisik, melainkan juga dukungan psikososial di tengah situasi darurat.
"Pendekatan seperti ini sangat penting. Apabila instruksi keamanan disampaikan dengan cara yang mengayomi, masyarakat kita tentu akan merasa lebih tenang. Secara psikologis, mereka merasa lebih terarah dan benar-benar dilindungi oleh negaranya," dia menutup.