Liputan6.com, Jakarta - Lorong-lorong di Pasar Gembrong Baru tak lagi menyimpan riuh transaksi. Kios-kios berjajar rapi, tetapi sebagian besar tertutup rapat dengan gembok berkarat. Tak ada teriakan pedagang, tak terdengar tawar-menawar pembeli.
Yang tersisa hanya langkah kaki yang bergema, memantul di dinding pasar yang luas namun nyaris kosong. Di tengah hiruk pikuk Jakarta Timur yang terus bergerak, pasar ini seolah berhenti di tempat.
Advertisement
Di tengah laju Jakarta Timur yang tak pernah melambat, Pasar Gembrong Baru justru seperti berhenti di satu waktu.
Bagi para pedagang yang masih bertahan, sunyi bukan sekadar suasana, melainkan kenyataan hidup sehari-hari. Setiap hari mereka membuka kios dengan harapan sederhana, ada satu dua pembeli yang datang, cukup untuk menutup ongkos hari itu.
"Kondisi sekarang memprihatinkan," kata pedagang aksesoris dan mainan, Kikih (47) saat ditemui Liputan6.com, Senin (23/2/2026).
Belasan tahun ia menggantungkan hidup di Pasar Gembrong Baru. Kini, yang bisa dilakukannya hanya menunggu. Di kios lantai dasar miliknya, siang itu hanya satu pelanggan yang datang.
Sang pelanggan memilih beberapa lembar stiker serta beberapa aksesoris mainan kecil lainnya, bertanya harga, lalu membayar sambil berbincang sebentar. Setelah itu, ia melangkah pergi, menyusuri lorong pasar yang kembali sunyi.
Bagi Kikih, satu transaksi kecil seperti itu bukan lagi hal sepele. Di tengah omzet yang terus menurun dan jumlah pengunjung yang kian menyusut, kehadiran satu pembeli menjadi penanda bahwa kiosnya masih bernapas, meski pelan.
Pasar Gembrong Baru Kian Ditinggalkan
Sejak awal direlokasi dari Pasar Gembrong Lama, Kikih dan pedagang lain mencoba bertahan. Namun Pandemi Covid-19 menjadi pukulan telak yang mempercepat kepergian banyak pedagang.
"Dari tahun 2000an, di sini aja udah 14 tahun, relokasi dari Pasar Gembrong Lama ke Gembrong Baru," ungkap Kikih.
"Dulu di Pasar Gembrong Lama agak lumayan, dulu kan sebelum Covid, lebih mending disana, jauh bedanya sama sekarang," sambungnya.
Kikih mengenang masa-masa sebelum pandemi sebagai periode yang masih memberi ruang bernapas bagi pedagang kecil. Kini, hampir setiap hari ia menghadapi kenyataan pahit, pembeli jarang, sementara kebutuhan hidup tak bisa menunggu.
"Dagang lagi sepi, omzetnya drastis turunnya, habis Covid langsung turun," jelasnya.
Sewa kios harus tetap dibayar, meski pemasukan tak sebanding. Banyak pedagang akhirnya memilih angkat kaki, meninggalkan kios kosong yang kini mendominasi lorong pasar.
"Sewanya 6 Bulan Rp 4 juta, banyak yang kosong sekarang, ekonominya, dulu banyak yang isi disini," tutur Kikih.
Dia merasakan betul tekanan itu. Ia mengaku bertahan bukan karena untung, melainkan karena tak ada pilihan lain.
"Untuk sewa murahlah, kalau dibilang menutup sih enggak, kebanyakan nomboknya, bertahan aja juga udah Alhamdulillah sebenarnya ini," cerita Kikih.
Bagi Kikih, bisa bertahan saja sudah dianggap pencapaian. Setiap barang yang terjual hanya memberi margin kecil, nyaris tak terasa jika dibandingkan dengan tenaga dan waktu yang dicurahkan.
Ia mengaku belum berani beralih ke penjualan daring. Bagi pedagang kecil sepertinya, sistem online justru terasa rumit dan berisiko.
"Enggak jual online, bingung juga kalau lewat online, potongan nya juga besar," kata dia.
Andalkan Langganan
Selama ini, Kikih mengandalkan pelanggan setia, para pedagang mainan gerobak yang biasa berjualan di sekitar sekolah. Mereka datang membeli stok dalam jumlah kecil, sekadar untuk menyambung usaha masing-masing.
Namun, pelanggan itu pun kini semakin berkurang. Banyak yang memilih banting setir karena kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik.
"Langganan dari pedagang-pedagang di gerobak, yang biasa mangkal di sekolah-sekolahan," katanya
"Cuman pedagang gerobak mainan kaya gitu udah rada berkurang, karena sepi juga, pada banting setir jadi penjual makanan, kuli bangunan, yang kerja pasti-pasti aja mereka," sambungnya.
Rito (50), misalnya, masih rutin datang untuk belanja stok. Baginya, Pasar Gembrong Baru tetap menawarkan variasi barang yang sulit ditemukan di tempat lain.
"Udah biasa beli disini, langganan, kalau untuk harga sama aja, relative tergantung, cuman disini banyak pilihan variasi nya," ujar Rito saat ditemui di lokasi.
Hal serupa disampaikan Yana (55), pedagang mainan warung kecil yang sesekali datang berbelanja.
"Penjual mainan, di warung gitu, untuk harganya Alhamdulillah sih murah," katanya.