Liputan6.com, Jakarta - Sapto Djojokartiko meluncurkan koleksi Eid 2026 untuk menyambut lebaran tahun ini. Merangkum esensi dari perayaan Idulfitri, koleksi busana lebaran itu merefleksikan perjalanan dari ketenangan menuju pancaran cahaya yang dibentuk oleh keringanan, ketelitian, dan keindahan yang disengaja.
Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, 27 Februari 2026, siluet menelusuri garis-garis memanjang yang tidak membatasi atau membebani. Proporsi A-line dan H-line menciptakan keseimbangan, tenang namun luwes, arsitektural namun lentur. Pakaian luar jatuh dengan mudah dan terkendali, gaun meluncur dengan gerakan terukur, dan pakaian terpisah yang dirancang dengan rapi bertransisi dengan mulus dari pantulan siang hari hingga pertemuan malam hari.
Advertisement
Koleksi ini mengungkapkan dirinya melalui tekstur sebelum ornamen. Lapisan organza, voile, dan tulle menghadirkan udara dan dimensi. Beludru memberikan kedalaman tanpa bobot. Tencel melembutkan struktur dengan sentuhan modern. Setiap tekstil dipilih tidak hanya karena kehalusan visualnya, tetapi juga karena cara tekstil tersebut menempel pada tubuh.
Ornamen juga dihadirkan dengan pertimbangan matang. Dimulai dari Lawung cutwork yang pertama kali diperkenalkan dalam koleksi Ramadan. Motif kelopak bunga dalam bahasa Jawa itu ditafsirkan ulang melalui teknik yang berevolusi: setiap bentuk dilubangi dengan tepat, kemudian dengan cermat diberi tepi dengan bordir, menciptakan permukaan dimensional yang meningkatkan kedalaman dan gerakan.
Pola SAPTOJO Yayi Turanga, Scallop, dan Noni semakin memperindah koleksi ini, memperkuat fondasi kerajinan tangannya. Sulaman mengikuti geometri alami pakaian, dipetakan dengan presisi arsitektural.
Ragam Warna Pendukung Tema Utama
Sulaman benang menangkap cahaya yang bergerak, memungkinkan detail terungkap secara bertahap. Sementara, warna didekati sebagai atmosfer. Oyster, Sahara (putih gading), dan Pampas (abu-abu) membentuk dasar yang tenang.
Coral (salmon) dan Feta (kuning mentega) menghadirkan penerangan lembut. Bijou (biru tua) dan Lava (cokelat) memberikan kedalaman yang menenangkan. Bersama-sama, palet warna mencerminkan irama emosional Idul Fitri. Ketenangan yang ditingkatkan oleh perayaan.
Setiap karya dikembangkan di dalam atelier Maison, dari pembuatan pola awal hingga penyelesaian akhir. Kontinuitas ini menjaga tujuan, memastikan teknik dan emosi tetap tak terpisahkan.
"Untuk Idul Fitri 2026, SAPTO DJOJOKARTIKO tidak mencari kemegahan. Sebaliknya, ia menghargai ketenangan. Sebuah koleksi yang dibentuk oleh pengabdian, disempurnakan melalui keahlian, dan diterangi oleh keanggunan yang meyakinkan," bunyi pernyataan label busana yang berbasis di Jakarta itu.
Mariana Renata Jadi Wajah Koleksi
Koleksi busana lebaran kali ini dihidupkan Mariana Renata. Ia mewujudkan kepekaan anggun dari keindahan Indonesia yang mencerminkan keseimbangan koleksi antara warisan dan penyempurnaan modern.
Diabadikan melalui lensa Ryan Tandya, yang dikenal dengan bahasa visual pahatannya. Karyanya dibedakan oleh kemampuan langka untuk membingkai kekuatan dan kerentanan dalam satu komposisi.
Penataan gaya diarahkan oleh Aldi Indrajaya. Penekanannya pada proporsi, tekstur, dan kohesi naratif selaras dengan disiplin Maison. Bersama-sama, ketiga suara yang berbeda ini membentuk visi tunggal, yang membingkai koleksi dengan kejelasan dan resonansi emosional.