Dipecat karena Tenggak 3 Liter Bir Saat Jam Kerja, Pekerja Spanyol Menang Gugatan

Perusahaan sempat menawarkan karyawan tersebut untuk bayar denda atau dipecat.

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 25 Februari 2026, 18:35 WIB
Ilustrasi minuman alkohol bir. (AP/Tony Talbot)

Liputan6.com, Madrid - Seorang pekerja perusahaan instalasi listrik di Spanyol yang dipecat karena kedapatan mengonsumsi alkohol hingga tiga liter saat jam kerja memenangkan gugatan di pengadilan dan berhak atas kompensasi sekitar 47.000 euro atau setara 55.000 dolar AS.

Putusan tersebut dijatuhkan oleh Pengadilan Tinggi Murcia, yang menilai sanksi pemecatan terhadap pekerja itu tidak proporsional, meskipun mengakui adanya pelanggaran disiplin.

Berdasarkan dokumen pengadilan yang dilaporkan Oddity Central pada Selasa (24/2/2026), karyawan yang identitasnya tidak diungkap mulai menimbulkan kecurigaan atasannya karena perilaku yang dianggap tidak biasa di tempat kerja. Perusahaan kemudian menyewa investigator swasta untuk memantau aktivitasnya selama beberapa hari.

Hasil penyelidikan menunjukkan pria tersebut kerap mengonsumsi minuman beralkohol di bar dan di area parkir saat jam kerja. Dalam satu kejadian, ia tercatat menenggak hingga tiga liter bir saat jam istirahat makan siang.

Bagi perusahaan, tindakan itu tergolong pelanggaran berat. Selain melanggar aturan internal, pekerja tersebut diketahui memiliki tanggung jawab mengoperasikan kendaraan perusahaan. Kebiasaan minum alkohol saat bertugas dinilai berpotensi membahayakan keselamatan dirinya maupun orang lain. Atas dasar itu, manajemen memutuskan untuk memberhentikannya.

Namun alih-alih menerima pemecatan tersebut, sang pekerja menggugat perusahaan dengan dalih pemutusan hubungan kerja dilakukan secara tidak sah.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menyatakan bahwa meskipun pelanggaran terbukti, hukuman berupa pemecatan dinilai terlalu berat dan tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukan. Pengadilan menyatakan pemecatan tersebut sebagai tidak adil.

Sebagai konsekuensi putusan, perusahaan diberikan dua opsi: mempekerjakan kembali karyawan tersebut atau membayarkan kompensasi sebesar 47.000 euro.

Putusan ini memicu perdebatan di Spanyol, terutama terkait batasan antara pelanggaran disiplin berat dan prinsip proporsionalitas dalam sanksi ketenagakerjaan.

Didukung oleh Pengadilan

Ilustrasi hukum, keadilan. (Image by Freepik)

Pengadilan Spanyol mendasarkan keputusannya atas beberapa faktor.

Jam makan siang secara operasional tidak dianggap sebagai jam kerja, sehingga kebiasaan minum nya tidak dianggap sebagai pelanggaran pekerjaan. Lebih lanjut, perusahaan tidak memberikan bukti bahwa minum bir tidak mengurangi kinerja pekerja itu atau bahwa ia pernah membahayakan nyawa orang lain.

Faktor penting lainnya dalam keputusan pengadilan adalah bahwa hukum Spanyol melarang pemecatan karena mabuk sesekali, hanya mengizinkannya dalam kasus kebiasaan minum. Kejadian yang diamati oleh investigator dianggap sebagai episode terisolasi di pengadilan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya