Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah maskapai menghentikan penerbangan menuju Tel Aviv, Dubai, Doha, dan kota-kota lain setelah ruang udara di sebagian besar kawasan Timur Tengah ditutup. Langkah ini menyusul operasi militer yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Qatar Airways menyatakan menghentikan sementara seluruh penerbangan. Maskapai Emirates yang berbasis di Dubai juga mengumumkan penghentian sementara penerbangan dari dan menuju Dubai.
Advertisement
“Kami meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak gangguan ini atas ketidaknyamanan yang terjadi, dan kami membantu mereka dengan penjadwalan ulang, pengembalian dana, atau pengaturan perjalanan alternatif,” kata Emirates dalam pernyataannya, dikutip dari CNBC, Sabtu (28/2/2026).
“Keselamatan dan keamanan penumpang serta awak kami tetap menjadi prioritas utama.”
Berdasarkan data Flightradar24, ruang udara ditutup di atas Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Air India juga mengumumkan penghentian seluruh penerbangan ke Timur Tengah pada Sabtu. Sementara itu, Lufthansa Group menyatakan menangguhkan penerbangan ke Israel, Lebanon, Yordania, Irak, dan Teheran hingga 7 Maret, serta mengalihkan sejumlah rute untuk menghindari wilayah udara terdampak.
Balik Arah dan Dialihkan
Sebuah penerbangan American Airlines dari Philadelphia menuju Doha dilaporkan berbalik arah di dekat Spanyol dan kembali ke Philadelphia pada Sabtu pagi waktu setempat. Beberapa penerbangan Emirates dari Amerika Serikat menuju Dubai juga dialihkan ke berbagai bandara di Eropa.
United Airlines, yang melayani rute ke Tel Aviv dan Dubai, memberlakukan kebijakan keringanan (travel waiver) bagi penumpang yang terdampak penutupan ruang udara.
Penutupan ruang udara ini menambah daftar gangguan penerbangan di kawasan Timur Tengah yang kerap terjadi akibat kekhawatiran keamanan.
Selain pembatalan, maskapai juga harus mengambil rute lebih panjang untuk mencapai tujuan lain yang biasanya melintasi kawasan tersebut, sehingga meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.