Multiplier Effect Gentengisasi: Menambah Pembukaan Lapangan Kerja

Menteri PKP Maruarar Sirait (Menteri Ara) menuturkan, program gentengisasi bukan hanya mengganti atap rumah.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 27 Februari 2026, 22:45 WIB
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) memaparkan dampak berganda (multiplier effect) dari program gentengisasi(Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) memaparkan dampak berganda (multiplier effect) dari program gentengisasi yang diinisiasi atas arahan Presiden Prabowo Subianto. Dia menuturkan, kebijakan tersebut bukan hanya soal mengganti atap rumah rakyat, tetapi juga menggerakkan UMKM, tenaga kerja, hingga sektor pembiayaan.

Ara mencontohkan tiga pengusaha genteng yang masing-masing mempekerjakan 100, 150, hingga 200 pekerja. Namun, kapasitas produksi tahunan mereka, berkisar antara 300 ribu hingga 500 ribu genteng, hal ini dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan satu pengembang saja.

"Untuk satu rumah butuh sekitar 480 genteng. Kalau ada 6.000 rumah, berarti perlu sekitar 2,9 juta genteng. Produksi sekarang belum cukup. Artinya apa? Harus tambah tenaga kerja,” ujar Ara di Briliian Club, Jumat (27/2/2026).

Menurut dia, lonjakan permintaan dari proyek perumahan otomatis mendorong peningkatan kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja baru di sentra-sentra UMKM genteng.

Tak hanya industri kecil, sektor pembiayaan juga ikut terdorong. Bank Rakyat Indonesia (BRI) telah menyiapkan dukungan pembiayaan melalui KUR, sehingga pelaku usaha dapat memperbesar skala produksinya.

Selain itu, Ara menyebut peran BP Tapera dalam mendukung pembiayaan perumahan. Tahun ini, secara nasional ditargetkan pembiayaan sekitar 350 ribu unit rumah, dengan Jawa Barat menyumbang puluhan ribu unit pada tahun sebelumnya.

“Ini sinergi. Masyarakat senang karena rumahnya lebih baik, industri senang karena produksinya naik, pengembang terbantu, perbankan ikut membiayai. Jadi semua bergerak,” katanya.

 

Komitmen Menteri Ara

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menghadiri Rapat Koordinasi Tingkat Menteri terkait Tindak Lanjut Arahan Presiden RI dalam percepatan penanganan bencana. (Dok Kementerian PKP)

Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Menteri Ara) menegaskan komitmennya mendorong program “gentengisasi” sebagai bagian dari peningkatan kualitas hunian rakyat. Program ini, kata dia, merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar rumah masyarakat lebih layak dan tidak panas.

"Hari ini kita bicara soal gentengisasi. Sesuai arahan Presiden Prabowo, karena beliau punya perhatian agar rumah rakyat tidak panas,” ujar Ara usai pertemuan dengan pelaku UMKM genteng di Majalengka.

Pertemuan tersebut mempertemukan tiga pengusaha UMKM genteng, pemerintah daerah setempat, serta dua pengembang perumahan yang dinilai dapat menjadi percontohan. Diskusi yang berlangsung sekitar satu setengah jam itu membahas kesiapan UMKM dalam memasok kebutuhan proyek perumahan.

Ara menegaskan, penggunaan produk UMKM dalam program perumahan harus memenuhi tiga syarat utama. Pertama, kualitas dengan daya tahan minimal 15 tahun. Kedua, aspek estetika. Ketiga, ketahanan terhadap panas dan hujan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya harga yang kompetitif dan kepatuhan terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI). Dalam pertemuan tersebut, disepakati harga genteng sebesar Rp4.300 per unit, sudah termasuk pengiriman ke lokasi proyek.

"Mutu itu penting sekali. Karena itu SNI wajib untuk menjaga kualitas,” tegasnya.

Ia menyebut pemerintah daerah dan pihak terkait akan melakukan pendampingan agar UMKM memenuhi standar SNI. Menurut Ara, kolaborasi antara kementerian, pemerintah daerah, pengembang, dan UMKM menjadi kunci agar program gentengisasi tidak hanya meningkatkan kualitas rumah rakyat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.

Pelajari Program Gentengisasi, Menteri Ara OTW ke Majalengka

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait di Kantor Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Kamis (11/12/2025). (Liputan6.com/Arief)

Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menjelaskan, pemerintah mulai melakukan langkah konkret untuk mempelajari rencana program gentengisasi. Langkah pertama yang dijalankan adalah meluncur ke Majalengka, Jawa Barat, yang dikenal sebagai sentra industri genteng nasional.

Pria yang akrab disapa dengan Menteri Ara ini mengaku telah berkomunikasi langsung dengan jajaran pemerintah daerah setempat, mulai dari bupati, wakil bupati, hingga sekretaris daerah. Ia memastikan akan menurunkan tim dari kementerian untuk melihat langsung kondisi di lapangan.

“Gentengisasi saya sudah izin, komunikasi sama teman-teman di Majalengka. Saya sudah telepon bupatinya, wakil bupati, sekdanya, dan saya akan turunkan tim,” ujar Maruarar di Kantor Kementerian PKP, Senin (9/2/2026).

Ia menegaskan memiliki pemahaman yang cukup mendalam mengenai wilayah Jatiwangi karena Majalengka merupakan daerah pemilihannya selama 15 tahun. Selain itu, Maruarar juga menyebut dirinya kerap berkunjung ke kawasan tersebut, termasuk saat kampanye bersama Presiden Prabowo Subianto pada 21 Januari 2024.

“Jadi Jatiwangi saya tahu betul persis. Saya bolak-balik ke situ, jadi saya ngerti sekali di situ,” katanya.

Dalam kunjungan ke Majalengka nanti, Maruarar berencana bertemu langsung dengan para pengusaha genteng, tenaga kerja, serta melihat secara menyeluruh ekosistem industri genteng yang ada.

“Ya jadi saya akan datang ke sana untuk ketemu pengusahanya gentengnya, tenaga kerjanya, ekosistemnya. Kita sudah punya sedikit kajian,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya